Kisah Kehidupan dan Cinta Pearl S Buck

Kisah Kehidupan dan Cinta Pearl S. Buck

Judul : Pearl of China
Penulis :  Anchee Min
Penterjemah :  Rika Iffati Farihah
Penyunting :  Suhindrati a.Shinta
ISBN : 9786028579629
Halaman : 406
Penerbit : Qanita
Cetakan : April 2009

“Aku paham Pearl ingin menulis novel untuk melepaskan diri dari hidupnya. Namun, siapa yang ingin membaca cerita-ceritanya? Orang China tidak perlu perempuan pirang menuturkan kisah mereka, sementara orang Barat tidak tertarik pada China. Apa yang membuat Pearl mengira dia mempunyai peluang sukses?

Begitulah perkataan Loosing Buck kepada Willow, sahabat Pearl. Nyata benar bahwa suami Pearl sama sekali tidak mendukung Pearl untuk menulis. Awalnya Pearl menikahi Loosing karena kecintaan mereka akan China. Namun, ternyata Pearl lebih China daripada Loosing sehingga perbedaan di antara mereka semakin nyata. Memang dari segala sisi Pearl adalah orang China, selain dari ciri fisik dan warna rambutnya. Hal Itu pulalah yang membuat Hsu Chih-mo sang pujangga baru China tertarik padanya. Berbeda dengan Loosing yang selalu tak pernah memberinya dukungan untuk menulis, Hsu Chih-mo merupakan pengagum tulisan-tulisan Pearl dan selalu memuji hasil karyanya. Sang sahabat Pearl, Willow yang merupakan pemuja Hsu Chi-mo harus menelan kekecewaan ketika Pearl dan Hsu Chih-mo saling mencintai. Namun kisah percintaaan antara Pearl dengan Hsu Chih-mo tak bertahan lama karena kecelakaan pesawat yang menimpa Hsu Chih-mo berujung pada kematiannya. Bertahun-tahun setelah Hsu-Chih-mo meninggal dan Pearl menjadi novelis Amerika serta memenangkan Penghargaan Nobel serta Pulitzer dia menulis tentang Hsu Chih-mo

“Dia merebut perhatianku dengan cintanya, dan kemudian dia biarkan aku pulang. Sesampai ku di Amerika, kusadari bahwa cintanya ada dalam diriku, dan akan tetap di situ selamanya.” .

Ya, buku ini menceritakan tentang kisah cinta Pearl Buck. Yang sangat menarik buku ini tak hanya melulu berkisah tentang cerita cintanya dengan para lelaki, namun juga kisah cintanya kepada China tanah dimana dia tumbuh, kisah cintanya terhadap aktivitas menulis, dan yang terutama kisah cintanya dengan sahabat Chinanya Willow. Seluruh kisah cintanya Pearl Buck ini digambarkan oleh sahabatnya Willow.

Pertama kali Willow bertemu dengan Pearl, ketika dirinya mencuri di rumah ayahnya Pearl, Absalom adalah seorang misionaris. Pearl membututi Willow tetapi tak berhasil membuktikan Willow telah mencuri. Namun, meskipun Pearl bisa menangkap basah Willow, Willow   berbohong tidak mau mengakui dirinya mencuri. Ketika Pearl menyelamatkan Willow, Willow merasa sangat menyesal. Dan pada akhirnya mereka bersahabat  baik Apalagi ketika ayahnya Willow telah masuk Kristen dan membantu Absalom di gereja . Berbagai kegiatan mereka lakukan bersama, mengemban tugas dari ayah mereka untuk mengenalkan Tuhan pada teman-teman sepermainan mereka, menonton sandiwara “sepasang kekasih kupu-kupu”, menikmati berondong jagung, menyusuri kota dan bermain  bersama. Namun, kebersamaan mereka  harus berakhir karena adanya pemberontakan Boxer, meskipun Pearl merasa China adalah negerinya dan merasa asing di Amerika, namun karena keamanan mereka sekeluarga pindah dari Chin-kiang ke Shanghai dimana gerakan pasukan Boxer berhasil ditahan oleh militer internasional.

Waktupun berlalu, mereka tetap bersahabat, melalui surat-suratnya Willow mengabarkan kehidupannya pada Pearl.  Willow memutuskan untuk lari dari suaminya yang tidak pernah membuatnya bahagia dengan pernikahannya ketika remaja dan  tentang keikut sertaanya pada Partai Nasional China pimpinan Dr. Sun Yat-Sen, sementara Pearl menuntut ilmu. Kemudian Pearl kembali ke China ketika menikah dengan Loosing, saat itulah mereka bertemu kembali.   Pearl  mengasah kemampuannya menulis dengan menulis artikel dalam suratkabarnya Willow The Chin-Kiang Independent  dengan menggunakan nama samaran Wei Liang  dan Er-Ping yang membuat banyak orang sangat terkesan dengan analisis dan essai Pearl. Kebersamaan Pearl dan Willow terjalin kembali ketika Willow bekerja di The Nanking Daily sementara Pearl mengajar di Universitas Nanking. Mereka saling berdiskusi karya-karya Ku Xun, Lao-She dan Cao Yu dan pujangga baru Hsu Chih-mo. Saat itu pulalah mereka mengenal Hsu Chih-mo dan Dick Lu lebih dekat. Setelah menginggalnya Hsu Chih-mo,  Willow menikah dengan Dick Lu sementara Pearl tetap mengajar di universitas Nanking. Karena perubahan situasi politik di China, menyebabkan Willow dan Pearl harus terpisah. Pearl meninggalkan China dan kembali ke Amerika.

Karena keyakinan Pearl akan kisah Chinanya menjadikan dia meraih penghargaan Nobel dan Pulitzer.

“Aku menaruh kepercayaan pada cerita-cerita Chinaku. Tidak ada penulis Barat lain yang dapat mendekati apa yang kutawarkan-seperti apa sesungguhnya kehidupan di Timur. Demi Tuhan, aku hidup di situ. Dunia China berseru-seru meminta dieksplorasi. China itu seperti Amerika dahulu-subur dan penuh potensi.”

Akan tetapi, karena tulisannya pula, sampai akhir hayatnya dia tidak diperbolehkan oleh pemerintah Komunis untuk menjejakkan kaki di China, tanah yang dianggap tanah airnya. Selama hidup di Amerika Pearl tinggak di rumah yang penuh dengan ornamen China dan meninggal dengan tulisan nisan berhurufkan China, menunjukkan bahwa Pearl tetap merasakan bahwa dirinya orang China.

Dengan membaca buku ini, saya menjadi bertanya-tanya apakah artinya tanah air, apalagi dikala dunia semakin datar saat ini. Apakah tanah dimana kita lahir atau tanah dimana kita tumbuh dan merasakan cinta kita begitu besar ketika berada di sana. Di buku ini, kita juga bisa sedikit mengetahui tentanng sejarah China mulai dari Pemberontakan Boxer, Sun-Yat Sen, Pemerintahan Nasionalis, Pemerintahan Komunis, sampai pembentukan Republik Rakyat China. Juga perkembangan sastra China digambarkan dengan diskusi berbagai karya sastra antara Willow dengan Pearl tentang karya-karya China juga Diskusi antara Pearl dengan Hsu Chin-mo.

Kisah yang mengharukan dan memukau ini, memang menceritakan kehidupan Pearl Buck dari kacamata Willow sahabatnya. Namun, saya tetap merasa jika di buku ini kurang menceritakan kisah hidup Pearl Buck sesampainya di Amerika, begitupula dengan surat-surat yang dikirim oleh Willow, tidak disebutkan balasan dari Pearl. Padahal dari surat-surat yang dikirimkan oleh Pearl saya bisa banyak belajar tentang pemikirannya dan bisa mengenalnya lebih dalam.

Kutipan yang saya suka dari buku ini:

Menulis novel itu seperti memburu dan menangkap roh, demikian penuturan Pearl Buck kelak mengenai proses menulisnya. Novelis diundang masuk ke dalam mimpi-mimpi luar yang luar biasa indah. Mereka yang beruntung dapat menjalani mimpinya satu kali, sementara yang paling beruntung berkali-kali.

“ Sebagai cara untuk mengeluarkan hatinya, Pearl mulai menulis. Dia mendapat ketenangan dalam menulis. Dia berkata kepadaku bahwa imajinasi adalah satu-satunya tempat dia bisa bebas dan menjadi dirinya sendiri.”

Advertisements
Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: