Mengenang Langit dan Bumi

buku Nh.Dini

Judul

:

Langit dan Bumi Sahabat Kami,

serial kenangan #3

Penulis : Nh. Dini
Penyunting :
Pewajah Isi :
ISBN : 9793239107
Halaman : 139
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 1988

Yang kami makan di zaman revolusi itu semuanya bubuken penuh ulat. Serangga yang terdapat dalam bahan makanan itu membentuk sarang, sehingga menggumpal merupakan sulur kotoran dan serbuk yang memuakan.

Begitulah NH. Dini, menceritakan kehidupan dirinya dan keluarganya ketika penjajahan Jepang berakhir dan digantikan serdadu Sekutu. Selain karena sulit sekali mendapatkan makanan di pasar, seringkali tentara Sekutu merampas harta benda penduduk termasuk rumahnya keluarga Dini. Dini mengenang masa-masa dimana dirinya dan keluarganya kesulitan untuk mendapatkan makanan. Beruntung Ibunya lihai mengolah berbagai macam jenis makanan yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan dapat dimakan misalnya krokot dan kremah yang biasa dipergunakan sebagai makanan jangkrik, bonggol pisang,bayam tanah, jagung, gaplek, dll. Dini Juga mengenang masa dimana keluarganya berusaha mengelabui serdadu Sekutu yang datang pada saat ayahnya berusaha menyembunyikan barang-barang berharga yang tersisa. Di masa sulit tersebut, orang tua Dini masih bisa membatu saudaranya Kang Marjo dan Yu Saijem juga Yu Kim mengungsi di rumahnya juga Ayahnya Dini masih dapat memberikan kejutan manis kepada anak-anaknya.

Keadaan bertambah sulit karena tidak ada listrik sama sekali juga karena kekeringan yang melanda. Maka Dini sekeluarga harus mandi, mencuci di sungai yang jauh dari rumahnya. Selain itu Teguh,Nugroho dan Kang Marjo bergantian mengangkut air dari sungai tersebut. Keperihatinan Dini sekeluraga juga tetangga-tetangga terdekatnya berakhir ketika ayahnya berhasil menjual burung perkutut kesayangannya untuk membuat sumur baru. Keadaan keluarga Dini semakin membaik ketika perbatasan kota dibuka sehingga bisa terjadi proses barter antara petani yang membawa hasil ladang dan ternak dengan penduduk kota yang mempunyai pakaian dan barang-barang berharga. Mulai saat itulah, keluarga Dini bisa merasakan makanan yang nikmat kembali, berbagai kebahagiaan seperti kebahagiaannya memanen berbagai jenis hasil kebun dan kebahagiaan akan hadirnya anggota keluarga baru. Dalam usianya yang sepuluh tahun, Dini merasa dianggap orang dewasa oleh Yu Saijem karena Dini menjadi tempat curhatnya Yu Saijem. Dalam buku ini diceritakan kisah pencidukan ayahnya oleh serdadu Sekutu karena bekerjasama dengan para pemberontak. Ayahnya memang menolak bekerja pada pemerintah pendudukan dan membantu para pejuang gerilya. Bagaimana kondisi Ayahnya setelah diciduk oleh Sekutu dan kondisi Heratih serta Suami juga Maryam yang terpisah selama masa pendudukan Sekutu digambarkan di akhir buku ini. Berkat keluarganyalah, Dini menyadari bakatnya sebagai penulis.

Dibandingkan dengan kedua buku sebelumnya, buku ini tak hanya berkisar tentang diri Dini dan keluarga tetapi juga memotret kondisi di sekelilingnya. Hal ini mungkin dikarenakan Dini sudah cukup besar, dikatakan dalam buku ini dia berusia sepuluh tahun. Selain itu, Dini juga lebih banyak mengingat petuah-petuah dari Ibu Bapaknya juga berbagai situasi yang membentuk cara pandangnya di kemudian hari. Dengan membaca buku ini, saya semakin bersyukur akan kenikmatan yang saya dapatkan selama ini. Kenikmatan yang tidak semua orang merasakannya, meskipun saat ini negeri ini telah meredeka.

Petuah-petuah dari Ibu dan Bapaknya NH. Dini yang saya suka:

Ya, Ibu kami mengingatkan bahwa selagi kami makan makanan yang pantas, bersih dan tidak busuk, di daerah-daerah yang lain barangkali masih banyak orang yang hanya memiliki jagung dan menir berulat seperti makanan kami dua hari yang lalu. Bahkan barangkali banyak orang yang sama sekali tidak mempunyai sesuatupun untuk pengisi perut.

Kuharap anak-anakku tetap rendah hati tetapi tahu harga diri. Menghargai pula apa yang kita punyai hari ini karena itu adalah karunia Tuhan. Jangan ngongso. Kita masing-masing memang diwajibkan berusaha mendapatkan yang lebih baik lagi. Hanya caranya harus baik dan menuruti adat kejujuran.

Banyak orang yang tidak mengerti apa itu kegembiraan dan kebahagiaan. Padahal itu ditemukannya setiap hari, bahkan berkali-kali dalam setiap hari. Umpamanya seseorang yang hampir jatuh, tapi tidak jadi. Dia tidak mengetahui bahwa itulah kebahagiaan. Dia bilang: Untung tidka jatuh! Ya, itu! Perasaan beruntung itulah yang bisa disebut kebahagiaan. Atau tiba-tiba hujan, dia bawa payung. Dia mengatakan: ah, untung bawa payung. Hatinya senang sekali, karena tidak terpaksa menunggu sampai hujan teduh. Nah, itu perasaan amat senang itu dapat disebut kebahagiaan juga.

Tidak ada pekerjaan yang hina selama kita mengerjakan setulus hati, dengan kepercayaan, kejujuran, tanpa mengganggu orang lain. Semua pekerjaan itu baik. Tergantung kepada cara kita menunaikannya dan menempatkan diri di kalangan tugas tersebut.

Ibu memperingatkan anak-anak agar selalu mencintai dan menghormati bumi dan Tuhan penciptanya

Advertisements
Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: