Wishful Wednesday [1]

Baru pertama kali ikutan, wishful wednesday. Yeyyy!!! Akirnyaaaa, ng-update blog ini ūüôā

Synopsis dari Goodreads

Kaya in Tokyo, whose proud mother spends $1,000 a month on her dresses; Bilal the Bedouin shepherd boy, who sleeps outdoors with his father’s herd of goats; the Nepali girl Indira, who has worked in a granite quarry since she was three; and Ankhohxet, the Kraho boy who sleeps on the floor of a hut deep in the Amazon jungle.

Photographed over two years with the support of Save the Children (Italy), ‚ÄúWhere Children Sleep‚ÄĚ is both a serious photo-essay for an adult audience, and also an educational book that engages children themselves in the lives of other children around the world. Its cover features a child‚Äôs mobile printed in glow-in-the-dark ink.

Berhubung baru suka sama yang namanya dunia fotografi, berimbas pada keinginan untuk mengkoleksi buku-buku fotografi. Selama ini, buku fotografi yang saya punya itu tentang traveling atau alam. Makanya, ketika sedang berjalan-jalan ke  blog ini, saya langsung jatuh hati sama buku karya James Mollison.

Buku fotografi yang tak hanya memuat sebuah gambar, tapi juga sebuah cerita. Kisah anak-anak di seluruh dunia, dimana mereka mempunyai kehidupan yang berbeda yang digambarkan dari tempat tidur mereka. Membuat saya tersenyum bisa mengintip kamar di 5th Avenue New York atau membuat saya meringis membayangkan tidur di sebuah guruh dengan sedikit pepohonan.

Di Amazon, harganya sekitar $ 18,7. Pengennya sih di tahun ini bisa beli buku ini ūüôā

 

* Silakan follow blog Books To Share ‚Äď atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
* Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
* Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
* Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

 

Tagged

Langit dan Laut

Tahukah kau mengapa Tuhan menciptakan langit dan laut?

Image

Semata agar kita tahu, dalam perbedaan, ada batas yang membuat mereka tampak indah dipandang.

(Rumah di Seribu Ombak-Erwin Arnada)

The Journeys: Kisah Perjalanan Para Pencerita

Judul : The Journeys: Kisah Perjalanan Para Pencerita
Penulis : Aditiya Mulya, Alexander Thian, Farida Susanti, Gama Harjono, Ferdiriva Hamzah, Okke ‘Sepatumerah’, Raditya Dika, Trinity, Valiant Budi, Ve Hanjono, Windy Ariestanty, Winna Efendi.
Penyunting : Resita Wahyu Febiratri
Pewajah Sampul :  Jeffri Fernando
ISBN : 9789797804817
Halaman : 243
Penerbit : Gagas Media
Cetakan : Cetakan kedua, 2011

Hal yang menarik dari melakukan perjalanan adalah menemukan.

Pada perjalanan yang panjang-panjang itu, dan mungkin juga singkat, kita hanya berharap menemukan. Menemukan sesuatu untuk di bawa pulang. Mungkin juga dikenang lalu diceritakan.

Buku ini, merupakan kisah dua belas orang penulis yang berasal dari latar belakang yang berbeda dengan gaya penulisan yang berbeda namun disatukan oleh perjalanan menemukan dalam  kisah perjalannya.  Membaca buku ini, membuat saya bepetualang, menjelajah berbagai tempat yang belum saya singgahi, mengetahui hal-hal baru, mengajak saya untuk menemukan.  Mulai dari menemukan wana Afrika dari kacamata seorang Aditya Mulya sampai dengan menemukan makna kata Sompral dari kisah perjalanan Okke “Sepatumerah’ ketika mengunjungi Pantai Kolbano dan makna keyakinan dari Valiant Budi ketikan menemukan sisi lain kota Mekah.  Saya menemukan berbagai fakta tak terduga: the truth behind free travelling dari Trinity dan beragam budaya setempat yang dikunjung baik itu di Swiss, Tel Aviv, juga  Spanyol, dan Mekah.

Dari berbagai perjalanan seperti perjalanannya  Gama Harjono, Alexander Thian ataupun Ve Handojo  saya menemukan peran dan arti sahabat sampai terwujudnya sebuah kisah perjalanan.  Maka, sungguh tak rugi sama sekali menjaga hubungan pertemanan, mungkin suatu hari nanti kita yang bisa berperan dalam kisah perjalanan teman kita yang lain atau mungkin justru teman atau sahabat kitalah yang memegang peranan yang penting dalam kisah petualangan kita.

Kemudian perjalanan menemukan ‚Äúmost of the time, beauty lies in the simplest of thigs‚ÄĚ dari seorang Winna Efendi di Desa Air dan perjalanan Windy Ariestanty yang menemukan momen bahagia¬† di Luceme membuat saya ingin menemukan kebahagian dalam hal-hal kecil yang dijumpai saat perjalanan dan menerapkan tips Windy untuk ‚Äėsejenak saja, berhenti berjalan. Tak perlu bergegas untuk menikmati secuil bahagia di kota ini‚Äô.

Menemukan hal tak terduga dari kepenasaran karena keberanian Farida Susanti dalam menyibak peta gelapnya. Menurutnya, peta dunia ini bekerja seperti game RPG. Kita bisa diam di suatu tempat dan dunia kita terbatas hanya sebesar itu, atau kita berjalan ke tempat-tempat yang belum pernah kita datangi dan melihat sibakan-sibakan kegelapan terbuka, lalu peta dunia kita tiba-tiba membesar. ¬†Farida menemukan bahwa, ‚Äúsetelah mengadakan perjalanan itu, saya sadar bahwa dalam perjalanan, kamu meledakkan dua hal sekaligus, dunia luarmu dan di dunia di dalamu. Kamu melihat hal-hal nyata yang memang baru, sekaligus melihat sesuatu di dalam kepalamu juga. Saya sedang menyikap peta gelap saya dan tidak tahu apa yang akan ditemukan.‚ÄĚ Dan saya menemukan bahwa menyikap peta gelap itu mengasyikkan karena ¬†kita akan menemukan kejutan-kejutan, sesuatu hal yang¬† baru.

Ternyata, saya menemukan bahwa tak hanya sahabat ataupun teman yang bisa menjadi teman seperjalanan yang mengasyikkan. Mertua pun bisa menjadi teman seperjalanan yang menyenangkan, seperti halnya¬† yang dialami oleh Ferdirina Hamzah. ‚ÄúTravelling ¬†yang asyik itu bukan masalah siapa teman seperjalanan kita, tapi bagaimana cara kita memandang travelling itu sendiri. By thinking positively, in every situation, you can enjoy the travelling itself, not fussing over whom you‚Äôre travelling with‚ÄĚ. Senada dengan kisah Raditya Dika dalam menemukan kasih Ibu selama di Belanda. ‚ÄúSeharusnya, semakin tua umur kita, kita tidak semakin ingin mandiri dengan orang tua. Seharusnya, semakin tua umur kita, semakin kita dekat dengan orang tua.‚ÄĚ Dan ‚ÄúSesungguhnya, terlalu perhatiannya orangtua kita adalah gangguan terindah yang pernah bisa kita terima.‚ÄĚ

Saya juga menemukan bahwa travelling bisa menjadi penyembuh jiwa yang efektif berkaca pada pengalaman Alexander Thian yang menemukan kembali hati yang damai dan plong  ketika menghabiskan liburan ke Karimun Jawa.

Banyak hal yang saya temukan dalam buku ini, namun adakalanya saya merasa kehilangan jejak dari benang merah proses menemukan dalam berbagai cerita di buku ini.

Akan tetapi, pada akhirnya buku ini sukses membuat saya sangat ingin untuk menemukan dalam kisah perjalanan yang saya lakukan sendiri. Seperti pesannya Windy di halaman pertama buku ini: Selamat menemukan!

Konon, bumi ini milik mereka yang berhenti sejenak untuk melihat-lihat lalu meneruskan perjalanannya ‚ÄďAnonymous-

Tagged , ,

Dua Tangis dan Ribuan Tawa

Image

Judul : Dua Tangis dan Ribuan Tawa
Penulis : Dahlan Iskan
Penyunting :
Pewajah Isi :
ISBN : 9786020011813
Halaman : 349
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Ceteakan ketiga, November 2011

Selama enam bulan, saya dua kali menangis. sekali di ruang rapat dan sekali lagi di Komisi VII DPR RI. Kadang memang begitu sulit mencari ajlan cepat untuk mengatasi persoalan. Kadang sebuah batu terlalu sulit untuk dipecahkan. Tapi bukan berarti hari-hari saya di PLN adalah hari-hari yang sedih. Ribuan kali saya bisa tertawa lepas.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan Dahlan Iskan sebagai CEO PLN sebagai salah satu cara untuk berkomunikasi dengan karyawannya yang berjumlah 50.000 orang dan tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Semangat untuk memperbaiki berbagai permasalahan PLN, semangat untuk memberikan pelayanan yang terbaik.

Meskipun Dahlan Iskan menerapkan target-target yang pada awalnya dianggap tidak mungkin dilakukan namun berhasil untuk dicapai pada akhirnya. Dahlan Iskan beserta jajarannya di PLN berhasil menaklukan tiga musuh besarnya selama ini yaitu krisis listrik yang berhasil diatasi hanya dalam waktu enam bulan (Januari-Juni 2010), kedua panjangnya daftar tunggu yang berhasil diatasi sebanyak 2,5 juta orang dengan gerakan sehari sejuta sambungan (GRASS) dan yang ketiga, gangguan trafo yang tahun lalu bisa mencapai 50 kali sebulan sudah tinggal satu digit. Namun, masih ada dua musuh besar yang menjadi tantangan untuk dikalahkan yaitu ganngguan penyulang dan BBM yang menyebabkan PLN boros sebanyak 15 triliun rupiah setiap tahun.

Membaca buku ini, meskipun saya bukan berasal dari PLN, tetapi saya bisa merasakan semangat perubahan, semangat kerja keras dan semangat untuk memberikan yang terbaik untuk Indonesia. Sehingga bisa membuat PLN menjadi lebih baik.

Meskipun saya merasa bahwa, jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga pelayanan PLN masihlah jauh tertinggal. Misalnya saja negara Taiwan yang sebelum melakukan pemadaman listrik memberitahu terlebih dahulu sebelumnya, juga memberitahu durasinya sehingga para pelanggan bisa mengantisipasi pemadaman tersebut. Memang, sekarang pemadaman tidak sesering dahulu, tetapi masih tetap ada pemadaman tanpa pemberitahuan sebelumnya. Namun, saya optimis jika pemimpin PLN memiliki integritas seperti Dahlan Iskan dan melanjutkan apa-apa yang telah dirintis oleh Dahlan Iskan maka PLN bisa mengejar ketertinggalannya.

Dalam buku ini  seringkali membahas hal-hal yang teknis,akan tetapi justru  hal-hal tersebut memberikan wawasan yang lebih tentang dunia pelistrikan. Buku ini juga membuat saya bersyukur bisa merasakan nikmatnya listrik, sementara di belahan pelosok Indonesia yang lain menikmati curahan listrik masih dalam impian.

Kutipan-kutipan menarik dari buku ini

Dengan sekolah, seseorang mendapatkan ilmu. dengan magang seseorang mendapatkan ilmu sekaligus sikap karakternya. Pemimpin tidak hanya harus pandai, tapi juga harus berkarakter. Yang tearakhir itu tidak akan bisa didapat di jenjang pendidikan formal. (218)

Integritas diutamakan agar seseorang pemimpin tidak membawa kepada kerusakan. Kerusakan perusahaan dan kerusakan manusianya. Orang biasa yang tidak punya integritas hanya akan merusak dirinya. Tapi pimpinan yang tidak berintegritas akan menimbulkan kerusakan yang luas (237)

Manusia Istimewa

Adalah manusia istimewa yang telah sampai kepada kebenaran sejati; pandangan hatinya menjadi bening begitu ia berhadapan dengan Tuhan. Luluh lebur segala tabir dunia. Pandangannya larut dalam kebesaran Tuhan-nya. Baginya yang ada hanyalah Allah.

Semua geraknya menjadi sembah, salat jiwanya tegak sepanjang waktu bahkan ketika raganya dalam keadaan tak suci. Mata hatinya tak putus memandang Allah. Kenyataan yang ada baginya adalah kesatuan wujud baik ketika dalam salat maupun di luarnya. Hasrat manusiawi’lah terselaraskan dengan kehendak Ilahi

(Ahmad Tohari, Bekisar Merah, halaman 56)

Obrolan tentang Jakarta

buku seno gumira aji darma

Judul : Affair: Obrolan Tentang Jakarta
Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Penyunting :
Pewajah Isi :
ISBN : 9793239107
Halaman : 219
Penerbit : Buku Baik
Cetakan : 2004

Obrolan tentang Jakarta takkan pernah ada habisnya, Jakarta yang dipuji sekaligus dicaci. Berbagai tingkah polah manusia Jakarta menjadi sumber obrolan yang menarik. Homo Jakartanesis begitulah Seno Gumira Ajidarma mengistilahkan manusia-manusia Jakarta. Buku ini merupakan kumpulan dari berbagai tulisan SGA yang telah dipubllikasikan di berbagai media massa.

Meskipun dibuat pada tahun 2004, namun apa yang dibicarakan di buku ini masih relevan dengan Jakarta dan manusia Jakarta saat ini. Dalam buku ini, selain memotret kisah Jakarta, SGA juga membincangkan tingkah polah Homo Jakartanesis yang menggelitik. Cukup lucu untuk dijadikah bahan tertawaan, namun di sisi lain menjadi cerminan atau bahkan sindiran.

Homo Jakartanesis adalah penyembah Berhala Jakarta :Semoga Sukses!, yang terlelap dalam impian-impian berbau Luar Negeri , orang Jakarta yang merasa dirinya elit dan kosmopolit yang sering mengucapkan kampungan, dimaksudkan untuk merendahkan sesuatu yang lain, sekaligus juga berarti meninggikan diri sendiri. Manusia Jakarta adalah Konsumen Agung yang mempunyai selera bagus dan pilihan berkelas tapitidak bisa menjadi produsen agung. berkat kemacetan Jakarta Manusia Jakarta adalah Manusia Mobil karena mobil bukan hanya menjadi sarana transportasi namun mobil telah menjadi dunia ketiga setelah rumah dan tempat kerja.
The Art of Nasi Uduk mengembalikan Homo Jakartanesis menjadi manusia dengan Kepribadian Sendal Jepit . Manusia-manusia Jakarta sebenarnya terasing di tengah gemerlapnya kota Jakarta juga memiliki jiwa kosong, yang Paranoia di setiap paginya sehingga membutuhkan hiburan; hiburan bukan lagi selingan, hiburan telah jadi tujuan. Hiburan adalah Panglima .

SGA juga mengangkat obrolan tentang Bayi dalam Gendongan:Sebuah Teater Jalanan dimana mengemis barangkali bukan lagi potret kemiskinan, melainkan kreativitas , juga berbincang tentang Seni dan Air Seni Sopir Taksi , Penyanyi Dangdut di Tepi Jalan , Pembongkat , C(S)eleb atawa Pesohor

SGA mempertanyakan masihkan bisa saling mengenal tanpa ada kepentingan di jakarta? Masih adakah cinta sejati di Jakarta? Bagaimana nasib Jakarta tanpa Indonesia? dan Masihkah Jakarta berati Kemenangan?.

Dalam buku ini, SGA juga menggambarkan bahwa Jakarta tidak Gemerlapan karena kegermelapan Jakarta adalah cermin kepahitan yang gagal karena kegermelapan Jakarta tidak mencerminkan kegermelapan jiwa warga kota.

Yah, dua tahun menumpang hidup di Jakarta cukup bagi saya menilai Jakarta, dan tak juga saya merasa nyaman dan betah dengan kota ini, mungkin tepat dengan apa yang SGA deskripsikan segala keramaian dan gemerlapan kota juga dengan berbagai varian Homo Jakartanesis. Namun setelah membaca buku ini, saya belajar untuk tetap dapat memberi makna bagi hidup saya dengan melihat, mencari dan menemukan Jakarta yang lain dan Tak cukup menemukan, kita bisa mengadakan Jakarta yang lain itu…. Toh, bagaimanapun saya telah menjadi bagian dari Jakarta, yang turut mewarnai wajah Ibukota.

Tagged ,

Kisah Seru Para Ibu

Judul : Jumpalitan Menjadi Ibu
Penulis : Sari Meutia, Tria Ayu Kusumawardhani, Qonita Musa, Retnadi Nur’aini, Sylvia Namira, Nadiah Alwi, Dewi Rieka, Nita Candra, Aan Wulandari, Triani Retno, Fita Chakra, Erlna Ayu, Indah IP, Pangestu Ningsih, Ambhita Dhyaningrum, Estu Sudjono, Indah Juli, Nunik Utami, Haya Aliya Zaki.
Penyunting :  Rini Nurul
Pewajah Isi :
ISBN : 9793239107
Halaman : 219
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House
Cetakan : Febuari 2011

Buku ini mengisahkan 19 cerita dari 19 para Ibu tentang suka dukanya mereka menjadi Ibu. Bagaimana mereka menjadi jumpalitan menghadapi hari-harinya. Cerita yang mamancing tawa namun juga kadanng penuh keharuan.
Buku ini membagi pengalaman dari para Ibu dalam menghadapi tumbuh kembang si kecil, adapula yang berbagi kehawatiran akan anaknya yang remaja.

Dari cerita ini, saya bisa menyimpulkan bahwa dengan menjadi Ibu, perlu kesabaran yang lebih, tenaga yang ekstra, kreatifitas yang tinggi dan wawasan yang luas. Ini bukan merupakan prasyarat untuk menjadi Ibu, tetapi proses pembelajaran seorang Ibu. Sebenarnya bukan hanya anak yang tumbuh dan berkembang, tetapi Ibupun tumbuh dan berkembang seiring dengan anaknya.
Juga,dari cerita dalam buku ini, seberapapun jumpalitannya para Ibu ini, segala rasa yang tidak mengenakkan itu terbayar ketika melihat anaknya tersenyum manis atau tertawa bahagia.

Dengan membaca cerita dari para Ibu ini, saya menjadi lebih menghargai dan menyayangi Ibu saya. Karena meskipun tanpa kata-kata ataupun untaian tulisan betapa jumpalitannya beliau ketika membesarkan saya dulu, sampai sekarang saya masih bisa merasakan beliu tetap jumpalitan demi saya hanya untuk melihat diri saya lebih baik dari dirinya dan melihat saya bahagia…

Tagged

Jurang mendalam antara Ibu dan Anak

Judul

:

Entrok

Penulis : Okky Madasari
Penyunting :
Pewajah Isi :
ISBN :  9789792255898
Halaman : 282
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan :  Pertama, 5 April 2010

Duh, Gusti Allah, kalau memang Kau maha mengetahui, Kau pasti tahu tak ada niatku untuk tidak menyembahMu, untuk menjadi berbeda dengan anakku dan orang-orang lain itu. Tapi bagaimana aku bisa menyembahMu kalau kita memang tidak pernah kenal?

Marni, merasa sangat sedih dan sakit hatinya ketika di cap oleh anaknya yang bernama Rahayu sebagai pendosa. Padahal dia menyekolahkan tinggi-tinggi anaknya bukan untuk memusuhinya ataupun membuat jurang perbedaan diantara mereka semakin lebar. Dia hanya ingin anaknya bisa hidup lebih baik darinya. Sejak kecil Marni hidup susah, karena Ibunya bekerja sebagai buruh di pasar yang dibayar dengan bahan makanan sedang Bapaknya tak diketahui kemana rimbanya. Karena impian Marni yang sederhana untuk bisa memiliki entrok (bra) lah yang membuat hidupnya berubah menjadi lebih baik. Untuk menggapai mimpinya itu, Marni mengikuti Ibunya kerja di pasar sebagai buruh kemudian menjadi kuli panggul agar mendapatkan upah dalam bentuk uang. Saat itu, hanya dirinya lah satu-satunya perempuan yang bekerja sebagai kuli panggul dan menjadi pendobrak adat sebagai perempuan yang diupah tidak dengan bahan makanan. Kemudian uang dari upah kuli panggul itu, dikumpulkannya membeli entrok. Akhirnya Marni merasakan kebahagiaan karena bisa memiliki entrok yang selama ini diidam-idamkannya. Namun, ternyata kebahagiaannya tak bertahan lama, Marni ingin mempunyai entrok sutra yang bertahtakan intan dan permata. Karena mimpinya inilah Marni bertekad untuk mendapatkan lebih banyak uang. Sisa upah sebagai kuli yang selama ini disimpannya dijadikan modal untuk berdagang bakulan dari rumah ke rumah. Seiring dengan berjalannya waktu barang yang ditawarkannya semakin beragam juga tak hanya dari rumah ke rumah tetapi dari kampung ke kampung, juga pembayarannya tidak secara tunai melainkan kredit.

Awalnya, karena berniat menolong tetangganya yang kesusahan,  Marni tak hanya bakulan barang saja tetapi juga uang. Itu yang membuat perselisihan dengan anaknya Rahayu. Karena Rahayu mendapatkan pengajaran dari guru agamanya bahwa meminjamkan uang dengan bunga adalah dosa. Ditambah lagi Rahayu merasa malu dan membenci Ibunya karena mendengar desas-desus orang di desanya yang menuduh Ibunya sebagai orang yang memelihara tuyul, cari pesugihan dan syirik. Memang dari sejak kecil, Ibunya diajari untuk meminta apa yang diinginkannya kepada Mbah Ibu Bumi Bapak Kuasa. Ibunya percaya bahwa apa yang didapatkannya selama ini selain karena kerja kerasnya selama ini, juga karena doanya pada Mbah Ibu Bumi Bapak Kuasa setiap malam.

Perjalanan hidup Ibu dan anak ini, digambarkan dari tahun 1950-1998 sehingga berbagai sejarah bangsa ini pada periode itu turut juga sedikit dibahas dalam buku ini. Berbagai peristiwa politik yang mempengaruhi kehidupan Marni dan Rahayu.

Buku ini mengungkapkan kisah hidup, baik dari sisi Marni maupun dari sisi Rahayu. Sehingga kita bisa mengetahui perbedaan sudut pandang keduanya.

Dalam sampul belakang disebutkan bahwa karya Entrok ini lahir karena kegelisahan sang pengarang atas menipisnya toleransi dan maraknya kesewenang-wenangan. Namun, dalam cerita ini, saya menyayangkan pada akhirnya toleransi antar Ibu dan Anak itu terjalin dengan baik setelah Rahayu melakukan dosa yang sama yang dilakukan Ibunya. Karena toleransi yang saya pahami adalah ketika kita saling menghormati satu sama lain meskipun terdapat perbedaan diantaranya. Yang dilakukan Rahayu pada akhirnya menerima Ibunya bukan lagi toleransi, tetapi penerimaan karena dia melakukan hal yang sama dengan Ibunya. Akan lebih indah jika Rahayu tetap memegang teguh keyakinannya namun tetap berbuat baik terhadap Ibunya meskipun memiliki keyakinan yang berbeda dengan dirinya.

Ending bukunya sungguh tak terduga dan mengharukan.

Tagged ,

Kekuatan Batin yang Menggerakkan

“Kekuatan batin jauh lebih penting daripada bakat.”

“Menulis adalah makanan dan udara bagiku. Orang seharusnya tidak mengangkat pena jika tidak merasa seperti itu.”
(Hsu Chih-mo)

[Achee Min. Pearl of China. p 178)

Tagged ,

Kisah Kehidupan dan Cinta Pearl S Buck

Kisah Kehidupan dan Cinta Pearl S. Buck

Judul : Pearl of China
Penulis :  Anchee Min
Penterjemah :  Rika Iffati Farihah
Penyunting :  Suhindrati a.Shinta
ISBN : 9786028579629
Halaman : 406
Penerbit : Qanita
Cetakan : April 2009

“Aku paham Pearl ingin menulis novel untuk melepaskan diri dari hidupnya. Namun, siapa yang ingin membaca cerita-ceritanya? Orang China tidak perlu perempuan pirang menuturkan kisah mereka, sementara orang Barat tidak tertarik pada China. Apa yang membuat Pearl mengira dia mempunyai peluang sukses?

Begitulah perkataan Loosing Buck kepada Willow, sahabat Pearl. Nyata benar bahwa suami Pearl sama sekali tidak mendukung Pearl untuk menulis. Awalnya Pearl menikahi Loosing karena kecintaan mereka akan China. Namun, ternyata Pearl lebih China daripada Loosing sehingga perbedaan di antara mereka semakin nyata. Memang dari segala sisi Pearl adalah orang China, selain dari ciri fisik dan warna rambutnya. Hal Itu pulalah yang membuat Hsu Chih-mo sang pujangga baru China tertarik padanya. Berbeda dengan Loosing yang selalu tak pernah memberinya dukungan untuk menulis, Hsu Chih-mo merupakan pengagum tulisan-tulisan Pearl dan selalu memuji hasil karyanya. Sang sahabat Pearl, Willow yang merupakan pemuja Hsu Chi-mo harus menelan kekecewaan ketika Pearl dan Hsu Chih-mo saling mencintai. Namun kisah percintaaan antara Pearl dengan Hsu Chih-mo tak bertahan lama karena kecelakaan pesawat yang menimpa Hsu Chih-mo berujung pada kematiannya. Bertahun-tahun setelah Hsu-Chih-mo meninggal dan Pearl menjadi novelis Amerika serta memenangkan Penghargaan Nobel serta Pulitzer dia menulis tentang Hsu Chih-mo

‚ÄúDia merebut perhatianku dengan cintanya, dan kemudian dia biarkan aku pulang. Sesampai ku di Amerika, kusadari bahwa cintanya ada dalam diriku, dan akan tetap di situ selamanya.‚ÄĚ .

Ya, buku ini menceritakan tentang kisah cinta Pearl Buck. Yang sangat menarik buku ini tak hanya melulu berkisah tentang cerita cintanya dengan para lelaki, namun juga kisah cintanya kepada China tanah dimana dia tumbuh, kisah cintanya terhadap aktivitas menulis, dan yang terutama kisah cintanya dengan sahabat Chinanya Willow. Seluruh kisah cintanya Pearl Buck ini digambarkan oleh sahabatnya Willow.

Pertama kali Willow bertemu dengan Pearl, ketika dirinya mencuri di rumah ayahnya Pearl, Absalom adalah seorang misionaris. Pearl membututi Willow tetapi tak berhasil membuktikan Willow telah mencuri. Namun, meskipun Pearl bisa menangkap basah Willow, Willow ¬† berbohong tidak mau mengakui dirinya mencuri. Ketika Pearl menyelamatkan Willow, Willow merasa sangat menyesal. Dan pada akhirnya mereka bersahabat¬† baik Apalagi ketika ayahnya Willow telah masuk Kristen dan membantu Absalom di gereja . Berbagai kegiatan mereka lakukan bersama, mengemban tugas dari ayah mereka untuk mengenalkan Tuhan pada teman-teman sepermainan mereka, menonton sandiwara ‚Äúsepasang kekasih kupu-kupu‚ÄĚ, menikmati berondong jagung, menyusuri kota dan bermain¬† bersama. Namun, kebersamaan mereka ¬†harus berakhir karena adanya pemberontakan Boxer, meskipun Pearl merasa China adalah negerinya dan merasa asing di Amerika, namun karena keamanan mereka sekeluarga pindah dari Chin-kiang ke Shanghai dimana gerakan pasukan Boxer berhasil ditahan oleh militer internasional.

Waktupun berlalu, mereka tetap bersahabat, melalui surat-suratnya Willow mengabarkan kehidupannya pada Pearl.  Willow memutuskan untuk lari dari suaminya yang tidak pernah membuatnya bahagia dengan pernikahannya ketika remaja dan  tentang keikut sertaanya pada Partai Nasional China pimpinan Dr. Sun Yat-Sen, sementara Pearl menuntut ilmu. Kemudian Pearl kembali ke China ketika menikah dengan Loosing, saat itulah mereka bertemu kembali.   Pearl  mengasah kemampuannya menulis dengan menulis artikel dalam suratkabarnya Willow The Chin-Kiang Independent  dengan menggunakan nama samaran Wei Liang  dan Er-Ping yang membuat banyak orang sangat terkesan dengan analisis dan essai Pearl. Kebersamaan Pearl dan Willow terjalin kembali ketika Willow bekerja di The Nanking Daily sementara Pearl mengajar di Universitas Nanking. Mereka saling berdiskusi karya-karya Ku Xun, Lao-She dan Cao Yu dan pujangga baru Hsu Chih-mo. Saat itu pulalah mereka mengenal Hsu Chih-mo dan Dick Lu lebih dekat. Setelah menginggalnya Hsu Chih-mo,  Willow menikah dengan Dick Lu sementara Pearl tetap mengajar di universitas Nanking. Karena perubahan situasi politik di China, menyebabkan Willow dan Pearl harus terpisah. Pearl meninggalkan China dan kembali ke Amerika.

Karena keyakinan Pearl akan kisah Chinanya menjadikan dia meraih penghargaan Nobel dan Pulitzer.

“Aku menaruh kepercayaan pada cerita-cerita Chinaku. Tidak ada penulis Barat lain yang dapat mendekati apa yang kutawarkan-seperti apa sesungguhnya kehidupan di Timur. Demi Tuhan, aku hidup di situ. Dunia China berseru-seru meminta dieksplorasi. China itu seperti Amerika dahulu-subur dan penuh potensi.‚ÄĚ

Akan tetapi, karena tulisannya pula, sampai akhir hayatnya dia tidak diperbolehkan oleh pemerintah Komunis untuk menjejakkan kaki di China, tanah yang dianggap tanah airnya. Selama hidup di Amerika Pearl tinggak di rumah yang penuh dengan ornamen China dan meninggal dengan tulisan nisan berhurufkan China, menunjukkan bahwa Pearl tetap merasakan bahwa dirinya orang China.

Dengan membaca buku ini, saya menjadi bertanya-tanya apakah artinya tanah air, apalagi dikala dunia semakin datar saat ini. Apakah tanah dimana kita lahir atau tanah dimana kita tumbuh dan merasakan cinta kita begitu besar ketika berada di sana. Di buku ini, kita juga bisa sedikit mengetahui tentanng sejarah China mulai dari Pemberontakan Boxer, Sun-Yat Sen, Pemerintahan Nasionalis, Pemerintahan Komunis, sampai pembentukan Republik Rakyat China. Juga perkembangan sastra China digambarkan dengan diskusi berbagai karya sastra antara Willow dengan Pearl tentang karya-karya China juga Diskusi antara Pearl dengan Hsu Chin-mo.

Kisah yang mengharukan dan memukau ini, memang menceritakan kehidupan Pearl Buck dari kacamata Willow sahabatnya. Namun, saya tetap merasa jika di buku ini kurang menceritakan kisah hidup Pearl Buck sesampainya di Amerika, begitupula dengan surat-surat yang dikirim oleh Willow, tidak disebutkan balasan dari Pearl. Padahal dari surat-surat yang dikirimkan oleh Pearl saya bisa banyak belajar tentang pemikirannya dan bisa mengenalnya lebih dalam.

Kutipan yang saya suka dari buku ini:

Menulis novel itu seperti memburu dan menangkap roh, demikian penuturan Pearl Buck kelak mengenai proses menulisnya. Novelis diundang masuk ke dalam mimpi-mimpi luar yang luar biasa indah. Mereka yang beruntung dapat menjalani mimpinya satu kali, sementara yang paling beruntung berkali-kali.

‚Äú Sebagai cara untuk mengeluarkan hatinya, Pearl mulai menulis. Dia mendapat ketenangan dalam menulis. Dia berkata kepadaku bahwa imajinasi adalah satu-satunya tempat dia bisa bebas dan menjadi dirinya sendiri.‚ÄĚ

Tagged , ,