Padang Ilalang dalam kenangan

buku nh dini
Judul : Padang Ilalang di Belakang Rumah,

seri kenangan #2

Penulis : Nh. Dini
Penyunting :
Pewajah Isi :
ISBN :
9794030392
Halaman : 99
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Januari, 1987

Demikianlah kehidupan terus mengalir.
Dari seluruh isi rumah, ibukulah yang paling terengah-engah. Ia berusaha mengikuti zaman dengan langkahnya yang sempit, tertahan-tahan oleh kain dan kebiasaan adat yang sukar dilepaskan.

Beitulah kenangan NH. Dini ketika serdadu Jepang mulai menggantikan kedudukan Belanda. Kehidupan ekonomi yang sulit ketika masa Jepang, membuat orang semacam Nyonya Bustaman yang termasuk ke dalam strata sosial bangsawan harus rela menjadi bakul rombengan (pakaian bekas). Awalnya Ibu Dini yang juga bangsawan sulit untuk menerima perubahan itu, tetapi melihat kenyataan Nyonya Bustaman maka Ibunya mulai menjadi buruh batik dan menerima pesanan kue kering. Ketika proses perkenalan Kakak pertamanya Heratin dengan seorang pria, sikap Ibunya yang awalnya memberikan banyak batasan juga melonggar. Sikap Ibunya yang tanggap terhadap perkembangan zaman dipuji berkali-kali oleh Dini.

Kenangan Dini kecil melekat dengan kuat ketika dia dan kakak-kakaknya bahu membahu membantu pekerjaan Ibunya juga kenangan akan nama panggilan saudara-saudaranya (Heratin-Lara Ireng, Nuggraha-Manu Pendet, Teguh-Banteng, Maryam -Genuk, Dini-Krupuk),NH. Dini juga mengingat kegelisahannya menantikan tontonan wayang orang dan keseruan menirukan lakon wayang orang yang telah ditontonnya, rahasia antara dirinya dan Maryam tentang padang ilalang, kesulitannya mengucapkan “er”, dan terutama kenangan bagaimana Dini dan keluarganya bisa bertahan dalam peperangan. Perang telah berakhir menyisakan berbagai cerita mengerikan, bagaimana kehidupan Dini setelah peperangan berakhir? Benarkah perang talah berakhir sepenuhnya? Cerita kenangan ini masih terus berlanjut.

Buku ini, merupakan buku kedua dari seri cerita kenangan NH. Dini yang terdiri dari lima buku. Dalam buku ini, Dini tetap menceritakan kenangan masa kecilnya dengan detail dan jujur.

Kedekatannya keluarganya dengan keluarga Bibi dan Paman Iman Sujahri membuat Dini dekat dengan putri pertama mereka, Edi Sedyawati. Seringkali Dini menginap di rumah pamannya dan bergitupula sebaliknya, dikisahkan bahwa suatu waktu Dini perlu menginap beberapa minggu karena bibinya melahirkan dan saat itu Dini merasakan bagaimana rasanya kelaparan,ketika kembali ke rumahnya Dini menggambarkannya dengan perasaannya.

Rumah kami yang lindung, betapun buruk dan tuanya,lebih ramah dan akrab daripada gedung besar kediaman sepupuku. Kebun kami yang tidak teratur, merupakan kawan yang setia dan dermawan, memberi berbagai buah segar, menerima kami bermain di bawah naungan pohon-pohonnya yang penuh ranting dan daunan. Aku juga menemukan kembali si jalak, kucing-kucingku, itik dan ayam yang ribut, Yng justru menggambarkan suasana keluarga dan rumah tangga. Tentu saja, padang ilalang yang memigiri kali di belakang rumah kami.

Mungkin karena tergolong keluarga yang bangsawan maka kekejaman dan kesulitan hidup pada masa penjajahan Jepang tak begitu ketara disini; selain berkurangnya jumlah pembantu di rumahnya dan Ibunya yang perlu bekerja mencari nafkah..
Juga karena masih anak kecil yang harus berlindung dan berada di tempat aman ketika peperangan terjadi maka suasana perang yang digambarkan kurang mencekam. Akan tetapi, tetap saja buku ini tetap menarik untuk dibaca.

Advertisements
Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: