Category Archives: Review

Cara Mendidik Anak Ala China

battle-hymn-of-the-tiger-mother-cara-mendidik-anak-agar-sukses-cara-china

“Mommy ibu yang mengerikan.Egois. Tidak peduli apa-apa kecuali diri sendiri. Apa-Mommy tidak percaya betapa tidak bersyukurnya aku? Setelah semua yang Mommy lakukan untukku? Semua yang Mommy bilang Mommy lakukan untukku sebenarnya Mommy lakukan untuk diri sendiri.”

Begitulah yang dikatakan Lulu, anak kedua dari Amy Chua sebagai puncak dari pemberontakan dari didikan ala China Ibunya yang super keras. Sebelumnya Lulu seringkali tidak patuh terhadap Ibunya yang menuntutnya untuk latihan piano, bahkan meskipun alat musiknya diganti dengan biola, Lulu menunjukkan perlawanan  atas segala pemaksaan yang dilakukan Ibunya ketika mengharuskannya  latihan biola lebih lama atau bermain biola ketika liburan atau ketika harus memainkan biola di hari specialnya. Tapi, sebagai Ibu China, Amy tak pernah mengalah dan menganggapnya sebagai sebuah pertempuran. Meski pun begitu, Lulu selalu mendapatkan prestasi membanggakan di sekolah .Berbeda dengan Lulu, Kakanya Sophia sangat penurut dan memenuhi semua rencana dan ambisi ibunya sehingga menjadi anak yang membanggakan dan menuai banyak pujian.

Buku ini, merupakan sebuah memoar Amy Chua, seorang Ibu imigran keturunan China di Amerika yang mendidik kedua anaknya dengan ala-China. Meskipun Amy Chua seorang professor yang menyenangkan bagi mahasiswanya di sebuah universitas Yale, tidak untuk kedua anaknya. Berbagai peraturan ketat diterapkan, seperti halnya orang tua China yang melarang anak-anaknya untuk menginap di rumah teman, janjian bermain bersama teman-teman, ikut drama di sekolah, mengeluh karena tidak diizinkan ikut drama di sekolah, menonton TV atau main game kompoter, memilih kegiatan ekstrakulikuler sendiri, mendapat nilai di bawah A, tidak mendapat nomor satu di setiap pelaaran kecuali olahraga dan drama. Ibu China percaya bahwa tugas sekolah selalu menempati urutan pertama, nilai A minus itu jelek, anak-anak harus mencapai taraf penguasaan matematika dua tahun di atas kemampuan teman-teman sekelasnya, orangtua tidak boleh memuji anak di depan orang lain, kalau anak sampai pernah berbeda pendapat dengan guru atau pelatih, orang tua harus membela guru atau pelatih, satu-satunya kegiatan yang boleh dilakukan adalah yang memungkinkan merek amemenangkan mendali dan mendalinya harus mendali emas. Menurut Amy, orang tua China punya dua keunggulan dibandingkan dengan orangtua Barat: pertama, cita-cita yang lebih tinggi untuk anak-anaknya dan yang kedua, rasa hormat yang lebih besar terhadap anak-anaknya dalam mengenal seberapa banyak hal yang mampu mereka pelajari. Oleh karena itu, Amy percaya sepenuhnya pendidikan ala China-seperti yang diterapkan orangtuanya padanya merupakan pola pendidikan yang sangat tepat dibandingkan dengan pendidikan barat. Menurutnya, terdapat tiga perbedaan besar antara pola pikir orangtua China dan Barat. Pertama, orang tua Barat luarbiasa cemas tentang harga diri anak-anak mereka, mereka prihatin tentang keadaan jiwa anak-anak mereka sementara orang tua China memegang teguh kekuatan dan bukan kerapuhan. Kedua, orangtua China yakin bahwa anak-anak mereka berhutang segalanya kepada mereka sehingga anak-anak China sepanjang hidupnya harus membalas budi kepada orang tua mereka dengan mematuhi dan membuat orang tua mereka bangga. Dan yang ketiga, orang tua China yakin mereka tahu apa yang terbaik untuk anak-anak mereka dan oleh sebab itu mengabaikan semua keinginan dan pilihan anak-anak mereka.
Maka sangat wajar bila tidak ada waktu untuk berleha-leha atau bersenang-senang atau bermain bagi kedua anaknya, setiap saat mereka selalu sibuk,mengerjakan berbagai tugas selain berlatih keras dengan alat musik yang dipilhkan oleh Ibunya, piano untuk Sophia dan biola untuk Lulu.
Mereka dituntut bukan hanya sekedar bisa tapi bisa mecapai prestasi dan melakukan yang terbaik sejak usia dini juga untuk berlaku sesuai kesopanan. Tidak satu hari pun mereka membolos latihan, bahkan pada hari ulang tahun mereka atau di hari mereka sakit, dan pada hari berlibur sekalipun. Bukan hanya memberikan les tambahan atau menghadirkan guru musik yang hebat,bahkan ditengah kesibukan pekerjaannya, Amy meluangkan waktu mengantarkan anaknya dan mengawasi dengan sangat ketat waktu mereka berlatih alat musik tersebut dan tak segan-segan mengecam atau menghina permainan anaknya.Tak segan-segan Amy mengeluarkan dana yang tak sedikit untuk mendukung anaknya mencapai prestasi juga memberikan pesta yang mewah untuk merayakan keberhasilan anaknya tersebut.

Buku ini memberikan jawaban, bagaimana anak-anak China dapat mencapai prestasi yang mencengangkan sejak dini, bagaimana seorang Ibu menempa mental anaknyam enjadi mental juara-yang pantang menyerah dan melipat gandakan usaha dan kerjakeras. Meskipun tampak “sangat tega” terhadap anak, tapi saya yakin orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. –Termasuk Amy Chua yang yakin dengan kerasnya didikan sejak dini, anak-anaknya akan menuai masa depan yang gemilang. Karena didikan orang tuanya mengantarkan dirinya dan juga saudara-saudaranya menjadi sesosok yang berhasil. Dalam buku ini, diceritakan bukan hanya anak saja yang bekerja keras tetapi Ibu juga. Meski harus melewwati “peperangan” dengan anaknya atau bahkan dengan suaminya.

“Tujuan Mommy sebagai orang tua adalah menyiapkan kalian untuk masadepan-bukan untuk membuat kalian suka pada Mommy.”

“Segala sesuatu yang saya lakukan sudahjelas 100% untuk kepentingan kedua putri saya. Bukti yang paling kuat, begitu banyak upaya yang saya lakukan untuk Sophia dan Lulu menyengsarakan, meletihkan dan jauh dari menyenangkan untuk saya sendiri.”

Dari buku ini saya juga belajar bahwa tidak semua pola asuh bisa diterapkan dengan tepat untuk semua anak. Hal ini dicontohkan, dengan suksesnya didikan China untuk anak pertamanya  tapi Amy harus berdamai dengan keduanya. Ketika Lulu menginjak remaja dengan memberikannya sentuhan didikan Barat yang percayaakan pentingnya pilihan pribadi, berkacapada ayahnya Amy yang merasa tidak cocok dengan didikan China dari orang tuanya sehingga memutuskan pergi jauh dari keluarganya dan membenci keluarganya.

Banyaksekali quote di bukuini yang sayasuka, dan nilai plusnya, dibuku ini quote tersebut diberikan tandakhusus

“Hidup ini begitu singkat dan begitu rapuh, tentunya kita masing-masing harus berusaha memberi sebanyak mungkin makna pada setiap tarikan napas kita, setiap detik dari waktu yang berlalu.”

Didikan keras atau lunak bukan merupakan parameter tanda cinta atau sayang orang tua pada anaknya. Jadi jangan pernah menjudge para orang tua yang membesarkan anaknya dengan cara yang berbeda dari lingkungan pada umumnya.
Salut untuk para Ibu di seluruh dunia.

Judul : Battle Hymn of The Tiger Mother : Mendidik Anak agar Sukses ala China
Penulis : Amy Chua
Penterjemah : Maria Sundah
ISBN 9789792270822
Halaman : 248
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit
: Cetakan Kedua, Desember 2011

…Postingan ini, diikutkan dalamn Non-Fiction Reading Challenge 2015

Tagged , , , ,

Cerita tentang Orkestra

Buku ini membahas sejarah musik klasik mulai era barok, era klasik dalam musik klasik, era romantik, sampai era modern juga memperkenalkan komposer-komposer dari setiap era tersebut. Meskipun singkat, tapi kita bisa tahu secara garis besar kehidupan komposer pada era tersebut serta karyanya. Ya, kita bisa mendengarkan karya dari setiap komposer-komposer tersebut seperti Wanger, Vivaldi, Bach, Hydn, Beethoven, Tchaikovsky, Brahms, Mahler, Debussy, Stravinsky, dll. Serunya, di buku ini, disertai penjelasan lagu yangn ada di track CD misalnya menceritakan apa atau efek yang ingin disampaikan oleh komposernya 😀

 

Ada banyak fakta mengejutkan yang saya dapat dari buku ini, contohnya Debussy yang terinspirasi oleh alat musik gamelan dalam acara Paris Exposition pada tahun 1889 sehingga menghasilkan musik baru! (ini maksudnya gamelan..gamelan Indonesia?! woww.. kalau bener dari Indonesia, berarti musisi Indonesia di tahun 1889 udah go international. PR banget buat saya nyari tau tentang gamelan).

Sepertinya setelah membaca cerita tentang Hydn, saya jadi suka sama sosok Hydn. Selain dia disebut Papa Joe oleh murid-muridnya karena baik, lembut dan bersifat kebapakan, juga karena dia mennghasilkan dua murid  yang menjadi komposer hebat, yaitu Mozart dan Beethoven.

Alat musik yang digunakan dalam orkestra juga dibahas dalam buku ini. Disertai contoh lagu yang mewakili instrumen tersebut, tentunya ditambah penjelasan lagu terkait instrumen yang dimainkan.

Sebagai penyuka musik klasik, saya seneng banget bisa membaca buku ini, apalagi buku ini disertai oleh warna-warni ilustrasi yang menarik di setiap halamannya. Meskipun termasuk buku anak, saya yang sudah dewasa mendapatkan banyak hal yang baru tentang orkestra dari buku ini.

Tagged ,

Mengenang Kembali Dongeng Sepanjang Masa

Hans Cristian Anderson

Judul : Dongeng Sepanjang Masa
Penulis : H.C. Andersen
Penterjemah : Ismail Isdito
Penyunting : Alit Tisna Palupi
Pewajah Sampul dan ilustrasi :  Yfana Khadija Amelz
ISBN : 9797802949
Halaman : 184
Penerbit : Gagas Media
Cetakan : Cetakan pertama,2008

Dulu, waktu saya masih kecil, buku cerita dari Hans Cristian Andersen menjadi salah satu harta karun saya karena saat itu saya pertamakali mempunyai buku hardcover, tebal, fullcolor dengan kertas glossy. Saya masih ingat betapa saya menyukai gambar-gambar di dalamnya juga cerita yang kadang aneh,lucu, atau sedih,mengharukan namun satu akhir bahagia. Maka ketika saya menemukan buku ini dan membuka lembarannya yang bernuansa kuno. Saya langsung suka banget karena mengingatkan saya pada buku favorite saya waktu kecil meskipun kumpulan ceritadalam buku ini tak percis sama dengan cerita-cerita buku yang saya punya waktu kecil dulu 😀

Dalam buku ini terdapat cerita yang sudah saya kenal seperti Gadis Penjual Korek Api, Sepasang Sepatu Merah, Cinta Sejati Putri Duyung, Anak Itik Buruk Rupa, Serdadu Timah yang Berani, Burung Bangau, Si Kecil Tiny dan Sebelas Angsa Liar. Tetapi ada juga cerita yang baru saya tau atau baru saya ingat kembali seperti Koper Ajaib, Kasih Ibunda, Nenek, Hans Kikuk, Keluarga Bahagia, Orang Tua Selalu Benar serta Balada Gasing dan Bola.

IMG_20130707_093044

Sekilas tentang Hans Cristian Andersen yang dikutip dari buku ini:

Hans Cristian Andersen lahir di Odense, Denmark pada tanggal 2 April 1805. Latar belakang keluarganya sangat memengaruhi karya sastra yang dihasilkannya-menggambarkan kesenjangan yang mencolok antara golongan miskin dan kaya. ibunya hanya seorang tukang cuci di keluarga kaya, sedangkan ayahnya bekerja sebagai tukang sepatu.

Kecintaan Andersen pada seni mulai tampak sejak muda. Ia meninggalkan rumahnya pada usia 14 tahun untuk mencari nafkah, kemudian mencoba menjadi penyanyi dan aktor. Namun, di awal perjalanan kariernya sebagai seniman, ternyata ia kurang beruntung dan ernah menderita hingga hampir mati kelaparan.

Dengan beasiswa yang diterimanya dari Direktur Teater Kerjaan, Andersen dapat meneruskan kuliah di sebuah universitas di Kopenhagen. lalu, ia mulai menulis. Pada awalnya, ia dikenal sebagai penyair. Berkat puisi-puisinya ia mendapat dukungan fiannsial dari beberapa pihak sehingga ia bisa melakukan perjalanan keliling Eropa.

Buku dongengnya terbit pertama kali pada 1853. Buku itu meraih sukses besar, kemudian disusuk dengan beberapa jilid buku cerita anak yang  terbit hampir setiap tahun berturut-turut hingga 1872. buku-buku dongeng yang ditulisnya membuat Andersenmenjadi pengarang terbesar diDenmark dan salah satu penulis cerita anak yang paling disayangi di dunia. Sepanjang hidupnya, Andersen menulis lebih dari seratus lima puluh dongeng dan hasil karyanya telag diterjemahkan ke dalam lebih dari seratus bahasa.

Saat ini, Cristian Andersen Award merupakan salah satu penghargaan yang tertinggi untuk karya sastra anak. Penghargaan yang dikeluarkan oleh suatu yayasan yang diketuai Ratu Margaretge II dari Denmark  itu diberikan hanya kepada seorang pengarang dan ilustrator setiap dua tahun sekali

Postur hans Cirtian Andersen yang jangkung kurus dan berhidung besar, membuatnya merasa berpenampilan buruk. Jadi tidak mengherankan bahwa tema-tema ceritanya menyiratkan keberpihakannya kepada mereka yang tersisih dan menderita. Dalam tulisannya, ia juga sering mengejek orang-orang yang norak dan sombong.
Moral cerita Andersen banyak mengajarkan kepada kita bahwa penampilan yang serbasempurna sering menutupi kebusukan. sementara itu, di balik penampilan yang serbakurang ternyata tersimpan kecantikan hati nurani yang hakiki.

Tagged ,

Merpati Peneguh Keyakinan

Merpati Peneguh Keyakinan

Merpati Peneguh Keyakinan

Judul : Merpati Peneguh Keyakinan
Penulis : Irfan AmaLee
Penterjemah bahasa Inggris : Angela Al-Hamid
Ilustrasi Isi : Haji Pidi Baiq
Ilustrasi Sampul : Haji Pidi Baiq
Penyunting Naskah : Ilham D. Sannang
Desain Sampul dan Isi : Irfan AmaLee, Ana P. Dewiyana, dan Agus Rokhman
ISBN  :  9792693092
Penerbit : Pelangi Mizan

Kisah Merpati peneguh keyakinan, merupakan salah satu cuplikan kisah pencarian kebenaran yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim untuk mengetahui bagaimana cara Allah untuk menghidupkan yang mati. Nabi Ibrahim, mendapatkan ilham untuk menyembelih burung menjadi empat bagian kemduian memisahkan bagian-bagian tubuhnya di empat bukit.  Setelah itu, Nabi Ibrahim memanggil burung yang disembelih itu, atas kuasa Allah, burung tersebut hidup kembali tanpa luka apapun.

Kisah tersebut, diceritakan dengan manis dalam buku ini, karena diceritakan dari sudut pandang burung dengan kata-kata yang berirama, baik bahasa inggirsnya maupun bahasa Indonesianya.

‘Aku terbang tinggi di angkasa

Udara sangat panas membara.

Hari ini, sangat aneh terasa.

“Ada apa, ya?” Aku bertanya-tanya’

‘I soar up high into the sky.

The air up here is almost too hot to fly.

Today I feel something is awry.

“What’s up?” I want to ask, why?’

Kata-kata dalam buku ini, juga dituliskan dengan tidak bisa (garis lurus), tetapi bergelombang, naik-turun 🙂

Ilustrasi yang memenuhi lembar halaman  buku ini semakin mempercantik untaian kata dari buku ini. Saya suka sekali dengan penggunaan media crayon sebagai ilustrasinya.

Doa Tiga Ekor Ulat

Buku Doa Tiga Ekor Ulat

Buku Doa Tiga Ekor Ulat

Judul : Doa Tiga Ekor Ulat
Penulis : Iwan Yuswandi, dkk
Ilustrasi Isi : H. Pidi Baiq, Agung, Nur Cililia
Ilustrasi Sampul : Studio Air
Penyunting Naskah : Dadan Ramadhan
Penyunting Ilustrasi : Iwan Y
Desain Sampul dan Isi/strong> : Tumes dan Iwan
Pengarah Desain : Anfevi
ISBN : 978-979-752-837-9
Halaman : 113
Penerbit : DAR! Mizan
Cetakan : I, April 2008

Salah satu targetan saya di tahun 2013 adalah mengkoleksi buku-buku anak:) dan menjadi sangat menyenangkan, membuka tahun dengan membaca buku anak ^___^

Buku ini merupakan buku seri dongeng balita (Seri Little Muslim Explorer) yang terdiri dari lima dongeng, ada dongeng doa tiga ekor ulat, capung bersayap satu, kisah sebuah truk, Siamang penyanyi hutan. dan Sapi yang Pelit. Lima kisah ini tentu saja penuh dengan hikmah dan pelajaran yang bisa dicontoh oleh anak-anak yang membaca.

