Monthly Archives: January 2011

Dwilogi Impian dan Cinta


Judul : Dwilogi Padang Bulan:Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas
Penulis : Andrea Hirata
Penyunting :
Pewajah Isi :
ISBN :  9786028811095
Halaman : Padang Bulan:254 dan
Cinta di Dalam Gelas:270
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan :  Pertama, Juni 2010

Riview Padang Bulan

Hujan membasahiku. Kurentangkan kedua tangan lebar-lebar. Aku menengadah dan kepada langit kukatankan: Ini aku! Putra ayahku! Berikan padaku sesuatu yang besar untuk kutaklukkan! Beri aku mimpi-mimpi yang tak mungkin karena aku belum menyerah! Takkan pernah menyerah. Takkan pernah!

Cerita tentang Enong yang bercita-cita menjadi guru bahasa Inggris, harus menunda impiannya karena ayahnya meninggal saat kelas 6 SD. Sebagai anak tertua, meskipun perempuan, dia merasa bertanggung jawab untuk mengambil peran sang ayah sebagai pencari nafkah agar adik-adiknya tak putus sekolah seperti dirinya. Enong, menjadi pendulang timah perempuan pertama… Meskipun hidup terasa berat, namun kado terakhir dari ayahnya menguatkannya dan juga membuat dirinya tak melupakan impiannya menjadi guru bahasa Inggris.

Buku ini untuk anakku, Enong
Kamus satu miliar kata.
Cukuplah untukmu sampai bisa menjadi guru bahasa Inggris seperti Ibu Nizam
Kejarlah cita-citamu, jangan menyerah, semoga sukses.

Disisi lain, kisah seorang pemuda yang rela memusuhi ayahnya yang dicintainya demi cintanya pada seorang wanita. Meskipun pada akhirnya dia menyadari telah membuat kekeliruan dan kembali pada keluarganya. Pemuda itu adalah Ikal, Ikal yang berusaha untuk mewujudkan impiannya agar dapat bersama A Ling. Usaha yang dilakukan itu mengundang tawa…konyol sekali yang dilakukan ikal..ditambah lagi dengan kelakuan sahabatnya detektif M.Nur. Pertemuannya tak sengaja dengan Enong di kantor Pos, dan keinginan Enong untuk bisa menguasai bahasa Inggris dengan mengikuti sebuah kursus, membuat Ikal tak menyerah terhadap Zimar yang dikabarkan bertunangan dengan A Ling… dan selebihnya kisah konyol Ikal melawan Zimar untuk mengambil hati A Ling.

Suka puisi-puisi yang diselipkan oleh Andrea Hirata di tengah-tengah bab 🙂 ditambah lagi  buku ini cukup menghibur.
Hanya saja.. sedikit kecewa..ketika awal membaca buku ini, saya kira buku ini akan menceritakan lebih kepada perjuangan Enong untuk mewujudkan impiannya, ternyata lebih tersorot kepada perjuangan Ikal untuk mewujudkan cinta gilanya terhadap A Ling.

Ketika awal cerita, saya menangkap betapa kedua tokoh (Enong dan Ikal) sangat mencintai dan mengagumi Bapak mereka..  Namun ketika Ikal kembali ke rumah, kok tidak muncul ayahnya…hanya ada Ibunya..hanya bisa bertanya-tanya dalam hati kemana yaaa ayahnya Ikal.. *atau saya melewatkan sesuatu*

Riview Cinta di Dalam Gelas

Meskipun ga suka kopi dan ga (belum) tertarik dengan permainan catur, namun masih menikmati cerita di buku ini, karena dari buku ini saya bisa mengetahui budaya melayu dan terutama karena kisah Enong yang membuat saya bertahan.

Semangat Enong yang pantang menyerah dalam mempelajari catur dan mendobrak tradisi yang memungkinkannya melawan laki-laki dalam pertandingan catur dan akhirnyaaa segala usahanya itu berbuah manis 🙂

Meskipun hal-hal buruk yang terjadi dalam hidupnya, namun Enong aka. Maryamah Karkov terus berjalan, melanjutkan hidupnya, mencapai impiannya… Bagi yang penasaran atas novel tetralogi Andrea Hirata berjudul Maryamah Karkov disinilah kita akan menemukan jawabannya.
Ketika Ibunya meninggalpun…dia tetap tegar..
Habis air mataku, lunas sudah kesedihan itu. Hidup harus berlanjut. Tantangan ada di muka. Masih banyak yang dapat disyukuri.

Lalu apa yang terjadi dengan lkal? Hal-hal konyol dilakukannya demi cintanya pada A-Ling.

Quotes dari buku ini yang saya suka:

Bagiku, warung kopi adalah laboratorium prilaku, dan kopi bak ensiklopedia yang tebal tentang watak orang. (70)

Beri aku pelajaran yang paling sulit sekalipun, Boi. aku akan belajar. (102)

Belajar adalah sikap berani menantang segala ketidakmungkinan; bahwa ilmu yang tak dikuasai akan menjelma di dalam diri manusia menjadi sebuah ketakutan. Belajar dengan keras hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang bukan penakut. (103)

Melalui Maryamah, aku belajar untuk menaruh hormat pada orang yang menegakkan martabatnya dengan cara membuktikan dirinya sendiri, bukan dengan membangun pikiran negatif tentang orang lain. (250)

Tagged , ,

Bunga dan Wanita

Judul

:

Warna Tanah, Colour Trilogy #1

Penulis : Kim Dong Hwa
Penterjemah : Rosi L. Simamora
Pewajah Isi :
ISBN :
9789792259278
Halaman : 320
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I , 2003

“Bunga dan wanita tak ada bedanya. Wanita juga merekah. Kau bisa melihat tanda-tandanya. Melihat bagaimana tubuhnya berayun seperti ranting-ranting lentur pohon dedalu di bulan Juni”

Seringkali saya selalu bertanya-tanya kenapa perempuan suka dengan bunga dan seringkali dianalogikan dengan bunga. Ternyata saya mendapatkan jawabannya dalam buku ini.

Kisah tentang seorang anak bernama Ehwa yang beranjak tumbuh dewasa bersama seorang Ibunya yang janda dan berprofesi sebagai penjaga kedai teh. Berbagai pertanyaan Ehwa tentang seksualitas dijawab dengan bijak oleh Ibunya. Bagaimana Ehwa mulai mengenal dirinya sebagai seorang perempuan yang berbeda dengan teman sepermainannya yang laki-laki, Ehwa juga mulai memahami Ibunya yang merindukan cinta, mulai mengenal cinta pertama, dan harus memilih diantara cinta pertamanya terhadap seorang biksu muda Buddha bernama Chung Myung dan tuan muda Sano yang berpendidikan.
Dalam novel grafis ini, saya tidak hanya dimanjakan dengan gambar-gambar indah khas Korea namun juga dilengkapi dengan metafora bahasa yang berbunga-bunga. Tentunya perumpaan bunga dan wanita

Dimana Ibunya Ehwa suka dengan buah Labu,


“Dari jutaan bunga di dunia, tak ada yang seperti bunga labu. Bunga labu merekah hanya ketika semua orang telah tertidur. Menghias dirinya dengan warna putih yang diciptakan debu bulan, bunga labu dengan penuh hasrat menantikan kekasihnya sepanjang malam. “

Sedangkan Ehwa dianalogikan sebagai bunga hollyhock.
“Ia menjelma jadi sekuntum bunga, menggetarkan udara. Mulai sekarang, setiap kali basah kuyup oleh hujan, tubuhmu akan merekah bagaikan kelopak merah jambu bungahollyhock”

Namun, pertemuannya dengan biksu muda, membuat Ehwa menyukai bunga tiger lily.

“Tiger lily adalah satu-satunya bunga yang dengan senang hati menghadap ke arah matahari dan mekar meskipun tidak ada siapa-siapa di sekatnya untuk menyaksikan.”

Lalu… perumpaan bunga kamelia…
“Kamelia benar-benar bunga yang tahan cuaca. Mereka nyaris kelihatan seolah-olah begitu tak sabar menantikan seseorang. Namun mereka sangat lelah dengan penantian itu hingga berubah jadi merah. Itu sebabnya Kamelia juga bunga yang konyol – kamelia satu-satunya bunga yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Tak peduli betapa indah bunga kamelia menghias dirinya, tak satu pun kupu-kupu akan mendarat di kelopaknya, bahkan sampai kuntum bunga terakhir telah merekah. Ketika kupu-kupu keluar, bunga-bunga ini sudah terlelap. Sebab hanya ketika kupu-kupu tertidur bunga-bunga ini menjadi hidup.”

Tiba-tiba saya teringat teman perempuan saya yang tidak menyukai bunga, ketika Ibunya Ehwa mengatakan, “Kalau kau tahu-tahu menyukai bunga, itu artinya ada rahasia di dalam hatimu.” Yah, mungkin teman saya tidak menyukai bunga karena belum menemukan bunga yang ia sukai, namun suatu hari nanti mungkin ia akan menemukan bunga yang ia sukai. 😀


Lalu… bunga apa yang aku sukai??
Belum tahu… tapi…
“Tunggu dan lihat saja. Baik dalam hujan maupun salju, aku akan menjadi bunga yang indah dan wangi.”

Buku ini, merupakan buku yang indah kerena penuh dengan metafora juga gambar yang memanjakan mata. Penasaran dengan kelanjutan dari trilogi buku ini 🙂

Tagged , , ,

Hal-hal kecil yang menjadi perubahan besar

Judul : Tipping Point
Penulis : Malcolm Gladwell
Penterjemah :
Penyunting
:
ISBN : 9789792201024
Halaman : 350
Penerbit : Gramedia
Cetakan : I, September 2003

Buku ini mengungkapkan kisah-kisah bagaimana sebuah epidemi bisa mewabah di masyarakat. Dalam bukunya, Malcom Gladwell menyebutkan bahwa suatu perubahan terjadi karena satu (atau dua atau tiga) unsur perubahan yaitu Hukum yang sedikit (the Law of the Few), Faktor kelekatan (the Stickness Factor) dan kekuatan konteks (the power of context).

Keberhasilan suatu epidemi sosial dengan usur perubahan hukum yang sedikit sangat bergantung pada keterlibatan orang-orang yang memiliki keterampilan sosial seperti para penghubung (connectors, para bijak bestari (meaven, dan para penjaja (salesement.

Menarik karena dalam buku ini, diberikan contoh-contoh epidemi yang mewadah karena berbagai unsur perubahan yang terjadi. Dari berbagai contoh, yang menarik bagi saya adalah bagaimana mengatasi kajahatan di kereta bawah tanah New York dengan hanya menghapus grafiti dinding. Tampak suatu hal yang kecil, namun kejahatan yang besar justru berawal dari kejahatan yang kecil. Dan peanggulangan terhadap kejahatan yang kecil tersebut tenyata berdampak besar. Mungkin Indonesia juga bisa menerapkan semacam ini, dari segudang permasalahan yang ada, selesaikan permasalahan yang kecil.. bisa jadi dampaknya akan besar.
Kemudian ulasan tentang epidemi merokok di kalang remaja, cukup menginspirasi.. alih-alih memerangi proses coba-coba sebaiknya mengusahakan agar coba-coba tersebut tidak berakibat serius.

Dalam, akhir bab bukunya, Malcom Gladwell kembali menegaskan bahwa tipping point adalah penegasan kembali tentang adanya potensi untuk berubah dan dahsyatnya suatu langkah yang tepat. Coba perhatikan dunia sekitar Anda. Kelihatannya seperti mustahil dirubah, mustahil digoyah. Sesungguhnya tidak demikian Dengan dorongan seringan-ringannya-asal di tempat yang tepat-apa pun dapat kita ungkit.

Saya berfikir seandainya Malcom Gladwell tinggal di Indonesia, mungkin bahasan bukunya akan lebih kaya dan menarik dengan mebedah membedah penyakit akut yang melanda negeri ini,dan memberikan solusi tipping point atas permasalahan sosial yang dihadapi 😀

Tagged