Monthly Archives: March 2015

Cara Mendidik Anak Ala China

battle-hymn-of-the-tiger-mother-cara-mendidik-anak-agar-sukses-cara-china

“Mommy ibu yang mengerikan.Egois. Tidak peduli apa-apa kecuali diri sendiri. Apa-Mommy tidak percaya betapa tidak bersyukurnya aku? Setelah semua yang Mommy lakukan untukku? Semua yang Mommy bilang Mommy lakukan untukku sebenarnya Mommy lakukan untuk diri sendiri.”

Begitulah yang dikatakan Lulu, anak kedua dari Amy Chua sebagai puncak dari pemberontakan dari didikan ala China Ibunya yang super keras. Sebelumnya Lulu seringkali tidak patuh terhadap Ibunya yang menuntutnya untuk latihan piano, bahkan meskipun alat musiknya diganti dengan biola, Lulu menunjukkan perlawanan  atas segala pemaksaan yang dilakukan Ibunya ketika mengharuskannya  latihan biola lebih lama atau bermain biola ketika liburan atau ketika harus memainkan biola di hari specialnya. Tapi, sebagai Ibu China, Amy tak pernah mengalah dan menganggapnya sebagai sebuah pertempuran. Meski pun begitu, Lulu selalu mendapatkan prestasi membanggakan di sekolah .Berbeda dengan Lulu, Kakanya Sophia sangat penurut dan memenuhi semua rencana dan ambisi ibunya sehingga menjadi anak yang membanggakan dan menuai banyak pujian.

Buku ini, merupakan sebuah memoar Amy Chua, seorang Ibu imigran keturunan China di Amerika yang mendidik kedua anaknya dengan ala-China. Meskipun Amy Chua seorang professor yang menyenangkan bagi mahasiswanya di sebuah universitas Yale, tidak untuk kedua anaknya. Berbagai peraturan ketat diterapkan, seperti halnya orang tua China yang melarang anak-anaknya untuk menginap di rumah teman, janjian bermain bersama teman-teman, ikut drama di sekolah, mengeluh karena tidak diizinkan ikut drama di sekolah, menonton TV atau main game kompoter, memilih kegiatan ekstrakulikuler sendiri, mendapat nilai di bawah A, tidak mendapat nomor satu di setiap pelaaran kecuali olahraga dan drama. Ibu China percaya bahwa tugas sekolah selalu menempati urutan pertama, nilai A minus itu jelek, anak-anak harus mencapai taraf penguasaan matematika dua tahun di atas kemampuan teman-teman sekelasnya, orangtua tidak boleh memuji anak di depan orang lain, kalau anak sampai pernah berbeda pendapat dengan guru atau pelatih, orang tua harus membela guru atau pelatih, satu-satunya kegiatan yang boleh dilakukan adalah yang memungkinkan merek amemenangkan mendali dan mendalinya harus mendali emas. Menurut Amy, orang tua China punya dua keunggulan dibandingkan dengan orangtua Barat: pertama, cita-cita yang lebih tinggi untuk anak-anaknya dan yang kedua, rasa hormat yang lebih besar terhadap anak-anaknya dalam mengenal seberapa banyak hal yang mampu mereka pelajari. Oleh karena itu, Amy percaya sepenuhnya pendidikan ala China-seperti yang diterapkan orangtuanya padanya merupakan pola pendidikan yang sangat tepat dibandingkan dengan pendidikan barat. Menurutnya, terdapat tiga perbedaan besar antara pola pikir orangtua China dan Barat. Pertama, orang tua Barat luarbiasa cemas tentang harga diri anak-anak mereka, mereka prihatin tentang keadaan jiwa anak-anak mereka sementara orang tua China memegang teguh kekuatan dan bukan kerapuhan. Kedua, orangtua China yakin bahwa anak-anak mereka berhutang segalanya kepada mereka sehingga anak-anak China sepanjang hidupnya harus membalas budi kepada orang tua mereka dengan mematuhi dan membuat orang tua mereka bangga. Dan yang ketiga, orang tua China yakin mereka tahu apa yang terbaik untuk anak-anak mereka dan oleh sebab itu mengabaikan semua keinginan dan pilihan anak-anak mereka.
Maka sangat wajar bila tidak ada waktu untuk berleha-leha atau bersenang-senang atau bermain bagi kedua anaknya, setiap saat mereka selalu sibuk,mengerjakan berbagai tugas selain berlatih keras dengan alat musik yang dipilhkan oleh Ibunya, piano untuk Sophia dan biola untuk Lulu.
Mereka dituntut bukan hanya sekedar bisa tapi bisa mecapai prestasi dan melakukan yang terbaik sejak usia dini juga untuk berlaku sesuai kesopanan. Tidak satu hari pun mereka membolos latihan, bahkan pada hari ulang tahun mereka atau di hari mereka sakit, dan pada hari berlibur sekalipun. Bukan hanya memberikan les tambahan atau menghadirkan guru musik yang hebat,bahkan ditengah kesibukan pekerjaannya, Amy meluangkan waktu mengantarkan anaknya dan mengawasi dengan sangat ketat waktu mereka berlatih alat musik tersebut dan tak segan-segan mengecam atau menghina permainan anaknya.Tak segan-segan Amy mengeluarkan dana yang tak sedikit untuk mendukung anaknya mencapai prestasi juga memberikan pesta yang mewah untuk merayakan keberhasilan anaknya tersebut.

Buku ini memberikan jawaban, bagaimana anak-anak China dapat mencapai prestasi yang mencengangkan sejak dini, bagaimana seorang Ibu menempa mental anaknyam enjadi mental juara-yang pantang menyerah dan melipat gandakan usaha dan kerjakeras. Meskipun tampak “sangat tega” terhadap anak, tapi saya yakin orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. –Termasuk Amy Chua yang yakin dengan kerasnya didikan sejak dini, anak-anaknya akan menuai masa depan yang gemilang. Karena didikan orang tuanya mengantarkan dirinya dan juga saudara-saudaranya menjadi sesosok yang berhasil. Dalam buku ini, diceritakan bukan hanya anak saja yang bekerja keras tetapi Ibu juga. Meski harus melewwati “peperangan” dengan anaknya atau bahkan dengan suaminya.

“Tujuan Mommy sebagai orang tua adalah menyiapkan kalian untuk masadepan-bukan untuk membuat kalian suka pada Mommy.”

“Segala sesuatu yang saya lakukan sudahjelas 100% untuk kepentingan kedua putri saya. Bukti yang paling kuat, begitu banyak upaya yang saya lakukan untuk Sophia dan Lulu menyengsarakan, meletihkan dan jauh dari menyenangkan untuk saya sendiri.”

Dari buku ini saya juga belajar bahwa tidak semua pola asuh bisa diterapkan dengan tepat untuk semua anak. Hal ini dicontohkan, dengan suksesnya didikan China untuk anak pertamanya  tapi Amy harus berdamai dengan keduanya. Ketika Lulu menginjak remaja dengan memberikannya sentuhan didikan Barat yang percayaakan pentingnya pilihan pribadi, berkacapada ayahnya Amy yang merasa tidak cocok dengan didikan China dari orang tuanya sehingga memutuskan pergi jauh dari keluarganya dan membenci keluarganya.

Banyaksekali quote di bukuini yang sayasuka, dan nilai plusnya, dibuku ini quote tersebut diberikan tandakhusus

“Hidup ini begitu singkat dan begitu rapuh, tentunya kita masing-masing harus berusaha memberi sebanyak mungkin makna pada setiap tarikan napas kita, setiap detik dari waktu yang berlalu.”

Didikan keras atau lunak bukan merupakan parameter tanda cinta atau sayang orang tua pada anaknya. Jadi jangan pernah menjudge para orang tua yang membesarkan anaknya dengan cara yang berbeda dari lingkungan pada umumnya.
Salut untuk para Ibu di seluruh dunia.

Judul : Battle Hymn of The Tiger Mother : Mendidik Anak agar Sukses ala China
Penulis : Amy Chua
Penterjemah : Maria Sundah
ISBN 9789792270822
Halaman : 248
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit
: Cetakan Kedua, Desember 2011

…Postingan ini, diikutkan dalamn Non-Fiction Reading Challenge 2015

Advertisements
Tagged , , , ,