Bunga dan Wanita

Judul

:

Warna Tanah, Colour Trilogy #1

Penulis : Kim Dong Hwa
Penterjemah : Rosi L. Simamora
Pewajah Isi :
ISBN :
9789792259278
Halaman : 320
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I , 2003

“Bunga dan wanita tak ada bedanya. Wanita juga merekah. Kau bisa melihat tanda-tandanya. Melihat bagaimana tubuhnya berayun seperti ranting-ranting lentur pohon dedalu di bulan Juni”

Seringkali saya selalu bertanya-tanya kenapa perempuan suka dengan bunga dan seringkali dianalogikan dengan bunga. Ternyata saya mendapatkan jawabannya dalam buku ini.

Kisah tentang seorang anak bernama Ehwa yang beranjak tumbuh dewasa bersama seorang Ibunya yang janda dan berprofesi sebagai penjaga kedai teh. Berbagai pertanyaan Ehwa tentang seksualitas dijawab dengan bijak oleh Ibunya. Bagaimana Ehwa mulai mengenal dirinya sebagai seorang perempuan yang berbeda dengan teman sepermainannya yang laki-laki, Ehwa juga mulai memahami Ibunya yang merindukan cinta, mulai mengenal cinta pertama, dan harus memilih diantara cinta pertamanya terhadap seorang biksu muda Buddha bernama Chung Myung dan tuan muda Sano yang berpendidikan.
Dalam novel grafis ini, saya tidak hanya dimanjakan dengan gambar-gambar indah khas Korea namun juga dilengkapi dengan metafora bahasa yang berbunga-bunga. Tentunya perumpaan bunga dan wanita

Dimana Ibunya Ehwa suka dengan buah Labu,


“Dari jutaan bunga di dunia, tak ada yang seperti bunga labu. Bunga labu merekah hanya ketika semua orang telah tertidur. Menghias dirinya dengan warna putih yang diciptakan debu bulan, bunga labu dengan penuh hasrat menantikan kekasihnya sepanjang malam. “

Sedangkan Ehwa dianalogikan sebagai bunga hollyhock.
“Ia menjelma jadi sekuntum bunga, menggetarkan udara. Mulai sekarang, setiap kali basah kuyup oleh hujan, tubuhmu akan merekah bagaikan kelopak merah jambu bungahollyhock”

Namun, pertemuannya dengan biksu muda, membuat Ehwa menyukai bunga tiger lily.

“Tiger lily adalah satu-satunya bunga yang dengan senang hati menghadap ke arah matahari dan mekar meskipun tidak ada siapa-siapa di sekatnya untuk menyaksikan.”

Lalu… perumpaan bunga kamelia…
“Kamelia benar-benar bunga yang tahan cuaca. Mereka nyaris kelihatan seolah-olah begitu tak sabar menantikan seseorang. Namun mereka sangat lelah dengan penantian itu hingga berubah jadi merah. Itu sebabnya Kamelia juga bunga yang konyol – kamelia satu-satunya bunga yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Tak peduli betapa indah bunga kamelia menghias dirinya, tak satu pun kupu-kupu akan mendarat di kelopaknya, bahkan sampai kuntum bunga terakhir telah merekah. Ketika kupu-kupu keluar, bunga-bunga ini sudah terlelap. Sebab hanya ketika kupu-kupu tertidur bunga-bunga ini menjadi hidup.”

Tiba-tiba saya teringat teman perempuan saya yang tidak menyukai bunga, ketika Ibunya Ehwa mengatakan, “Kalau kau tahu-tahu menyukai bunga, itu artinya ada rahasia di dalam hatimu.” Yah, mungkin teman saya tidak menyukai bunga karena belum menemukan bunga yang ia sukai, namun suatu hari nanti mungkin ia akan menemukan bunga yang ia sukai. 😀


Lalu… bunga apa yang aku sukai??
Belum tahu… tapi…
“Tunggu dan lihat saja. Baik dalam hujan maupun salju, aku akan menjadi bunga yang indah dan wangi.”

Buku ini, merupakan buku yang indah kerena penuh dengan metafora juga gambar yang memanjakan mata. Penasaran dengan kelanjutan dari trilogi buku ini 🙂

Advertisements
Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: