Monthly Archives: May 2009

Merantau Ke Deli

Dari dulu sampai sekarang, orang merantau berharap mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada hidup di kampung halamannya. Tetapi tak semua beruntung. Jika sekarang Jakarta menjadi tujuan orang merantau, maka dahulu Deli petidak bernah menjadi tujuan karena majunya perkebunan disana. Tentunya, jaman telah berubah, namun semangat merantau untuk perubahan nasib menjadi lebih baik tak pudar dimakan jaman.
Dari Jawa atau dari Minangkabau ke tanah Deli, sekarang tidaklah “merantau” lagi. Bahkan dari Sabang sampai Merauke pun kita tidak merantau lagi. Tetapi dengan membaca “Merantau ke Deli” anak keturunan yang datang di belakang akan dapatlah merenung, betapa telah jauhnya jalan yanng telah kita tempuh. Maka berusahalah mereka memeliharanya dan membuatnya lebih besar dan besar lagi …
-Hamka-Buku ini menceritakan kehidupan perantau di Deli, kisah Poniem yang berasal dari Jawa, yang dijanjikan untuk dinikahi namun ternyata dijual untuk menjadi buruh di perkebunan Deli kemudian menjadi gundik mandor perkebunan. Namun akhirnya dinikahi oleh Leman seorang pedangang kelontong yang berasal dari Padang. Awal kehidupan mereka terdapat perbeadaan suku Padang dan Jawa. Namun pada akhirnya mereka dapat mengatasi perbedaan itu dan dengan modal dari istrinya mereka dapat membuka toko dan perniagaannya semakin berkembang. Setelah empat tahun pernikahan, mereka pulang ke kampung halaman, pada saat pulang itulah orang-orang di kampung kagum akan perangai dari Poniem namun tetap disayangkan bahwa Poniem bukanlah orang awak. Sanak kerabat dari Leman berusaha untuk menjodohkannya dengan orang sekampungnya, dan Lemanpun tertarik kepada Mariatun dan akhirnya menikahinya. Poniem meskipun merasa sakit hatinya berusaha menguatkan diri untuk menerima istri muda suaminya. Namun semakin berjalannya waktu Poniem tidak bisa bersabar atas kelakuan istri mudanya Leman. Sampai pada suatu waktu Leman menceraikan Poniem, meskipun dia pernah berjanji tidak akan menceraikannya ketika meminta izin untuk menikah kembali. Kehidupan Leman bahagia sepeninggal Poniem apalagi ketika dikaruniai anak, perniagaannya juga semakin maju, namun bukan barang-barangnya bukan kepunyaan sendiri, namun meminjam. Peniagaan lama-lama menurun dikarenakan modalnya sedikit demi sedikit diambil untuk membuat rumah dan membeli sawah di kampung. Sampai akhirnya kepemilikan toko beralih ke orang lain, leman dan keluarga hidup di rumah petak dan berjualan keliling dengan sepeda. Meskipun istrinya memiliki banyak perhiasa emas namun tak dipakai untuk membantu suaminya, seperti yang pernah dilakkukan oleh Poniem. Sementara, Poniem pergi ke Medan bersama dengan Suyono (seorang buruh yang membantu pernigaaan mereka selama ini). Mereka akhirnya menikah dan tetap bekerja keras seraya menabung, kemudian mengangkat anak bernama Maryam yang merupakan anak tetanngganya. Atas usaha mereka, mereka bisa membeli sebuah rumah di Deli, dan bertemu kembali dengan Leman. Roda telah berputar. Dan meskipun Leman telah sangat menyakiti hati Poniem, Poniem berbesar hati untuk memaafkannya.
Buku ini menceritakan kondisi buruh perkebunan, yang tentunya meskipun ditulis sebelum perang dunia kedua, masih relevan dengan zaman sekarang. Kesengsaraan para buruh, cerita buruh wanita di perkebunan. Buku ini juga menggambarkan ketidaksetujuan Hamka terhadap adat Minangkabau yang cenderung merugikan kaum lelaki. Mereka bersusah payah di rantau, membangun rumah dan membeli sawah namun tak punya hak tinggal disitu, masa tua dihabiskan di surau.
Dari buku ini saya belajar bahwa tidak baik menggugu nafsu, kisah Leman untuk menikah lagi dikarenakan nafsu pada dirinya, membuang masa-masa yang indah bersama Poniem, istri yang selama ini sangat setia juga tidak tercela perilakunya. Dan penyesalan selalulah datang terlambat.
Juga jangan gampang untuk berjanji, akan berat sekali akibatnya ketika tidak ditepati. Leman yang berjanji demi Allah akan setia pada Poniem, juga janjinya untuk tidak menceraikannya. Ternyata semua janjinya itu tak bisa dipenuhi.

Tiga kali kita menyebrangi hidup, apabila ketiga kalinya telah tersebrangii dengan selamat, bahagialah kita. Pertama hari kelahiran, hari suci. Kedua hari pernikahan, hari bakti. Ketiga hari kematian, hari yang sejati. (hal.17)
Majulah ke muka, tempuhlah lautan Bahrullah yang luas itu, beranikan hati mennghadapi gelombang yang bergulung-gulung. Karena dengan bermain ombak dan membiasakan menempuh gelora itu makanya penyakit mabuk laut akan hilang. Pada tiap-tiap bertemu dengan suatu kesusahan dan suatu halangan di dalam bahtera rumah tangga, itu adalah ujian; bila sampai ke sebaliknya tertegak pulalah sebuah tiang yang teguh dan sendi yang kuat, untuk membina rumah kecintaan itu. Dimana letak keberuntungan kalau bukan dalam hati? (hal.32)
Adapun sebab-sebab yang menimbulkan rasa beruntung di dalam hati, adalah rasa percaya mempercayai di dalam rumah tangga, di antara suami dengan istrinya, demikian juga kaum kerabat sekalian. Keberuntunngan yang demikian itu tidak dapat dihargai dengan uang, dan tidak dapat dinilai dengan barang.(hal.34)
Kerapkali kita tertipu dengan orang-orang tua yang membawa rambutan beberapa jerat pagi-pagi dari kampungnya yang jauh, mengayuh kereta angin berpayah-payah. Janganlah kita sangka bahwa mereka itu golongan miskin. Kadang-kadang karena hematnya, dan karena cita-citanya itu, bergulung-gulung uang kertas yang asalnya dari ketip, ketip menjadi uang tengahan, tenngahan menjadi rupiah, dan bila cukup uang rupiah itu sepuluh buah, ditukarkan kepada uang kertas. Bertahun-tahun kemudian, barulah urang itu keluar dari penaruhan, kadang-kadang untuk belanja ke Mekkah, dan kadang-kadang untuk belanja kenduri kematiannya. (hal.129)
Meskipun mereka menderita payah, tetapi mata mereka hidup. Tidak ada debar dan goncang jantung, melainkan berjalan terus menuju maksud. (hal.129)
“Makan sirih ujung-ujungan
kurang kapur tambahi ludah
Tanah Deli untung-untungan,
hidup syukur mati pun sudah….”
(Hal.157)

Advertisements
Tagged , ,