Kenangan di sebuah lorong kota

Judul

:

Sebuah Lorong di kotaku,

seri kenangan #1

Penulis : Nh. Dini
Penyunting :
Pewajah Isi :
ISBN : 9796555840
Halaman : 107
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Januari, 1986

Disana semauanya kusukai: benda, binatang, manusia. Yang semula tidak kukenal, mulai kuketahui dan kumengerti, hingga sesudah beberapa hari berubah menjadi kawan karib sebagai bagian hidupku.

Begitulah kenangan NH. Dini kecil ketika menghabiskan liburan bersama keluarganya di rumah Kakeknya di desa Tegalrejo. Bersama Pamannya, Dini merasakan berbagai pengalaman pertama dalam hidupnya; memetik buah kelapa, menguak rahasia kebun, berkunjung ke kandang ternak, menelusuri sawah,belajar berenang di sungai. Di desa itu, dia merasakan keterbukaan dan keakraban dengan keluarganya. Bertolak belakang dengan perasaannya ketika menginap di keluarga Ibunya di Madiun, Dini tak merasakan keakraban sebagai sebuah keluarga.

Buku ini, merupakan buku pertama dari seri “cerita kenangan” NH.Dini. Kenangannya menghabiskan masa kecilnya bersama keluarga. Tentunya pengalaman itu sangat berarti, kebahagiaan menghabiskan waktu bersama keluarga menyerok ikan di belakang rumahanya ketika banjir tiba, pengalamannya menghabiskan bulan Puasa di desa bersama Kakaknya Maryam, perasaan yang campur aduk ketika pertama kali sekolah, ketakutan yang mendera ketika harus mengungsi dan berlindung dari bom dan peluru musuh, rahasia kecilnya antara Maryam dan Bapaknya. Buku ini juga memuat berbagai petuah dan pelajaran yang didapatkan dari orangtua dan Kakek-neneknya didesa. Salah satu petuah dari Ibunya yang mengingatkan Dini akan kehidupan di desa :
Sabar dan lapangkanlah dadamu. Jangan selalu mau cepat marah. Ambillah bumi ini sebagai contoh. Dia kita injak, kita ludahi, kita belah, kita tusuk dan kita lukai dengan berbagai alat. Tetapi dia selalu sabar dan diam, selalu memberi kita makanan lezat dan berguna.. (hal.76)
Kakek dan Neneknya yang mengajarinya ..untuk mengerti bahwa kita tidak bisa hidup bersendiri, karena seseorang memerlukan orang lain untuk merasakan gunanya kehadiran masing-masing. Kelakuan yang sama harus pula ditunjukkan kepada semua makhluk, termasuk binatang dan tumbuh-tumbuhan.

Sebagai anak terkahir dari lima bersaudara (Heratih,Nugroho, Maryam dan Teguh), Dini merasa selau diperlakukan sebagai anak kecil yang tidak bisa apa-apa, terutama oleh Kakaknya Nugroho.
bagiku orang dewasa adalah makhluk yang seringkali berkata, “Kamu masih kecil, belum boleh begini, tidak boleh begitu!” Orang dewasa lebih tinggi dan lebih besar, lebih bisa berbuat sekehendaknya. Begitu banyak yang tidak boleh diperbuat oleh kanak-kanak, sehingga aku berpikir bahwa dunia ini diciptakan hanya untuk orang dewasa”. Dini kecil selalu jujur dengan apa yang dirasakannya.

Membaca buku ini, membuat saya terlempar berpuluh-puluh tahun silam, merasakan kebahagian dan kedamaian sebuah keluarga, juga ketakutan akan kondisi yang tak menentu akibat perang.

Membaca buku ini, membuat saya menelisik kembali kenangan-kenangan saya di masa kecil dulu..

Advertisements
Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: