Monthly Archives: March 2011

Jurang mendalam antara Ibu dan Anak

Judul

:

Entrok

Penulis : Okky Madasari
Penyunting :
Pewajah Isi :
ISBN :  9789792255898
Halaman : 282
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan :  Pertama, 5 April 2010

Duh, Gusti Allah, kalau memang Kau maha mengetahui, Kau pasti tahu tak ada niatku untuk tidak menyembahMu, untuk menjadi berbeda dengan anakku dan orang-orang lain itu. Tapi bagaimana aku bisa menyembahMu kalau kita memang tidak pernah kenal?

Marni, merasa sangat sedih dan sakit hatinya ketika di cap oleh anaknya yang bernama Rahayu sebagai pendosa. Padahal dia menyekolahkan tinggi-tinggi anaknya bukan untuk memusuhinya ataupun membuat jurang perbedaan diantara mereka semakin lebar. Dia hanya ingin anaknya bisa hidup lebih baik darinya. Sejak kecil Marni hidup susah, karena Ibunya bekerja sebagai buruh di pasar yang dibayar dengan bahan makanan sedang Bapaknya tak diketahui kemana rimbanya. Karena impian Marni yang sederhana untuk bisa memiliki entrok (bra) lah yang membuat hidupnya berubah menjadi lebih baik. Untuk menggapai mimpinya itu, Marni mengikuti Ibunya kerja di pasar sebagai buruh kemudian menjadi kuli panggul agar mendapatkan upah dalam bentuk uang. Saat itu, hanya dirinya lah satu-satunya perempuan yang bekerja sebagai kuli panggul dan menjadi pendobrak adat sebagai perempuan yang diupah tidak dengan bahan makanan. Kemudian uang dari upah kuli panggul itu, dikumpulkannya membeli entrok. Akhirnya Marni merasakan kebahagiaan karena bisa memiliki entrok yang selama ini diidam-idamkannya. Namun, ternyata kebahagiaannya tak bertahan lama, Marni ingin mempunyai entrok sutra yang bertahtakan intan dan permata. Karena mimpinya inilah Marni bertekad untuk mendapatkan lebih banyak uang. Sisa upah sebagai kuli yang selama ini disimpannya dijadikan modal untuk berdagang bakulan dari rumah ke rumah. Seiring dengan berjalannya waktu barang yang ditawarkannya semakin beragam juga tak hanya dari rumah ke rumah tetapi dari kampung ke kampung, juga pembayarannya tidak secara tunai melainkan kredit.

Awalnya, karena berniat menolong tetangganya yang kesusahan,  Marni tak hanya bakulan barang saja tetapi juga uang. Itu yang membuat perselisihan dengan anaknya Rahayu. Karena Rahayu mendapatkan pengajaran dari guru agamanya bahwa meminjamkan uang dengan bunga adalah dosa. Ditambah lagi Rahayu merasa malu dan membenci Ibunya karena mendengar desas-desus orang di desanya yang menuduh Ibunya sebagai orang yang memelihara tuyul, cari pesugihan dan syirik. Memang dari sejak kecil, Ibunya diajari untuk meminta apa yang diinginkannya kepada Mbah Ibu Bumi Bapak Kuasa. Ibunya percaya bahwa apa yang didapatkannya selama ini selain karena kerja kerasnya selama ini, juga karena doanya pada Mbah Ibu Bumi Bapak Kuasa setiap malam.

Perjalanan hidup Ibu dan anak ini, digambarkan dari tahun 1950-1998 sehingga berbagai sejarah bangsa ini pada periode itu turut juga sedikit dibahas dalam buku ini. Berbagai peristiwa politik yang mempengaruhi kehidupan Marni dan Rahayu.

Buku ini mengungkapkan kisah hidup, baik dari sisi Marni maupun dari sisi Rahayu. Sehingga kita bisa mengetahui perbedaan sudut pandang keduanya.

Dalam sampul belakang disebutkan bahwa karya Entrok ini lahir karena kegelisahan sang pengarang atas menipisnya toleransi dan maraknya kesewenang-wenangan. Namun, dalam cerita ini, saya menyayangkan pada akhirnya toleransi antar Ibu dan Anak itu terjalin dengan baik setelah Rahayu melakukan dosa yang sama yang dilakukan Ibunya. Karena toleransi yang saya pahami adalah ketika kita saling menghormati satu sama lain meskipun terdapat perbedaan diantaranya. Yang dilakukan Rahayu pada akhirnya menerima Ibunya bukan lagi toleransi, tetapi penerimaan karena dia melakukan hal yang sama dengan Ibunya. Akan lebih indah jika Rahayu tetap memegang teguh keyakinannya namun tetap berbuat baik terhadap Ibunya meskipun memiliki keyakinan yang berbeda dengan dirinya.

Ending bukunya sungguh tak terduga dan mengharukan.

Tagged ,

Kekuatan Batin yang Menggerakkan

“Kekuatan batin jauh lebih penting daripada bakat.”

“Menulis adalah makanan dan udara bagiku. Orang seharusnya tidak mengangkat pena jika tidak merasa seperti itu.”
(Hsu Chih-mo)

[Achee Min. Pearl of China. p 178)

Tagged ,

Kisah Kehidupan dan Cinta Pearl S Buck

Kisah Kehidupan dan Cinta Pearl S. Buck

Judul : Pearl of China
Penulis :  Anchee Min
Penterjemah :  Rika Iffati Farihah
Penyunting :  Suhindrati a.Shinta
ISBN : 9786028579629
Halaman : 406
Penerbit : Qanita
Cetakan : April 2009

“Aku paham Pearl ingin menulis novel untuk melepaskan diri dari hidupnya. Namun, siapa yang ingin membaca cerita-ceritanya? Orang China tidak perlu perempuan pirang menuturkan kisah mereka, sementara orang Barat tidak tertarik pada China. Apa yang membuat Pearl mengira dia mempunyai peluang sukses?

Begitulah perkataan Loosing Buck kepada Willow, sahabat Pearl. Nyata benar bahwa suami Pearl sama sekali tidak mendukung Pearl untuk menulis. Awalnya Pearl menikahi Loosing karena kecintaan mereka akan China. Namun, ternyata Pearl lebih China daripada Loosing sehingga perbedaan di antara mereka semakin nyata. Memang dari segala sisi Pearl adalah orang China, selain dari ciri fisik dan warna rambutnya. Hal Itu pulalah yang membuat Hsu Chih-mo sang pujangga baru China tertarik padanya. Berbeda dengan Loosing yang selalu tak pernah memberinya dukungan untuk menulis, Hsu Chih-mo merupakan pengagum tulisan-tulisan Pearl dan selalu memuji hasil karyanya. Sang sahabat Pearl, Willow yang merupakan pemuja Hsu Chi-mo harus menelan kekecewaan ketika Pearl dan Hsu Chih-mo saling mencintai. Namun kisah percintaaan antara Pearl dengan Hsu Chih-mo tak bertahan lama karena kecelakaan pesawat yang menimpa Hsu Chih-mo berujung pada kematiannya. Bertahun-tahun setelah Hsu-Chih-mo meninggal dan Pearl menjadi novelis Amerika serta memenangkan Penghargaan Nobel serta Pulitzer dia menulis tentang Hsu Chih-mo

“Dia merebut perhatianku dengan cintanya, dan kemudian dia biarkan aku pulang. Sesampai ku di Amerika, kusadari bahwa cintanya ada dalam diriku, dan akan tetap di situ selamanya.” .

Ya, buku ini menceritakan tentang kisah cinta Pearl Buck. Yang sangat menarik buku ini tak hanya melulu berkisah tentang cerita cintanya dengan para lelaki, namun juga kisah cintanya kepada China tanah dimana dia tumbuh, kisah cintanya terhadap aktivitas menulis, dan yang terutama kisah cintanya dengan sahabat Chinanya Willow. Seluruh kisah cintanya Pearl Buck ini digambarkan oleh sahabatnya Willow.

Pertama kali Willow bertemu dengan Pearl, ketika dirinya mencuri di rumah ayahnya Pearl, Absalom adalah seorang misionaris. Pearl membututi Willow tetapi tak berhasil membuktikan Willow telah mencuri. Namun, meskipun Pearl bisa menangkap basah Willow, Willow   berbohong tidak mau mengakui dirinya mencuri. Ketika Pearl menyelamatkan Willow, Willow merasa sangat menyesal. Dan pada akhirnya mereka bersahabat  baik Apalagi ketika ayahnya Willow telah masuk Kristen dan membantu Absalom di gereja . Berbagai kegiatan mereka lakukan bersama, mengemban tugas dari ayah mereka untuk mengenalkan Tuhan pada teman-teman sepermainan mereka, menonton sandiwara “sepasang kekasih kupu-kupu”, menikmati berondong jagung, menyusuri kota dan bermain  bersama. Namun, kebersamaan mereka  harus berakhir karena adanya pemberontakan Boxer, meskipun Pearl merasa China adalah negerinya dan merasa asing di Amerika, namun karena keamanan mereka sekeluarga pindah dari Chin-kiang ke Shanghai dimana gerakan pasukan Boxer berhasil ditahan oleh militer internasional.

Waktupun berlalu, mereka tetap bersahabat, melalui surat-suratnya Willow mengabarkan kehidupannya pada Pearl.  Willow memutuskan untuk lari dari suaminya yang tidak pernah membuatnya bahagia dengan pernikahannya ketika remaja dan  tentang keikut sertaanya pada Partai Nasional China pimpinan Dr. Sun Yat-Sen, sementara Pearl menuntut ilmu. Kemudian Pearl kembali ke China ketika menikah dengan Loosing, saat itulah mereka bertemu kembali.   Pearl  mengasah kemampuannya menulis dengan menulis artikel dalam suratkabarnya Willow The Chin-Kiang Independent  dengan menggunakan nama samaran Wei Liang  dan Er-Ping yang membuat banyak orang sangat terkesan dengan analisis dan essai Pearl. Kebersamaan Pearl dan Willow terjalin kembali ketika Willow bekerja di The Nanking Daily sementara Pearl mengajar di Universitas Nanking. Mereka saling berdiskusi karya-karya Ku Xun, Lao-She dan Cao Yu dan pujangga baru Hsu Chih-mo. Saat itu pulalah mereka mengenal Hsu Chih-mo dan Dick Lu lebih dekat. Setelah menginggalnya Hsu Chih-mo,  Willow menikah dengan Dick Lu sementara Pearl tetap mengajar di universitas Nanking. Karena perubahan situasi politik di China, menyebabkan Willow dan Pearl harus terpisah. Pearl meninggalkan China dan kembali ke Amerika.

Karena keyakinan Pearl akan kisah Chinanya menjadikan dia meraih penghargaan Nobel dan Pulitzer.

“Aku menaruh kepercayaan pada cerita-cerita Chinaku. Tidak ada penulis Barat lain yang dapat mendekati apa yang kutawarkan-seperti apa sesungguhnya kehidupan di Timur. Demi Tuhan, aku hidup di situ. Dunia China berseru-seru meminta dieksplorasi. China itu seperti Amerika dahulu-subur dan penuh potensi.”

Akan tetapi, karena tulisannya pula, sampai akhir hayatnya dia tidak diperbolehkan oleh pemerintah Komunis untuk menjejakkan kaki di China, tanah yang dianggap tanah airnya. Selama hidup di Amerika Pearl tinggak di rumah yang penuh dengan ornamen China dan meninggal dengan tulisan nisan berhurufkan China, menunjukkan bahwa Pearl tetap merasakan bahwa dirinya orang China.

Dengan membaca buku ini, saya menjadi bertanya-tanya apakah artinya tanah air, apalagi dikala dunia semakin datar saat ini. Apakah tanah dimana kita lahir atau tanah dimana kita tumbuh dan merasakan cinta kita begitu besar ketika berada di sana. Di buku ini, kita juga bisa sedikit mengetahui tentanng sejarah China mulai dari Pemberontakan Boxer, Sun-Yat Sen, Pemerintahan Nasionalis, Pemerintahan Komunis, sampai pembentukan Republik Rakyat China. Juga perkembangan sastra China digambarkan dengan diskusi berbagai karya sastra antara Willow dengan Pearl tentang karya-karya China juga Diskusi antara Pearl dengan Hsu Chin-mo.

Kisah yang mengharukan dan memukau ini, memang menceritakan kehidupan Pearl Buck dari kacamata Willow sahabatnya. Namun, saya tetap merasa jika di buku ini kurang menceritakan kisah hidup Pearl Buck sesampainya di Amerika, begitupula dengan surat-surat yang dikirim oleh Willow, tidak disebutkan balasan dari Pearl. Padahal dari surat-surat yang dikirimkan oleh Pearl saya bisa banyak belajar tentang pemikirannya dan bisa mengenalnya lebih dalam.

Kutipan yang saya suka dari buku ini:

Menulis novel itu seperti memburu dan menangkap roh, demikian penuturan Pearl Buck kelak mengenai proses menulisnya. Novelis diundang masuk ke dalam mimpi-mimpi luar yang luar biasa indah. Mereka yang beruntung dapat menjalani mimpinya satu kali, sementara yang paling beruntung berkali-kali.

“ Sebagai cara untuk mengeluarkan hatinya, Pearl mulai menulis. Dia mendapat ketenangan dalam menulis. Dia berkata kepadaku bahwa imajinasi adalah satu-satunya tempat dia bisa bebas dan menjadi dirinya sendiri.”

Tagged , ,

Berburu Buku di Gramed Matraman

Berburu buku diskon

Berburu Buku

Tanda BIG sale up-to 70% terpampang dengan jelas di kaca luar Gramedia Matraman Jakarta. Sehingga membuat banyak orang tertarik akan daya magnet kata-kata diskon. Ternyata, tidak semua buku di Gramedia tersebut di diskon, hanya sebagian buku saja.  Dari pegawai Gramedia bahwa durasi diskon ini tidak dibatasi, tergantung dari tersedianya stok barang. Jika stoknya sudah habis kemungkinan akan diganti dengan buku-buku terbitan lain.

Untuk kesempatan kali ini, buku-buku yang didiskon sebagian besar merupakan buku-buku terbitan Kompas-Gramedia dan Grasindo, meskipun ada juga buku-buku dari penerbit lain seperti buku-buku pelajaran dan buku-buku impor.

Harga buku setelah didiskon bervariasi antara Rp. 5.000 sampai dengan Rp.20.000.

Misalnya buku-buku terbitan Kompas Gramedia

  • Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang ( Rp.10.000)
  • Pramoedya Ananta Toer dari Dekat, Soebagyo Toer (Rp.10.000)
  • Jurus Sehat Tanpa Ongkos, dr.Hardiawan Nadesul (Rp.20.000)
  • Bangkitnya Rusia, Simon Saragih (Rp.15.000)
  • Masa lalu Selalu Aktual, P.Swantoro (Rp.25.000)
  • Negeri Para Mafiaso, Denny Indriana (Rp.15.000)
  • Menentang Diktator, Darma Aji (Rp. 15.000)
  • Kompas Menulis dari Dalam (Rp. 15.000)
  • Dari langit, Rizal Malaranggeng (Rp.10.000)
  • Kesusastraan Masyarakat Thionghoa jilid 8 dan 4 (Rp.10.000)
  • Esai-esai nobel ekonomi (Rp.10.000)
  • Pahlawan Kita, Mikhail Lermontou (Rp.10.000)
  • Keping Rahasia Terakhir,Jean Rocher (Rp.10.000)
  • Orang Batak Berpuasa, Baharudin Aritonang (Rp.10.000)
  • Putri Cina, Sindhunata (Rp.10.000)
  • Burung-burung dari Bundaran HI, Sindhunata (Rp.10.000)
  • dll…

Terbitan Kompas Gramedia

Untuk novel grafis dan buku anak ini dijual seharga Rp.20.000

buku anak

Novel-novel metropop dan novel terjemahan seharga Rp. 10.000 misalnya

  • Kumcer Anak: Orang-Orang Tercinta, Soekanto SA
  • Left to Tell, Immaculee Ilibagiza
  • Nanny Diaries, Emma McLaughlin dan Nicola Kraus
  • dll

Kumcer dan Novel seharga Rp.3000

  • Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta, Seno Gumira Ajidarma
  • Angsa-Angsa Liar, Jung Chang
Tumpukan buku metropop

Tumpukan buku metropop

Komik-komik  dijual seharga Rp.5000

Barisan komik

Buku-buku IT;  tentang komputer, internet , teman-temannya dijual dengan harga Rp.10.000

Buku-buku IT

Buku-buku IT

Dan buku masakan dijual dengan harga bervariasi antara Rp. 5.000-10.000

buku-buku masakan

Semua buku-buku yang didiskon sebagian besar buku-buku terbitan lama, tetapi masih baru. Karena penjualan buku berdasarkan stok yang ada bisa jadi buku yang dijual hari ini berbeda dengan besok. Jadi sebaiknya, kalau ada buku yang ditaksir segera dibeli.

Semoga bisa menemukan buku yang diinginkan dan dibutuhkan dengan harga yang murah 😉

Salam Semangat,
Mari berburu buku-buku berkualitas dan murah.

Berburu buku diskon

Gramedia Matraman

Tagged

Sekayu

buku nh dini

Judul : Sekayu, serial kenangan #4
Penulis : Nh. Dini
Penyunting :
Desain :  Sampul: Raharjo S

Perwajahan: Ipong Purnama Sidhi

ISBN : 9794034118
Halaman : 181
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : November 1988

Jangan sampai aku menjadi budak kebutuhan uang, lalu menyerahkan hasil tulisan yang kuanggap “belum kusukai”

Begitulah sikap Dini ketika remaja, ketika bisa mendapatkan uang saku sendiri atas karyanya. Kehidupan Ibunya yang cukup sulit pasca kematian ayahnya, membuat Dini berusaha untuk tak menyusahkan Ibunya dan bertekad untuk membantunya. Namun ditengah kesulitan hidupnya, Dini masih memegang petuah-petuah dari Ibu juga Ayahnya.

Dalam buku ini menceritakan kehidupan…moreJangan sampai aku menjadi budak kebutuhan uang, lalu menyerahkan hasil tulisan yang kuanggap “belum kusukai”

Begitulah sikap Dini ketika remaja, ketika bisa mendapatkan uang saku sendiri atas karyanya. Kehidupan Ibunya yang cukup sulit pasca kematian ayahnya, membuat Dini berusaha untuk tak menyusahkan Ibunya dan bertekad untuk membantunya. Namun ditengah kesulitan hidupnya, Dini masih memegang petuah-petuah dari Ibu juga Ayahnya.

Dalam buku ini menceritakan kehidupan Dini ketika di SD kelas 6 sampai SMP kelas 3. Bagaimana pengalaman Dini di sekolahannya, pengalaman pertama mengirimkan karyanya pada sebuah radio sampai akhirnya menjadi pengisi tetap acara di radio tersebut, pertama kali mengikuti lomba menulis,kesibukannya dalam berbagai kegiatan seperti pemeberantasan buta huruf dan latihan menari, juga pertamakalinya Dini merasakan ketertarikan dirinya terhadap lawan jenis. Dalam buku ini, Dini tak hanya menceritakan dirinya, Dini juga menceritakan kehidupan keluarga dan sahabatnya yang turut mewarnai kisah remajanya.

Dibandingkan dengan buku-buku sebelumnya, buku ini lebih menyajikan banyak konflik meskipun disajikan dengan cukup datar.

Tagged ,

Hati yang damai

Judul : Hati Yang Damai
Penulis :  Nh. Dini
Penyunting :
Pewajah Isi :
ISBN :
Halaman : 90
Penerbit : PT. Pustaka Jaya
Cetakan :

“Antara kita ada pengertian yang besar, ada persamaan yang besar. Hanya dari dulu ada satu beda:aku mencintaimu dan kau tidak mencintaiku.”

Dalam buku ini, menceritakan tentang kehidupan suami istri, dimana sang suami adalah seorang pilot tentara. Maka seringkali sang suami meninggalkan sang istri. Saat suaminya sedang bertugas, masa lalu sang istri muncul kembali… Bukan hanya cinta segitiga saat dulu pernah menimpa sang Istri, sekarang menjadi cinta segiempat. Bagaiamana sang istri berusaha untuk menemukan kembali kedamaian sebelum masa lalu muncul dihadapannya.

Ini merupakan pertama kalinya saya membaca buku novel roman karya NH. Dini. Dalam buku ini, saya merasakan bahwa NH. Dini padai sekali memilihi kata sehingga meskipun novel roman adegannya (adegan yang membuat saya jauh-jauh dari novel dengan genre semacam ini) tidak digambarkan secara vulgar, meskipun begitu saya masih bisa menangkap maksudnya dan bisa mengerti cerita yang disampaikan. Juga adegan “air mata” tak digambarkan dengan berlebihan.

Dari buku ini saya belajar bahwa lari dari masalah sama sekali tak menyelesaikan masalah, sang istri dalam tokoh ini tidak menyelesaikan masalahnya dengan tuntas di masa lalunya sehingga akhirnya mereka kembali mengganggu kedamaian hatinya, juga ketidaktegasannya menolak dan keraguan akan perasaannya. Mungkin buat yang mempunyai kisah-kisah yang tidak tuntas dimasa lalu sebaiknya diselesaikan dengan segera sebelum mengganggu kedamaian hati kita dimasa mendatang.

Tagged , ,

Ingin Lebih Disayangi

books, love

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ?
Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin,
akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”

(Pramoedya, Anak Semua Bangsa, hal. 84)


Sumber gambar


Tagged ,

Mengenang Langit dan Bumi

buku Nh.Dini

Judul

:

Langit dan Bumi Sahabat Kami,

serial kenangan #3

Penulis : Nh. Dini
Penyunting :
Pewajah Isi :
ISBN : 9793239107
Halaman : 139
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 1988

Yang kami makan di zaman revolusi itu semuanya bubuken penuh ulat. Serangga yang terdapat dalam bahan makanan itu membentuk sarang, sehingga menggumpal merupakan sulur kotoran dan serbuk yang memuakan.

Begitulah NH. Dini, menceritakan kehidupan dirinya dan keluarganya ketika penjajahan Jepang berakhir dan digantikan serdadu Sekutu. Selain karena sulit sekali mendapatkan makanan di pasar, seringkali tentara Sekutu merampas harta benda penduduk termasuk rumahnya keluarga Dini. Dini mengenang masa-masa dimana dirinya dan keluarganya kesulitan untuk mendapatkan makanan. Beruntung Ibunya lihai mengolah berbagai macam jenis makanan yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan dapat dimakan misalnya krokot dan kremah yang biasa dipergunakan sebagai makanan jangkrik, bonggol pisang,bayam tanah, jagung, gaplek, dll. Dini Juga mengenang masa dimana keluarganya berusaha mengelabui serdadu Sekutu yang datang pada saat ayahnya berusaha menyembunyikan barang-barang berharga yang tersisa. Di masa sulit tersebut, orang tua Dini masih bisa membatu saudaranya Kang Marjo dan Yu Saijem juga Yu Kim mengungsi di rumahnya juga Ayahnya Dini masih dapat memberikan kejutan manis kepada anak-anaknya.

Keadaan bertambah sulit karena tidak ada listrik sama sekali juga karena kekeringan yang melanda. Maka Dini sekeluarga harus mandi, mencuci di sungai yang jauh dari rumahnya. Selain itu Teguh,Nugroho dan Kang Marjo bergantian mengangkut air dari sungai tersebut. Keperihatinan Dini sekeluraga juga tetangga-tetangga terdekatnya berakhir ketika ayahnya berhasil menjual burung perkutut kesayangannya untuk membuat sumur baru. Keadaan keluarga Dini semakin membaik ketika perbatasan kota dibuka sehingga bisa terjadi proses barter antara petani yang membawa hasil ladang dan ternak dengan penduduk kota yang mempunyai pakaian dan barang-barang berharga. Mulai saat itulah, keluarga Dini bisa merasakan makanan yang nikmat kembali, berbagai kebahagiaan seperti kebahagiaannya memanen berbagai jenis hasil kebun dan kebahagiaan akan hadirnya anggota keluarga baru. Dalam usianya yang sepuluh tahun, Dini merasa dianggap orang dewasa oleh Yu Saijem karena Dini menjadi tempat curhatnya Yu Saijem. Dalam buku ini diceritakan kisah pencidukan ayahnya oleh serdadu Sekutu karena bekerjasama dengan para pemberontak. Ayahnya memang menolak bekerja pada pemerintah pendudukan dan membantu para pejuang gerilya. Bagaimana kondisi Ayahnya setelah diciduk oleh Sekutu dan kondisi Heratih serta Suami juga Maryam yang terpisah selama masa pendudukan Sekutu digambarkan di akhir buku ini. Berkat keluarganyalah, Dini menyadari bakatnya sebagai penulis.

Dibandingkan dengan kedua buku sebelumnya, buku ini tak hanya berkisar tentang diri Dini dan keluarga tetapi juga memotret kondisi di sekelilingnya. Hal ini mungkin dikarenakan Dini sudah cukup besar, dikatakan dalam buku ini dia berusia sepuluh tahun. Selain itu, Dini juga lebih banyak mengingat petuah-petuah dari Ibu Bapaknya juga berbagai situasi yang membentuk cara pandangnya di kemudian hari. Dengan membaca buku ini, saya semakin bersyukur akan kenikmatan yang saya dapatkan selama ini. Kenikmatan yang tidak semua orang merasakannya, meskipun saat ini negeri ini telah meredeka.

Petuah-petuah dari Ibu dan Bapaknya NH. Dini yang saya suka:

Ya, Ibu kami mengingatkan bahwa selagi kami makan makanan yang pantas, bersih dan tidak busuk, di daerah-daerah yang lain barangkali masih banyak orang yang hanya memiliki jagung dan menir berulat seperti makanan kami dua hari yang lalu. Bahkan barangkali banyak orang yang sama sekali tidak mempunyai sesuatupun untuk pengisi perut.

Kuharap anak-anakku tetap rendah hati tetapi tahu harga diri. Menghargai pula apa yang kita punyai hari ini karena itu adalah karunia Tuhan. Jangan ngongso. Kita masing-masing memang diwajibkan berusaha mendapatkan yang lebih baik lagi. Hanya caranya harus baik dan menuruti adat kejujuran.

Banyak orang yang tidak mengerti apa itu kegembiraan dan kebahagiaan. Padahal itu ditemukannya setiap hari, bahkan berkali-kali dalam setiap hari. Umpamanya seseorang yang hampir jatuh, tapi tidak jadi. Dia tidak mengetahui bahwa itulah kebahagiaan. Dia bilang: Untung tidka jatuh! Ya, itu! Perasaan beruntung itulah yang bisa disebut kebahagiaan. Atau tiba-tiba hujan, dia bawa payung. Dia mengatakan: ah, untung bawa payung. Hatinya senang sekali, karena tidak terpaksa menunggu sampai hujan teduh. Nah, itu perasaan amat senang itu dapat disebut kebahagiaan juga.

Tidak ada pekerjaan yang hina selama kita mengerjakan setulus hati, dengan kepercayaan, kejujuran, tanpa mengganggu orang lain. Semua pekerjaan itu baik. Tergantung kepada cara kita menunaikannya dan menempatkan diri di kalangan tugas tersebut.

Ibu memperingatkan anak-anak agar selalu mencintai dan menghormati bumi dan Tuhan penciptanya

Tagged ,

Padang Ilalang dalam kenangan

buku nh dini
Judul : Padang Ilalang di Belakang Rumah,

seri kenangan #2

Penulis : Nh. Dini
Penyunting :
Pewajah Isi :
ISBN :
9794030392
Halaman : 99
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Januari, 1987

Demikianlah kehidupan terus mengalir.
Dari seluruh isi rumah, ibukulah yang paling terengah-engah. Ia berusaha mengikuti zaman dengan langkahnya yang sempit, tertahan-tahan oleh kain dan kebiasaan adat yang sukar dilepaskan.

Beitulah kenangan NH. Dini ketika serdadu Jepang mulai menggantikan kedudukan Belanda. Kehidupan ekonomi yang sulit ketika masa Jepang, membuat orang semacam Nyonya Bustaman yang termasuk ke dalam strata sosial bangsawan harus rela menjadi bakul rombengan (pakaian bekas). Awalnya Ibu Dini yang juga bangsawan sulit untuk menerima perubahan itu, tetapi melihat kenyataan Nyonya Bustaman maka Ibunya mulai menjadi buruh batik dan menerima pesanan kue kering. Ketika proses perkenalan Kakak pertamanya Heratin dengan seorang pria, sikap Ibunya yang awalnya memberikan banyak batasan juga melonggar. Sikap Ibunya yang tanggap terhadap perkembangan zaman dipuji berkali-kali oleh Dini.

Kenangan Dini kecil melekat dengan kuat ketika dia dan kakak-kakaknya bahu membahu membantu pekerjaan Ibunya juga kenangan akan nama panggilan saudara-saudaranya (Heratin-Lara Ireng, Nuggraha-Manu Pendet, Teguh-Banteng, Maryam -Genuk, Dini-Krupuk),NH. Dini juga mengingat kegelisahannya menantikan tontonan wayang orang dan keseruan menirukan lakon wayang orang yang telah ditontonnya, rahasia antara dirinya dan Maryam tentang padang ilalang, kesulitannya mengucapkan “er”, dan terutama kenangan bagaimana Dini dan keluarganya bisa bertahan dalam peperangan. Perang telah berakhir menyisakan berbagai cerita mengerikan, bagaimana kehidupan Dini setelah peperangan berakhir? Benarkah perang talah berakhir sepenuhnya? Cerita kenangan ini masih terus berlanjut.

Buku ini, merupakan buku kedua dari seri cerita kenangan NH. Dini yang terdiri dari lima buku. Dalam buku ini, Dini tetap menceritakan kenangan masa kecilnya dengan detail dan jujur.

Kedekatannya keluarganya dengan keluarga Bibi dan Paman Iman Sujahri membuat Dini dekat dengan putri pertama mereka, Edi Sedyawati. Seringkali Dini menginap di rumah pamannya dan bergitupula sebaliknya, dikisahkan bahwa suatu waktu Dini perlu menginap beberapa minggu karena bibinya melahirkan dan saat itu Dini merasakan bagaimana rasanya kelaparan,ketika kembali ke rumahnya Dini menggambarkannya dengan perasaannya.

Rumah kami yang lindung, betapun buruk dan tuanya,lebih ramah dan akrab daripada gedung besar kediaman sepupuku. Kebun kami yang tidak teratur, merupakan kawan yang setia dan dermawan, memberi berbagai buah segar, menerima kami bermain di bawah naungan pohon-pohonnya yang penuh ranting dan daunan. Aku juga menemukan kembali si jalak, kucing-kucingku, itik dan ayam yang ribut, Yng justru menggambarkan suasana keluarga dan rumah tangga. Tentu saja, padang ilalang yang memigiri kali di belakang rumah kami.

Mungkin karena tergolong keluarga yang bangsawan maka kekejaman dan kesulitan hidup pada masa penjajahan Jepang tak begitu ketara disini; selain berkurangnya jumlah pembantu di rumahnya dan Ibunya yang perlu bekerja mencari nafkah..
Juga karena masih anak kecil yang harus berlindung dan berada di tempat aman ketika peperangan terjadi maka suasana perang yang digambarkan kurang mencekam. Akan tetapi, tetap saja buku ini tetap menarik untuk dibaca.

Tagged ,

Kenangan di sebuah lorong kota

Judul

:

Sebuah Lorong di kotaku,

seri kenangan #1

Penulis : Nh. Dini
Penyunting :
Pewajah Isi :
ISBN : 9796555840
Halaman : 107
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Januari, 1986

Disana semauanya kusukai: benda, binatang, manusia. Yang semula tidak kukenal, mulai kuketahui dan kumengerti, hingga sesudah beberapa hari berubah menjadi kawan karib sebagai bagian hidupku.

Begitulah kenangan NH. Dini kecil ketika menghabiskan liburan bersama keluarganya di rumah Kakeknya di desa Tegalrejo. Bersama Pamannya, Dini merasakan berbagai pengalaman pertama dalam hidupnya; memetik buah kelapa, menguak rahasia kebun, berkunjung ke kandang ternak, menelusuri sawah,belajar berenang di sungai. Di desa itu, dia merasakan keterbukaan dan keakraban dengan keluarganya. Bertolak belakang dengan perasaannya ketika menginap di keluarga Ibunya di Madiun, Dini tak merasakan keakraban sebagai sebuah keluarga.

Buku ini, merupakan buku pertama dari seri “cerita kenangan” NH.Dini. Kenangannya menghabiskan masa kecilnya bersama keluarga. Tentunya pengalaman itu sangat berarti, kebahagiaan menghabiskan waktu bersama keluarga menyerok ikan di belakang rumahanya ketika banjir tiba, pengalamannya menghabiskan bulan Puasa di desa bersama Kakaknya Maryam, perasaan yang campur aduk ketika pertama kali sekolah, ketakutan yang mendera ketika harus mengungsi dan berlindung dari bom dan peluru musuh, rahasia kecilnya antara Maryam dan Bapaknya. Buku ini juga memuat berbagai petuah dan pelajaran yang didapatkan dari orangtua dan Kakek-neneknya didesa. Salah satu petuah dari Ibunya yang mengingatkan Dini akan kehidupan di desa :
Sabar dan lapangkanlah dadamu. Jangan selalu mau cepat marah. Ambillah bumi ini sebagai contoh. Dia kita injak, kita ludahi, kita belah, kita tusuk dan kita lukai dengan berbagai alat. Tetapi dia selalu sabar dan diam, selalu memberi kita makanan lezat dan berguna.. (hal.76)
Kakek dan Neneknya yang mengajarinya ..untuk mengerti bahwa kita tidak bisa hidup bersendiri, karena seseorang memerlukan orang lain untuk merasakan gunanya kehadiran masing-masing. Kelakuan yang sama harus pula ditunjukkan kepada semua makhluk, termasuk binatang dan tumbuh-tumbuhan.

Sebagai anak terkahir dari lima bersaudara (Heratih,Nugroho, Maryam dan Teguh), Dini merasa selau diperlakukan sebagai anak kecil yang tidak bisa apa-apa, terutama oleh Kakaknya Nugroho.
bagiku orang dewasa adalah makhluk yang seringkali berkata, “Kamu masih kecil, belum boleh begini, tidak boleh begitu!” Orang dewasa lebih tinggi dan lebih besar, lebih bisa berbuat sekehendaknya. Begitu banyak yang tidak boleh diperbuat oleh kanak-kanak, sehingga aku berpikir bahwa dunia ini diciptakan hanya untuk orang dewasa”. Dini kecil selalu jujur dengan apa yang dirasakannya.

Membaca buku ini, membuat saya terlempar berpuluh-puluh tahun silam, merasakan kebahagian dan kedamaian sebuah keluarga, juga ketakutan akan kondisi yang tak menentu akibat perang.

Membaca buku ini, membuat saya menelisik kembali kenangan-kenangan saya di masa kecil dulu..

Tagged ,