Monthly Archives: April 2011

Obrolan tentang Jakarta

buku seno gumira aji darma

Judul : Affair: Obrolan Tentang Jakarta
Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Penyunting :
Pewajah Isi :
ISBN : 9793239107
Halaman : 219
Penerbit : Buku Baik
Cetakan : 2004

Obrolan tentang Jakarta takkan pernah ada habisnya, Jakarta yang dipuji sekaligus dicaci. Berbagai tingkah polah manusia Jakarta menjadi sumber obrolan yang menarik. Homo Jakartanesis begitulah Seno Gumira Ajidarma mengistilahkan manusia-manusia Jakarta. Buku ini merupakan kumpulan dari berbagai tulisan SGA yang telah dipubllikasikan di berbagai media massa.

Meskipun dibuat pada tahun 2004, namun apa yang dibicarakan di buku ini masih relevan dengan Jakarta dan manusia Jakarta saat ini. Dalam buku ini, selain memotret kisah Jakarta, SGA juga membincangkan tingkah polah Homo Jakartanesis yang menggelitik. Cukup lucu untuk dijadikah bahan tertawaan, namun di sisi lain menjadi cerminan atau bahkan sindiran.

Homo Jakartanesis adalah penyembah Berhala Jakarta :Semoga Sukses!, yang terlelap dalam impian-impian berbau Luar Negeri , orang Jakarta yang merasa dirinya elit dan kosmopolit yang sering mengucapkan kampungan, dimaksudkan untuk merendahkan sesuatu yang lain, sekaligus juga berarti meninggikan diri sendiri. Manusia Jakarta adalah Konsumen Agung yang mempunyai selera bagus dan pilihan berkelas tapitidak bisa menjadi produsen agung. berkat kemacetan Jakarta Manusia Jakarta adalah Manusia Mobil karena mobil bukan hanya menjadi sarana transportasi namun mobil telah menjadi dunia ketiga setelah rumah dan tempat kerja.
The Art of Nasi Uduk mengembalikan Homo Jakartanesis menjadi manusia dengan Kepribadian Sendal Jepit . Manusia-manusia Jakarta sebenarnya terasing di tengah gemerlapnya kota Jakarta juga memiliki jiwa kosong, yang Paranoia di setiap paginya sehingga membutuhkan hiburan; hiburan bukan lagi selingan, hiburan telah jadi tujuan. Hiburan adalah Panglima .

SGA juga mengangkat obrolan tentang Bayi dalam Gendongan:Sebuah Teater Jalanan dimana mengemis barangkali bukan lagi potret kemiskinan, melainkan kreativitas , juga berbincang tentang Seni dan Air Seni Sopir Taksi , Penyanyi Dangdut di Tepi Jalan , Pembongkat , C(S)eleb atawa Pesohor

SGA mempertanyakan masihkan bisa saling mengenal tanpa ada kepentingan di jakarta? Masih adakah cinta sejati di Jakarta? Bagaimana nasib Jakarta tanpa Indonesia? dan Masihkah Jakarta berati Kemenangan?.

Dalam buku ini, SGA juga menggambarkan bahwa Jakarta tidak Gemerlapan karena kegermelapan Jakarta adalah cermin kepahitan yang gagal karena kegermelapan Jakarta tidak mencerminkan kegermelapan jiwa warga kota.

Yah, dua tahun menumpang hidup di Jakarta cukup bagi saya menilai Jakarta, dan tak juga saya merasa nyaman dan betah dengan kota ini, mungkin tepat dengan apa yang SGA deskripsikan segala keramaian dan gemerlapan kota juga dengan berbagai varian Homo Jakartanesis. Namun setelah membaca buku ini, saya belajar untuk tetap dapat memberi makna bagi hidup saya dengan melihat, mencari dan menemukan Jakarta yang lain dan Tak cukup menemukan, kita bisa mengadakan Jakarta yang lain itu…. Toh, bagaimanapun saya telah menjadi bagian dari Jakarta, yang turut mewarnai wajah Ibukota.

Advertisements
Tagged ,

Kisah Seru Para Ibu

Judul : Jumpalitan Menjadi Ibu
Penulis : Sari Meutia, Tria Ayu Kusumawardhani, Qonita Musa, Retnadi Nur’aini, Sylvia Namira, Nadiah Alwi, Dewi Rieka, Nita Candra, Aan Wulandari, Triani Retno, Fita Chakra, Erlna Ayu, Indah IP, Pangestu Ningsih, Ambhita Dhyaningrum, Estu Sudjono, Indah Juli, Nunik Utami, Haya Aliya Zaki.
Penyunting :  Rini Nurul
Pewajah Isi :
ISBN : 9793239107
Halaman : 219
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House
Cetakan : Febuari 2011

Buku ini mengisahkan 19 cerita dari 19 para Ibu tentang suka dukanya mereka menjadi Ibu. Bagaimana mereka menjadi jumpalitan menghadapi hari-harinya. Cerita yang mamancing tawa namun juga kadanng penuh keharuan.
Buku ini membagi pengalaman dari para Ibu dalam menghadapi tumbuh kembang si kecil, adapula yang berbagi kehawatiran akan anaknya yang remaja.

Dari cerita ini, saya bisa menyimpulkan bahwa dengan menjadi Ibu, perlu kesabaran yang lebih, tenaga yang ekstra, kreatifitas yang tinggi dan wawasan yang luas. Ini bukan merupakan prasyarat untuk menjadi Ibu, tetapi proses pembelajaran seorang Ibu. Sebenarnya bukan hanya anak yang tumbuh dan berkembang, tetapi Ibupun tumbuh dan berkembang seiring dengan anaknya.
Juga,dari cerita dalam buku ini, seberapapun jumpalitannya para Ibu ini, segala rasa yang tidak mengenakkan itu terbayar ketika melihat anaknya tersenyum manis atau tertawa bahagia.

Dengan membaca cerita dari para Ibu ini, saya menjadi lebih menghargai dan menyayangi Ibu saya. Karena meskipun tanpa kata-kata ataupun untaian tulisan betapa jumpalitannya beliau ketika membesarkan saya dulu, sampai sekarang saya masih bisa merasakan beliu tetap jumpalitan demi saya hanya untuk melihat diri saya lebih baik dari dirinya dan melihat saya bahagia…

Tagged