Doa tiga ekor ulat menceritakan tentang pohon yang hanya mempunyai tiga daun, kedua daun telah dimakan ulat sebelumnya, saat ulat teakhir yang kelaparan akan memakan daun terakhir ulatnya jatuh sampai akhirnya meninggal. Pohon yang sedih kemudian menangis dan airmatanya menumbuhkan daun-daun dengan rimbun. Dari kisah ini, anak-anak bisa belajar untuk berbagi apa yang kita miliki. Bisa jadi dengan memberi kita bisa mendapatkan lebih 🙂

Capung bersayap satu menceritakan seekor capung yang hanya mempunyai satu sayap sehingga tidak bisa terbang jauh seperti teman-temannya yang lain. Tetapi karena capung pandai mendongeng, capung bisa terbang melebihi jangkauan teman-teman yang pernah mengolok-oloknya. Kisah ini mengajarkan untuk bisa menghargai orang yang mempunyai kekurangan, bisa jadi dia mempunyai kekurangan di satu sisi namun di sisi yang lain dia punya banyak sekali kelebihan.

Kisah sebuah truk menceritakan sebuah truk yang sudah tidak berguna dan dibuang ke tempat pembuangan, namun berkat Mino, truk itu bisa berguna. Dongeng ini bisa menjadi contoh agar anak-anak tidak sembarangan membuang barang-barang yang tidak berguna, dengan kreativitas bisa membuat barang yang tampaknya tidak berguna bisa menjadi bermanfaat kembali.

Siamang penyayi hutan menceritakan tentang siamang yang suka menyanyi kapan saja, sehingga seluruh penghuni hutan terganggu dan mengusirnya dari hutan. Namun, karena siamang menyanyi pada saat yang tepat penduduk hutan merasa berterimakasih pada siamang. Kisah ini menjadi pelajaran bahwa aktivitas yang dilakukan jadi mengganggu orang lain jika dilakukan pada saat yang tidak tepat. Misalnya dengan menangis sepanjang waktu, hehe

Sapi yang Pelit menceritakan sapi yang sangat kaya makanan, tetapi tidak mau berbagi. Ketika Sapi gagal memanen apel dan tidak mempunyai makanan sama sekali, hanya Kambing yang mau menolonngnya. Padahal kambing pernah sakit karena Sapi memberinya makanan yang sudah basi. Kisah ini memberikan pelajaran untuk terus berbagi.

Saya suka ceritanya, juga ilustrasi yang ada di dalam buku ini. Untuk Balita, tentu saja buku ini harus didongengkan oleh orang tuanya. Karena jika membaca sendiri, untuk anak-anak balita yang baru belajar membaca kalimat dalam buku ini terlalu panjang.

Gaya ilustrasi di dalam buku ini yang beragam juga membuat saya (yang sudah dewasa) tidak bosan membaca buku ini berulang kali. Saya paling suka ilustasi oleh Nur Cililia dalam kisah sebuah truk dengan menggunakan media crayon.

Truk yang sedang menangis

Tagged , , ,

She can! *sooo…I can :)*

Judul : She Can!

Catatan Inspiratif Wanita

Sang Pendobrak,

Mendobrak Tantangan,

Merentas Jalan ke Masa Depan

Penulis : Shahnaz Haque
Penyunting :
Pewajah Sampul :
ISBN
Halaman :
Penerbit :
Cetakan :

 

She can! ini merupakan sebuah buku yang  rangkuman dari tujuh kisah para wanita dari program tayangan TV “Tupperware SheCan!”, sebuah program yang menayangkan kisah para wanita Indonesia yang mencerahkan (enlighten),mengedukasi  (educate) dan memberdayakan (empowerment).

Buku ini mengisahkan tujuh orang perempuan yang berani mendobrak kondisi lingkungannya menjadi lebih baik tak hanya untuk dirinya namun juga untuk orang-orang di sekitarnya, berani berjuang untuk mimpi-mimpinya sehingga mencapai impiannya.

Sebelumnya saya sudah membaca tentang kiprah Kiswati di berbagai media, namun membaca kembali kisahnya melecutkan semangat dalam diri saya. Kiswati, adalah seorang yang punya impian menjadi orang yang pintar, hanya saja karena terlalu miskin ia hanya bisa mengenyam pendidikan sampai SD. Ayahnya berusaha menghiburnya bahwa dengan baca dia tetap bisa pintar. Maka impiannya, punya perpustakaan gratis agar orang-orang miskin seperti dirinya  bisa ikut mendapatkan ilmu. Kiswati, membuat buku menjadi prioritas dalam hidupnya, ketika sebagian besar penghasilan sebagai pembantu  dibelikan untuk buku, ketika menerima pinangan suami dengan syarat mendukungnya akan kecintaannya terhadap buku, juga ketika uang keperluan anaknya dipangkas untuk buku. Tak hanya membuka perpustakaan di rumahnya, Kiswati juga bersemangat untuk meminjamkan buku secara gratis dengan sepeda ontelnya. Sehingga dikenal sebagai perpustakaan sepeda ontel. Banyak orang yang mencemooh, karena latar pendidikan dan pekerjaannya, tapi Kiswati tak pernah patah semangat untuk mewujudkan impiannya. Akhirnya, kegigihannya untuk mewujudkan  impiannya berbuah hasil,  perpustakaannya semakin berkembang dengan ribuan koleksi buku juga kegiatan-kegiatan yang mendidik untuk anak-anak. Apalagi  setelah kiprahnya diketahui seluruh penjuru negeri sehingga  menggerakan banyak orang untuk memberikan donasi. Kisah Kiswati, menginspirasi banyak orang bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk mewujudkan impian.

Begitupula dengan kisah Ema Susanti seorang sineas muda yang punya impian untuk bisa melanjutkan kuliah.  Meskipun kondisi keuangan tak memungkinkan tak memadamkan impiannya, selepas SMA beragam pekerjaan dilakukan namun tak juga mengantarkannya ke bangku perkualiahan sampai kemudian menjadi TKW di Hongkong. Saat menjadi TKW di Hongkong itulah dia bisa menabung sampai mencukupi untuk bisa kembali ke Indonesia dan kuliah sesuai dengan impiannya.

Keterbatasan seringkalipula menempa seseorang untuk bisa lebih tangguh dalam menjalani hidup, seperti kisah Cristine Hakim (bukan bintang film) seorang ratu keripik singkong balado, oleh-oleh dari Padang. Kehidupan masa kecil yang sulit secara ekonomi karena ayahnya telah meninggal, menempa dirinya untuk bekerja keras dan membanting tulang membantu ibunya berjualan makanan ringan. Kesuksesannya membuat penganan keripik singkong balado bukanlah sebuah proses instant, semangat berbagi mendorongnya untuk berbagi kesuksesan dengan memberi bimbingan dan bantuan perlatan atau bahan mentah pada seluruh anggota UKM pada koperasi yang  dipimpin olehnya.

Tentunya, di Indonesia tak ada yang tak mengenal Anne Avantie dan Waljinah kedua perempuan ini menjadi maestro di bidangnya masing-masing. Tau dan menyadari bakat yang dimiliki tak akan berguna jika tidak dikembangkan dengan sungguh-sungguh. Anne Avantie yang memiliki kecintaan terhadap dunia anak-anak dan kesehatan mendorongnya mendirikan Wisma Kasih, berbeda dengan Waljinah yang memiliki kencintaan di dunia keroncong menyulap garasi rumahnya menjadi tempat untuk berlatih keroncong, menyiapkan generasi penerus dalam melestarikan seni keroncong.

Semangat untuk terus hidup, ditunjukkan oleh Tiara Savitri yang telah berkali-kali divonis mati karena penyakit lupus yang menggerogoti tubuhnya namun ternyata Tuhan berkehendak lain, Tiara terus melanjutkan hidup, menikah, kemudian melahirkan seorang anak dan mendirikan Yayasan Lupus Indonesia. Meskipun cobaan mendera dengan kematian suaminya yang terkena kanker, Tiara tak berhenti untuk terus berjuang  menjadi seorang pekerja sosial.
Ada hikmah dari musibah yang menipa, dialami juga oleh presenter dan brand ambassador dari merk yang mensponsori acara dan buku ini. Menderita kanker ovarium membuat Shahnaz Haque menjadi lebih dekat dengan ayahnya dan menjadi titik balik dalam hidupnya.

Dalam buku ini, tidak hanya kisah yang dituturkan dari sumber secara langsung tapi terdapat pulan komentar singkat dari beberapa orang terdekat, sehingga kita bisa melihat gambaran orang tersebut secara utuh. Meskipun tentu saja, karena ini buku ini bukan buku biografi perorangan maka masing-masing kisah  tidak diulas secara detail dan mendalam. Tapi, cukup untuk memberikan gambaran kisah hidup para tokoh wanita ini dan kenapa para wanita ini cocok untuk dinobatkan sebagai “Sang Pendobrak”

Saya suka buku yang menceritakan beragam kisah yang menginspirasi, karena pengalaman adalah guru termahal. Dari membaca kisah hidup orang kita bisa belajar banyak hal dari beragam pengalaman orang tersebut.
1. Jika selama ini, saya seringakali menunda melakukan sesuatu untuk bisa berkontribusi, memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar karena berbagai alasan, maka saya merasa sangat malu membaca kisah mereka yang berada di buku ini yang dalam keterbatasannya bisa melakukan sesuatu. . Maka, tak ada alasan lagi bagi saya untuk menunda mewujudkan impian saya. Mulai dari sekarang, sekecil apapun yang saya bisa.
2. Harus punya mimpi, memilihara impian itu betapun sulitnya dan rasanya tidak mungkin untuk mewujudkan impian, dan terus berusaha mewujudkannya.
3. Kondisi yang serba sulit, terkadang membuat kita menjadi semakin tertempa dengan semangat juang yang tinggi. Selalu ada hikmah dibalik kesulitan yang menimpa.

She Can! Soooo… I can 🙂

Minamoto No Yoritomo

Judul : Minamoto no Yoritomo
Penulis : Eiji Yoshikawa
Penterjemah : Yoko Yakebe
Penyunting :  Tim Kansha
Pewajah Sampul : Wenart Gunadi
Pewajah Isi : Callysta Ceria
ISBN : 9786029719635
Halaman : 388
Penerbit : >Kansha Books
Cetakan : February  2012

Sebuah kisah novel sejarah yang menceritakan tentang kehidupan klan Minamoto no Yoritomo yang kalah perang dengan klan Taira. Akibat dari perang tersebut, Pangeran Suke harus menjadi seorang anak yatim piatu pada umur empat belas tahun dan diancam dengan hukuman mati setelah ditemukan oleh Munekiyo, bawahan Taira Yomori.  Sementara itu, ibu tirinya Pangeran Suke, Tokiwa Gozen berjuang untuk bertahan hidup bersama ketiga putranya; Imakawa yang berusia tujuh tahun, Otowaka yang berusia lima tahun dan Ushiwaka yang masih menyusui.

Ibu dan adik tirinya disarankan untuk menyerah kepada Taira Yorimori oleh keluarganya yang memiliki motif lain. Namun, ternyata Taira tidak menghukum mati Ibu dan adik tirinya, hanya mengirim ketiga adik tirinya ke wihara agar menjadi biksu. Sementara Pangeran Suke juga mendapatkan pengampunan dengan hukuman pengasingan ke negeri Izu.

Waktu berjalan dengan cepat,  Ushikawa sudah berumur 14 tahun, meskipun dia tinggal di dalam kuil di Gunung Kurama, Ushikawa tidak menganggap dirinya bagian dari biksu dan seringkali menghilang dan dihukum karena kelakuannya.  Dalam diri Ushikawa, memendam  sebuah  kerinduan untuk bisa bertemu dengan Ibunya juga saudaranya yang lain, juga menyimpan sebuah bara untuk terhadap klan taira yang membuatnya hidup terpisah. Akhirnya pada sebuah kesempatan dia berhasil melarikan diri dari kuil dan berencana untuk menemui Ibunya dan juga saudara tirinya.Sementara itu, Pangeran Suke di pengasingannya, tak hanya berdiam diri tetapi juga merancang berbagai strategi dengan pangeran-pangeran di daerah setempat yang berempati dan berafiliasi terhadap klan Yoritomo. Masako, putri seorang yang  berpengaruh di daerah tersebut rela menjadi bagian dari rencana besar Yoritomo bahkan bersedia mempertaruhkan nyawanya dari awal demi hubungannya dengan Pangeran Suke.  Lalu apakah Ushikawa berhasil menemui Pangeran Suke? Apakah rencana mereka untuk memerangi klan Taira memperoleh kemenangan?  Bagimana nasib Masako dengan Pangeran Suke? Beragam pertanyaan yang berkecamuk di kepala harus sabar menunggu jawabannya di buku ke dua.

Dari buku ini saya bisa belajar tentang keberanian, pengorbanan, kesetiaan, kemampuan untuk bertahan dalam kondisi sesulit apapun. Dari buku ini, tentunya saja belajar tentang sejarah Jepang. Seorang shogun pertama dari Kamkura Shogunate yang memerintah dari tahun 1192 sampai denagn 1199 sebelum masa Restorasi Meiji. Saya suka membaca novel sejarah karena membaca sejarah menjadi menyenangkan dan tidak membosankan. Akan tetapi, sayang sekali untuk buku ini, saya kurang menikmatinya. Saya merasa bahasanya kurang mengalir dan hal ini mungkin disebabkan kompleksitas sebuah kalimat. Sebagai contoh kalimat berikut:

Bagi dia yang memiliki bakat dagang, yang selau memepertaruhkan keberuntungan dengan berspekulasi namun akhirnya berhasil, rencana kali ini memang berjangka panjang tetapi dia percaya bahwa ini bukanlah hal yang terlalu sulit.

Buat saya, perlu berhari-hari menghabiskan buku ini, padahal dengan ketebalan yang sama bisanya saya bisa menghabiskannya dalam waktu sehari saja. Salah satu alasan lain, mengapa saya begitu lama melahap buku ini karena begitu banyak penamaan untuk satu orang karakter misalnya Pangeran Suke yang bernama panjang Uhyeo no Suke Yoritomo terkadang disebut sebagai Yoritomo. Begitupula dengan nama-nama karakter yang lainnya. Sehingga sedikit membingungkan. Memang,  seperti itulah penamaan orang dalam buku aslinya (budaya Jepang) . Akan tetapi, saya pernah membaca buku Sworldless Samurai yang menyederhanakan penyebutan dengan satu nama orang:Tadeyoshi, sehingga memudahkan saya dalam mencerna keseluruhan cerita, tanpa berkurangnya makna historikal yang terkandung. Karena terdapat sebuah catatan yang menjelaskan perubahan nama Tadeyoshi secara terpisah.

Namun, segala kekurangan yang dalam buku ini, tetap membuat buku ini layak untuk dibaca terutama untung orang yang menyukai novel-sejarah atau orang yang ingin menambah wawasan tentang kondisi Jepang di abad 1920an.

Tagged , ,

The Journeys: Kisah Perjalanan Para Pencerita

Judul : The Journeys: Kisah Perjalanan Para Pencerita
Penulis : Aditiya Mulya, Alexander Thian, Farida Susanti, Gama Harjono, Ferdiriva Hamzah, Okke ‘Sepatumerah’, Raditya Dika, Trinity, Valiant Budi, Ve Hanjono, Windy Ariestanty, Winna Efendi.
Penyunting : Resita Wahyu Febiratri
Pewajah Sampul :  Jeffri Fernando
ISBN : 9789797804817
Halaman : 243
Penerbit : Gagas Media
Cetakan : Cetakan kedua, 2011

Hal yang menarik dari melakukan perjalanan adalah menemukan.

Pada perjalanan yang panjang-panjang itu, dan mungkin juga singkat, kita hanya berharap menemukan. Menemukan sesuatu untuk di bawa pulang. Mungkin juga dikenang lalu diceritakan.

Buku ini, merupakan kisah dua belas orang penulis yang berasal dari latar belakang yang berbeda dengan gaya penulisan yang berbeda namun disatukan oleh perjalanan menemukan dalam  kisah perjalannya.  Membaca buku ini, membuat saya bepetualang, menjelajah berbagai tempat yang belum saya singgahi, mengetahui hal-hal baru, mengajak saya untuk menemukan.  Mulai dari menemukan wana Afrika dari kacamata seorang Aditya Mulya sampai dengan menemukan makna kata Sompral dari kisah perjalanan Okke “Sepatumerah’ ketika mengunjungi Pantai Kolbano dan makna keyakinan dari Valiant Budi ketikan menemukan sisi lain kota Mekah.  Saya menemukan berbagai fakta tak terduga: the truth behind free travelling dari Trinity dan beragam budaya setempat yang dikunjung baik itu di Swiss, Tel Aviv, juga  Spanyol, dan Mekah.

Dari berbagai perjalanan seperti perjalanannya  Gama Harjono, Alexander Thian ataupun Ve Handojo  saya menemukan peran dan arti sahabat sampai terwujudnya sebuah kisah perjalanan.  Maka, sungguh tak rugi sama sekali menjaga hubungan pertemanan, mungkin suatu hari nanti kita yang bisa berperan dalam kisah perjalanan teman kita yang lain atau mungkin justru teman atau sahabat kitalah yang memegang peranan yang penting dalam kisah petualangan kita.

Kemudian perjalanan menemukan “most of the time, beauty lies in the simplest of thigs” dari seorang Winna Efendi di Desa Air dan perjalanan Windy Ariestanty yang menemukan momen bahagia  di Luceme membuat saya ingin menemukan kebahagian dalam hal-hal kecil yang dijumpai saat perjalanan dan menerapkan tips Windy untuk ‘sejenak saja, berhenti berjalan. Tak perlu bergegas untuk menikmati secuil bahagia di kota ini’.

Menemukan hal tak terduga dari kepenasaran karena keberanian Farida Susanti dalam menyibak peta gelapnya. Menurutnya, peta dunia ini bekerja seperti game RPG. Kita bisa diam di suatu tempat dan dunia kita terbatas hanya sebesar itu, atau kita berjalan ke tempat-tempat yang belum pernah kita datangi dan melihat sibakan-sibakan kegelapan terbuka, lalu peta dunia kita tiba-tiba membesar.  Farida menemukan bahwa, “setelah mengadakan perjalanan itu, saya sadar bahwa dalam perjalanan, kamu meledakkan dua hal sekaligus, dunia luarmu dan di dunia di dalamu. Kamu melihat hal-hal nyata yang memang baru, sekaligus melihat sesuatu di dalam kepalamu juga. Saya sedang menyikap peta gelap saya dan tidak tahu apa yang akan ditemukan.” Dan saya menemukan bahwa menyikap peta gelap itu mengasyikkan karena  kita akan menemukan kejutan-kejutan, sesuatu hal yang  baru.

Ternyata, saya menemukan bahwa tak hanya sahabat ataupun teman yang bisa menjadi teman seperjalanan yang mengasyikkan. Mertua pun bisa menjadi teman seperjalanan yang menyenangkan, seperti halnya  yang dialami oleh Ferdirina Hamzah. “Travelling  yang asyik itu bukan masalah siapa teman seperjalanan kita, tapi bagaimana cara kita memandang travelling itu sendiri. By thinking positively, in every situation, you can enjoy the travelling itself, not fussing over whom you’re travelling with”. Senada dengan kisah Raditya Dika dalam menemukan kasih Ibu selama di Belanda. “Seharusnya, semakin tua umur kita, kita tidak semakin ingin mandiri dengan orang tua. Seharusnya, semakin tua umur kita, semakin kita dekat dengan orang tua.” Dan “Sesungguhnya, terlalu perhatiannya orangtua kita adalah gangguan terindah yang pernah bisa kita terima.”

Saya juga menemukan bahwa travelling bisa menjadi penyembuh jiwa yang efektif berkaca pada pengalaman Alexander Thian yang menemukan kembali hati yang damai dan plong  ketika menghabiskan liburan ke Karimun Jawa.

Banyak hal yang saya temukan dalam buku ini, namun adakalanya saya merasa kehilangan jejak dari benang merah proses menemukan dalam berbagai cerita di buku ini.

Akan tetapi, pada akhirnya buku ini sukses membuat saya sangat ingin untuk menemukan dalam kisah perjalanan yang saya lakukan sendiri. Seperti pesannya Windy di halaman pertama buku ini: Selamat menemukan!

Konon, bumi ini milik mereka yang berhenti sejenak untuk melihat-lihat lalu meneruskan perjalanannya –Anonymous-

Tagged , ,

Dua Tangis dan Ribuan Tawa

Image

Judul : Dua Tangis dan Ribuan Tawa
Penulis : Dahlan Iskan
Penyunting :
Pewajah Isi :
ISBN : 9786020011813
Halaman : 349
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Ceteakan ketiga, November 2011

Selama enam bulan, saya dua kali menangis. sekali di ruang rapat dan sekali lagi di Komisi VII DPR RI. Kadang memang begitu sulit mencari ajlan cepat untuk mengatasi persoalan. Kadang sebuah batu terlalu sulit untuk dipecahkan. Tapi bukan berarti hari-hari saya di PLN adalah hari-hari yang sedih. Ribuan kali saya bisa tertawa lepas.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan Dahlan Iskan sebagai CEO PLN sebagai salah satu cara untuk berkomunikasi dengan karyawannya yang berjumlah 50.000 orang dan tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Semangat untuk memperbaiki berbagai permasalahan PLN, semangat untuk memberikan pelayanan yang terbaik.

Meskipun Dahlan Iskan menerapkan target-target yang pada awalnya dianggap tidak mungkin dilakukan namun berhasil untuk dicapai pada akhirnya. Dahlan Iskan beserta jajarannya di PLN berhasil menaklukan tiga musuh besarnya selama ini yaitu krisis listrik yang berhasil diatasi hanya dalam waktu enam bulan (Januari-Juni 2010), kedua panjangnya daftar tunggu yang berhasil diatasi sebanyak 2,5 juta orang dengan gerakan sehari sejuta sambungan (GRASS) dan yang ketiga, gangguan trafo yang tahun lalu bisa mencapai 50 kali sebulan sudah tinggal satu digit. Namun, masih ada dua musuh besar yang menjadi tantangan untuk dikalahkan yaitu ganngguan penyulang dan BBM yang menyebabkan PLN boros sebanyak 15 triliun rupiah setiap tahun.

Membaca buku ini, meskipun saya bukan berasal dari PLN, tetapi saya bisa merasakan semangat perubahan, semangat kerja keras dan semangat untuk memberikan yang terbaik untuk Indonesia. Sehingga bisa membuat PLN menjadi lebih baik.

Meskipun saya merasa bahwa, jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga pelayanan PLN masihlah jauh tertinggal. Misalnya saja negara Taiwan yang sebelum melakukan pemadaman listrik memberitahu terlebih dahulu sebelumnya, juga memberitahu durasinya sehingga para pelanggan bisa mengantisipasi pemadaman tersebut. Memang, sekarang pemadaman tidak sesering dahulu, tetapi masih tetap ada pemadaman tanpa pemberitahuan sebelumnya. Namun, saya optimis jika pemimpin PLN memiliki integritas seperti Dahlan Iskan dan melanjutkan apa-apa yang telah dirintis oleh Dahlan Iskan maka PLN bisa mengejar ketertinggalannya.

Dalam buku ini  seringkali membahas hal-hal yang teknis,akan tetapi justru  hal-hal tersebut memberikan wawasan yang lebih tentang dunia pelistrikan. Buku ini juga membuat saya bersyukur bisa merasakan nikmatnya listrik, sementara di belahan pelosok Indonesia yang lain menikmati curahan listrik masih dalam impian.

Kutipan-kutipan menarik dari buku ini

Dengan sekolah, seseorang mendapatkan ilmu. dengan magang seseorang mendapatkan ilmu sekaligus sikap karakternya. Pemimpin tidak hanya harus pandai, tapi juga harus berkarakter. Yang tearakhir itu tidak akan bisa didapat di jenjang pendidikan formal. (218)

Integritas diutamakan agar seseorang pemimpin tidak membawa kepada kerusakan. Kerusakan perusahaan dan kerusakan manusianya. Orang biasa yang tidak punya integritas hanya akan merusak dirinya. Tapi pimpinan yang tidak berintegritas akan menimbulkan kerusakan yang luas (237)

Obrolan tentang Jakarta

buku seno gumira aji darma

Judul : Affair: Obrolan Tentang Jakarta
Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Penyunting :
Pewajah Isi :
ISBN : 9793239107
Halaman : 219
Penerbit : Buku Baik
Cetakan : 2004

Obrolan tentang Jakarta takkan pernah ada habisnya, Jakarta yang dipuji sekaligus dicaci. Berbagai tingkah polah manusia Jakarta menjadi sumber obrolan yang menarik. Homo Jakartanesis begitulah Seno Gumira Ajidarma mengistilahkan manusia-manusia Jakarta. Buku ini merupakan kumpulan dari berbagai tulisan SGA yang telah dipubllikasikan di berbagai media massa.

Meskipun dibuat pada tahun 2004, namun apa yang dibicarakan di buku ini masih relevan dengan Jakarta dan manusia Jakarta saat ini. Dalam buku ini, selain memotret kisah Jakarta, SGA juga membincangkan tingkah polah Homo Jakartanesis yang menggelitik. Cukup lucu untuk dijadikah bahan tertawaan, namun di sisi lain menjadi cerminan atau bahkan sindiran.

Homo Jakartanesis adalah penyembah Berhala Jakarta :Semoga Sukses!, yang terlelap dalam impian-impian berbau Luar Negeri , orang Jakarta yang merasa dirinya elit dan kosmopolit yang sering mengucapkan kampungan, dimaksudkan untuk merendahkan sesuatu yang lain, sekaligus juga berarti meninggikan diri sendiri. Manusia Jakarta adalah Konsumen Agung yang mempunyai selera bagus dan pilihan berkelas tapitidak bisa menjadi produsen agung. berkat kemacetan Jakarta Manusia Jakarta adalah Manusia Mobil karena mobil bukan hanya menjadi sarana transportasi namun mobil telah menjadi dunia ketiga setelah rumah dan tempat kerja.
The Art of Nasi Uduk mengembalikan Homo Jakartanesis menjadi manusia dengan Kepribadian Sendal Jepit . Manusia-manusia Jakarta sebenarnya terasing di tengah gemerlapnya kota Jakarta juga memiliki jiwa kosong, yang Paranoia di setiap paginya sehingga membutuhkan hiburan; hiburan bukan lagi selingan, hiburan telah jadi tujuan. Hiburan adalah Panglima .

SGA juga mengangkat obrolan tentang Bayi dalam Gendongan:Sebuah Teater Jalanan dimana mengemis barangkali bukan lagi potret kemiskinan, melainkan kreativitas , juga berbincang tentang Seni dan Air Seni Sopir Taksi , Penyanyi Dangdut di Tepi Jalan , Pembongkat , C(S)eleb atawa Pesohor

SGA mempertanyakan masihkan bisa saling mengenal tanpa ada kepentingan di jakarta? Masih adakah cinta sejati di Jakarta? Bagaimana nasib Jakarta tanpa Indonesia? dan Masihkah Jakarta berati Kemenangan?.

Dalam buku ini, SGA juga menggambarkan bahwa Jakarta tidak Gemerlapan karena kegermelapan Jakarta adalah cermin kepahitan yang gagal karena kegermelapan Jakarta tidak mencerminkan kegermelapan jiwa warga kota.

Yah, dua tahun menumpang hidup di Jakarta cukup bagi saya menilai Jakarta, dan tak juga saya merasa nyaman dan betah dengan kota ini, mungkin tepat dengan apa yang SGA deskripsikan segala keramaian dan gemerlapan kota juga dengan berbagai varian Homo Jakartanesis. Namun setelah membaca buku ini, saya belajar untuk tetap dapat memberi makna bagi hidup saya dengan melihat, mencari dan menemukan Jakarta yang lain dan Tak cukup menemukan, kita bisa mengadakan Jakarta yang lain itu…. Toh, bagaimanapun saya telah menjadi bagian dari Jakarta, yang turut mewarnai wajah Ibukota.

Tagged ,