Monthly Archives: May 2012

Having Fun di Perpustakaan, Kenapa Engga?

Langkah kreatif dan inovatif dilakukan oleh perpustakaan-perpustakaan di Belanda sehingga mendobrak stereotype perpustakaan sebagai tempat yang membosankan.

Langkah tersebut dimulai dengan arsitektur perpustakaan yang tak hanya unik dan menarik tetapi juga ramah terhadap lingkungan seperti  TU Delf Library. Di disain oleh Mecannoo, gedung ini memanfaatkan atapnya untuk ruang hijau yang dapat digunakan sebagai tempat bersantai dan bermain, selain itu berfungsi sebagai pendingin dan membantu mengendalikan limpasan air hujan.

Gedung Perpustakaan TU-Delf


Hal yang menarik dari berbagai perpustakaan  di Belanda adalah penggunaan desain interior dengan  perpaduan warna yang cerah  sehingga menghapus kesan perpustakaan suram dan kelam. Seperti perpustakaan DOK Library (DOK merupakan  pusat media yang mengkombinasikan musik dan film (dalam bahasa Belanda disebut Discotake) dan literatur Openbare bibliotheek Koninklijke) yang bertempat di Delf, warna ruangan disesuaikan dengan genre buku yang dipajang. Misalnya untuk buku-buku bergenre roman maka nuansa ruangan didominasi oleh warna merah, sedangkan untuk buku-buku grafis, ruangan dipulas dengan warna kuning-merah muda  dengan sofa hitam. Juga penggunaan tema ruangan belajr di perpustakaan TU-Delf.

Warna-warni di ruangan DOK Library

Warna-Warni Perpustakaan TU-Delf

Kursi-kursi yang ada dalam perpustakaan dibuat dengan desain keren juga super nyaman sehingga betah duduk berlama-lama di kursi-kursi tersebut.

Kursi-kursi keren dan nyaman di DOK library

Kursi-kursi  keren di Perpustakaan Universitas Amsterdam

Kursi-kursi keren di Perpustakaan TU-Delf

Berbagai fasilitas disediakan untuk membuat orang bisa bersenang-senang  di perpustakaan, bukan hanya untuk para kutu buku saja, tetapi juga para maniak musik dan film. Seperti di DOK Library, yang tak hanya menyediakan pemutar film atau musik tetapi juga  menyediakan kursi yang super nyaman untuk pencinta musik:

Kursi musik (Muziekstolen)

Selain itu, berbagai perpustakaan juga menyediakan fasilitas bermain untuk anak. Melihat galeri foto DOK tampak terlihat bahwa perpustkaan ini seringkali mengadakan acara sehingga sejak dini, anak-anak sudah terbiasa bermain dan menghabiskan waktu di perpustakaan.

Fasilitas bermain untuk anak di DOK Library

Tempat bermain akan di Almere Library

Berbagai kemudahan juga ditawarkan oleh berbagai perpustakaan dengan fasilitas digital self service.

Fasilitas digital dari Amsterdam Schiphols Airport Library

Fasilitas Digital di DOK Library

Fasilitas digital di Perpustakaan TU-Defl

Inovasi juga dilakukan buat orang-orang yang males dateng ke perpustakaan dengan menyediakan perpustakaan di ruang publik seperti bandara dan pantai.

Perputakaan di Pantai: serunya membaca dengan semilir angin pantai dan lantunan ombak

Lagkah kreatif juga dilakukan dengan  membuat perpustakaan bergerak dari kontainer sehingga bisa  menjangkau sekolah-sekolah yang kekurangan dana ataupun tempat untuk perpustakaan. Meskipun dari kontainer, desain perpustakaan ini tak kalah menarik lhoo, jendela yang besar sehingga anak-anak bisa melihat ke luar. Interior yang menyenangkan  membuat anak-anak betah di dalam perpustakaan ini.

BiebBus: kontainer yang dialihfungsikan sebagai perpustakaan

Dengan langkah inovasi dan kreatif peran perpustakaan di Belanda tak hanya sebagai sumber informasi tetapi juga menumbukembanngkan budaya baca-tulis. Sehingga tak heran, perpustakaan menjadi salah satu tempat alternative bagi para warganya untuk menghabiskan liburan dan tentu saja: untuk bersenang-senang.

Bersenang-senang dimulai dari perpustakaan

Referensi:

Tagged ,

Minamoto No Yoritomo

Judul : Minamoto no Yoritomo
Penulis : Eiji Yoshikawa
Penterjemah : Yoko Yakebe
Penyunting :  Tim Kansha
Pewajah Sampul : Wenart Gunadi
Pewajah Isi : Callysta Ceria
ISBN : 9786029719635
Halaman : 388
Penerbit : >Kansha Books
Cetakan : February  2012

Sebuah kisah novel sejarah yang menceritakan tentang kehidupan klan Minamoto no Yoritomo yang kalah perang dengan klan Taira. Akibat dari perang tersebut, Pangeran Suke harus menjadi seorang anak yatim piatu pada umur empat belas tahun dan diancam dengan hukuman mati setelah ditemukan oleh Munekiyo, bawahan Taira Yomori.  Sementara itu, ibu tirinya Pangeran Suke, Tokiwa Gozen berjuang untuk bertahan hidup bersama ketiga putranya; Imakawa yang berusia tujuh tahun, Otowaka yang berusia lima tahun dan Ushiwaka yang masih menyusui.

Ibu dan adik tirinya disarankan untuk menyerah kepada Taira Yorimori oleh keluarganya yang memiliki motif lain. Namun, ternyata Taira tidak menghukum mati Ibu dan adik tirinya, hanya mengirim ketiga adik tirinya ke wihara agar menjadi biksu. Sementara Pangeran Suke juga mendapatkan pengampunan dengan hukuman pengasingan ke negeri Izu.

Waktu berjalan dengan cepat,  Ushikawa sudah berumur 14 tahun, meskipun dia tinggal di dalam kuil di Gunung Kurama, Ushikawa tidak menganggap dirinya bagian dari biksu dan seringkali menghilang dan dihukum karena kelakuannya.  Dalam diri Ushikawa, memendam  sebuah  kerinduan untuk bisa bertemu dengan Ibunya juga saudaranya yang lain, juga menyimpan sebuah bara untuk terhadap klan taira yang membuatnya hidup terpisah. Akhirnya pada sebuah kesempatan dia berhasil melarikan diri dari kuil dan berencana untuk menemui Ibunya dan juga saudara tirinya.Sementara itu, Pangeran Suke di pengasingannya, tak hanya berdiam diri tetapi juga merancang berbagai strategi dengan pangeran-pangeran di daerah setempat yang berempati dan berafiliasi terhadap klan Yoritomo. Masako, putri seorang yang  berpengaruh di daerah tersebut rela menjadi bagian dari rencana besar Yoritomo bahkan bersedia mempertaruhkan nyawanya dari awal demi hubungannya dengan Pangeran Suke.  Lalu apakah Ushikawa berhasil menemui Pangeran Suke? Apakah rencana mereka untuk memerangi klan Taira memperoleh kemenangan?  Bagimana nasib Masako dengan Pangeran Suke? Beragam pertanyaan yang berkecamuk di kepala harus sabar menunggu jawabannya di buku ke dua.

Dari buku ini saya bisa belajar tentang keberanian, pengorbanan, kesetiaan, kemampuan untuk bertahan dalam kondisi sesulit apapun. Dari buku ini, tentunya saja belajar tentang sejarah Jepang. Seorang shogun pertama dari Kamkura Shogunate yang memerintah dari tahun 1192 sampai denagn 1199 sebelum masa Restorasi Meiji. Saya suka membaca novel sejarah karena membaca sejarah menjadi menyenangkan dan tidak membosankan. Akan tetapi, sayang sekali untuk buku ini, saya kurang menikmatinya. Saya merasa bahasanya kurang mengalir dan hal ini mungkin disebabkan kompleksitas sebuah kalimat. Sebagai contoh kalimat berikut:

Bagi dia yang memiliki bakat dagang, yang selau memepertaruhkan keberuntungan dengan berspekulasi namun akhirnya berhasil, rencana kali ini memang berjangka panjang tetapi dia percaya bahwa ini bukanlah hal yang terlalu sulit.

Buat saya, perlu berhari-hari menghabiskan buku ini, padahal dengan ketebalan yang sama bisanya saya bisa menghabiskannya dalam waktu sehari saja. Salah satu alasan lain, mengapa saya begitu lama melahap buku ini karena begitu banyak penamaan untuk satu orang karakter misalnya Pangeran Suke yang bernama panjang Uhyeo no Suke Yoritomo terkadang disebut sebagai Yoritomo. Begitupula dengan nama-nama karakter yang lainnya. Sehingga sedikit membingungkan. Memang,  seperti itulah penamaan orang dalam buku aslinya (budaya Jepang) . Akan tetapi, saya pernah membaca buku Sworldless Samurai yang menyederhanakan penyebutan dengan satu nama orang:Tadeyoshi, sehingga memudahkan saya dalam mencerna keseluruhan cerita, tanpa berkurangnya makna historikal yang terkandung. Karena terdapat sebuah catatan yang menjelaskan perubahan nama Tadeyoshi secara terpisah.

Namun, segala kekurangan yang dalam buku ini, tetap membuat buku ini layak untuk dibaca terutama untung orang yang menyukai novel-sejarah atau orang yang ingin menambah wawasan tentang kondisi Jepang di abad 1920an.

Tagged , ,