Monthly Archives: January 2012

The Journeys: Kisah Perjalanan Para Pencerita

Judul : The Journeys: Kisah Perjalanan Para Pencerita
Penulis : Aditiya Mulya, Alexander Thian, Farida Susanti, Gama Harjono, Ferdiriva Hamzah, Okke ‘Sepatumerah’, Raditya Dika, Trinity, Valiant Budi, Ve Hanjono, Windy Ariestanty, Winna Efendi.
Penyunting : Resita Wahyu Febiratri
Pewajah Sampul :  Jeffri Fernando
ISBN : 9789797804817
Halaman : 243
Penerbit : Gagas Media
Cetakan : Cetakan kedua, 2011

Hal yang menarik dari melakukan perjalanan adalah menemukan.

Pada perjalanan yang panjang-panjang itu, dan mungkin juga singkat, kita hanya berharap menemukan. Menemukan sesuatu untuk di bawa pulang. Mungkin juga dikenang lalu diceritakan.

Buku ini, merupakan kisah dua belas orang penulis yang berasal dari latar belakang yang berbeda dengan gaya penulisan yang berbeda namun disatukan oleh perjalanan menemukan dalam  kisah perjalannya.  Membaca buku ini, membuat saya bepetualang, menjelajah berbagai tempat yang belum saya singgahi, mengetahui hal-hal baru, mengajak saya untuk menemukan.  Mulai dari menemukan wana Afrika dari kacamata seorang Aditya Mulya sampai dengan menemukan makna kata Sompral dari kisah perjalanan Okke “Sepatumerah’ ketika mengunjungi Pantai Kolbano dan makna keyakinan dari Valiant Budi ketikan menemukan sisi lain kota Mekah.  Saya menemukan berbagai fakta tak terduga: the truth behind free travelling dari Trinity dan beragam budaya setempat yang dikunjung baik itu di Swiss, Tel Aviv, juga  Spanyol, dan Mekah.

Dari berbagai perjalanan seperti perjalanannya  Gama Harjono, Alexander Thian ataupun Ve Handojo  saya menemukan peran dan arti sahabat sampai terwujudnya sebuah kisah perjalanan.  Maka, sungguh tak rugi sama sekali menjaga hubungan pertemanan, mungkin suatu hari nanti kita yang bisa berperan dalam kisah perjalanan teman kita yang lain atau mungkin justru teman atau sahabat kitalah yang memegang peranan yang penting dalam kisah petualangan kita.

Kemudian perjalanan menemukan “most of the time, beauty lies in the simplest of thigs” dari seorang Winna Efendi di Desa Air dan perjalanan Windy Ariestanty yang menemukan momen bahagia  di Luceme membuat saya ingin menemukan kebahagian dalam hal-hal kecil yang dijumpai saat perjalanan dan menerapkan tips Windy untuk ‘sejenak saja, berhenti berjalan. Tak perlu bergegas untuk menikmati secuil bahagia di kota ini’.

Menemukan hal tak terduga dari kepenasaran karena keberanian Farida Susanti dalam menyibak peta gelapnya. Menurutnya, peta dunia ini bekerja seperti game RPG. Kita bisa diam di suatu tempat dan dunia kita terbatas hanya sebesar itu, atau kita berjalan ke tempat-tempat yang belum pernah kita datangi dan melihat sibakan-sibakan kegelapan terbuka, lalu peta dunia kita tiba-tiba membesar.  Farida menemukan bahwa, “setelah mengadakan perjalanan itu, saya sadar bahwa dalam perjalanan, kamu meledakkan dua hal sekaligus, dunia luarmu dan di dunia di dalamu. Kamu melihat hal-hal nyata yang memang baru, sekaligus melihat sesuatu di dalam kepalamu juga. Saya sedang menyikap peta gelap saya dan tidak tahu apa yang akan ditemukan.” Dan saya menemukan bahwa menyikap peta gelap itu mengasyikkan karena  kita akan menemukan kejutan-kejutan, sesuatu hal yang  baru.

Ternyata, saya menemukan bahwa tak hanya sahabat ataupun teman yang bisa menjadi teman seperjalanan yang mengasyikkan. Mertua pun bisa menjadi teman seperjalanan yang menyenangkan, seperti halnya  yang dialami oleh Ferdirina Hamzah. “Travelling  yang asyik itu bukan masalah siapa teman seperjalanan kita, tapi bagaimana cara kita memandang travelling itu sendiri. By thinking positively, in every situation, you can enjoy the travelling itself, not fussing over whom you’re travelling with”. Senada dengan kisah Raditya Dika dalam menemukan kasih Ibu selama di Belanda. “Seharusnya, semakin tua umur kita, kita tidak semakin ingin mandiri dengan orang tua. Seharusnya, semakin tua umur kita, semakin kita dekat dengan orang tua.” Dan “Sesungguhnya, terlalu perhatiannya orangtua kita adalah gangguan terindah yang pernah bisa kita terima.”

Saya juga menemukan bahwa travelling bisa menjadi penyembuh jiwa yang efektif berkaca pada pengalaman Alexander Thian yang menemukan kembali hati yang damai dan plong  ketika menghabiskan liburan ke Karimun Jawa.

Banyak hal yang saya temukan dalam buku ini, namun adakalanya saya merasa kehilangan jejak dari benang merah proses menemukan dalam berbagai cerita di buku ini.

Akan tetapi, pada akhirnya buku ini sukses membuat saya sangat ingin untuk menemukan dalam kisah perjalanan yang saya lakukan sendiri. Seperti pesannya Windy di halaman pertama buku ini: Selamat menemukan!

Konon, bumi ini milik mereka yang berhenti sejenak untuk melihat-lihat lalu meneruskan perjalanannya –Anonymous-

Advertisements
Tagged , ,

Dua Tangis dan Ribuan Tawa

Image

Judul : Dua Tangis dan Ribuan Tawa
Penulis : Dahlan Iskan
Penyunting :
Pewajah Isi :
ISBN : 9786020011813
Halaman : 349
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Ceteakan ketiga, November 2011

Selama enam bulan, saya dua kali menangis. sekali di ruang rapat dan sekali lagi di Komisi VII DPR RI. Kadang memang begitu sulit mencari ajlan cepat untuk mengatasi persoalan. Kadang sebuah batu terlalu sulit untuk dipecahkan. Tapi bukan berarti hari-hari saya di PLN adalah hari-hari yang sedih. Ribuan kali saya bisa tertawa lepas.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan Dahlan Iskan sebagai CEO PLN sebagai salah satu cara untuk berkomunikasi dengan karyawannya yang berjumlah 50.000 orang dan tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Semangat untuk memperbaiki berbagai permasalahan PLN, semangat untuk memberikan pelayanan yang terbaik.

Meskipun Dahlan Iskan menerapkan target-target yang pada awalnya dianggap tidak mungkin dilakukan namun berhasil untuk dicapai pada akhirnya. Dahlan Iskan beserta jajarannya di PLN berhasil menaklukan tiga musuh besarnya selama ini yaitu krisis listrik yang berhasil diatasi hanya dalam waktu enam bulan (Januari-Juni 2010), kedua panjangnya daftar tunggu yang berhasil diatasi sebanyak 2,5 juta orang dengan gerakan sehari sejuta sambungan (GRASS) dan yang ketiga, gangguan trafo yang tahun lalu bisa mencapai 50 kali sebulan sudah tinggal satu digit. Namun, masih ada dua musuh besar yang menjadi tantangan untuk dikalahkan yaitu ganngguan penyulang dan BBM yang menyebabkan PLN boros sebanyak 15 triliun rupiah setiap tahun.

Membaca buku ini, meskipun saya bukan berasal dari PLN, tetapi saya bisa merasakan semangat perubahan, semangat kerja keras dan semangat untuk memberikan yang terbaik untuk Indonesia. Sehingga bisa membuat PLN menjadi lebih baik.

Meskipun saya merasa bahwa, jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga pelayanan PLN masihlah jauh tertinggal. Misalnya saja negara Taiwan yang sebelum melakukan pemadaman listrik memberitahu terlebih dahulu sebelumnya, juga memberitahu durasinya sehingga para pelanggan bisa mengantisipasi pemadaman tersebut. Memang, sekarang pemadaman tidak sesering dahulu, tetapi masih tetap ada pemadaman tanpa pemberitahuan sebelumnya. Namun, saya optimis jika pemimpin PLN memiliki integritas seperti Dahlan Iskan dan melanjutkan apa-apa yang telah dirintis oleh Dahlan Iskan maka PLN bisa mengejar ketertinggalannya.

Dalam buku ini  seringkali membahas hal-hal yang teknis,akan tetapi justru  hal-hal tersebut memberikan wawasan yang lebih tentang dunia pelistrikan. Buku ini juga membuat saya bersyukur bisa merasakan nikmatnya listrik, sementara di belahan pelosok Indonesia yang lain menikmati curahan listrik masih dalam impian.

Kutipan-kutipan menarik dari buku ini

Dengan sekolah, seseorang mendapatkan ilmu. dengan magang seseorang mendapatkan ilmu sekaligus sikap karakternya. Pemimpin tidak hanya harus pandai, tapi juga harus berkarakter. Yang tearakhir itu tidak akan bisa didapat di jenjang pendidikan formal. (218)

Integritas diutamakan agar seseorang pemimpin tidak membawa kepada kerusakan. Kerusakan perusahaan dan kerusakan manusianya. Orang biasa yang tidak punya integritas hanya akan merusak dirinya. Tapi pimpinan yang tidak berintegritas akan menimbulkan kerusakan yang luas (237)