Tag Archives: non fiksi

Cara Mendidik Anak Ala China

battle-hymn-of-the-tiger-mother-cara-mendidik-anak-agar-sukses-cara-china

“Mommy ibu yang mengerikan.Egois. Tidak peduli apa-apa kecuali diri sendiri. Apa-Mommy tidak percaya betapa tidak bersyukurnya aku? Setelah semua yang Mommy lakukan untukku? Semua yang Mommy bilang Mommy lakukan untukku sebenarnya Mommy lakukan untuk diri sendiri.”

Begitulah yang dikatakan Lulu, anak kedua dari Amy Chua sebagai puncak dari pemberontakan dari didikan ala China Ibunya yang super keras. Sebelumnya Lulu seringkali tidak patuh terhadap Ibunya yang menuntutnya untuk latihan piano, bahkan meskipun alat musiknya diganti dengan biola, Lulu menunjukkan perlawanan  atas segala pemaksaan yang dilakukan Ibunya ketika mengharuskannya  latihan biola lebih lama atau bermain biola ketika liburan atau ketika harus memainkan biola di hari specialnya. Tapi, sebagai Ibu China, Amy tak pernah mengalah dan menganggapnya sebagai sebuah pertempuran. Meski pun begitu, Lulu selalu mendapatkan prestasi membanggakan di sekolah .Berbeda dengan Lulu, Kakanya Sophia sangat penurut dan memenuhi semua rencana dan ambisi ibunya sehingga menjadi anak yang membanggakan dan menuai banyak pujian.

Buku ini, merupakan sebuah memoar Amy Chua, seorang Ibu imigran keturunan China di Amerika yang mendidik kedua anaknya dengan ala-China. Meskipun Amy Chua seorang professor yang menyenangkan bagi mahasiswanya di sebuah universitas Yale, tidak untuk kedua anaknya. Berbagai peraturan ketat diterapkan, seperti halnya orang tua China yang melarang anak-anaknya untuk menginap di rumah teman, janjian bermain bersama teman-teman, ikut drama di sekolah, mengeluh karena tidak diizinkan ikut drama di sekolah, menonton TV atau main game kompoter, memilih kegiatan ekstrakulikuler sendiri, mendapat nilai di bawah A, tidak mendapat nomor satu di setiap pelaaran kecuali olahraga dan drama. Ibu China percaya bahwa tugas sekolah selalu menempati urutan pertama, nilai A minus itu jelek, anak-anak harus mencapai taraf penguasaan matematika dua tahun di atas kemampuan teman-teman sekelasnya, orangtua tidak boleh memuji anak di depan orang lain, kalau anak sampai pernah berbeda pendapat dengan guru atau pelatih, orang tua harus membela guru atau pelatih, satu-satunya kegiatan yang boleh dilakukan adalah yang memungkinkan merek amemenangkan mendali dan mendalinya harus mendali emas. Menurut Amy, orang tua China punya dua keunggulan dibandingkan dengan orangtua Barat: pertama, cita-cita yang lebih tinggi untuk anak-anaknya dan yang kedua, rasa hormat yang lebih besar terhadap anak-anaknya dalam mengenal seberapa banyak hal yang mampu mereka pelajari. Oleh karena itu, Amy percaya sepenuhnya pendidikan ala China-seperti yang diterapkan orangtuanya padanya merupakan pola pendidikan yang sangat tepat dibandingkan dengan pendidikan barat. Menurutnya, terdapat tiga perbedaan besar antara pola pikir orangtua China dan Barat. Pertama, orang tua Barat luarbiasa cemas tentang harga diri anak-anak mereka, mereka prihatin tentang keadaan jiwa anak-anak mereka sementara orang tua China memegang teguh kekuatan dan bukan kerapuhan. Kedua, orangtua China yakin bahwa anak-anak mereka berhutang segalanya kepada mereka sehingga anak-anak China sepanjang hidupnya harus membalas budi kepada orang tua mereka dengan mematuhi dan membuat orang tua mereka bangga. Dan yang ketiga, orang tua China yakin mereka tahu apa yang terbaik untuk anak-anak mereka dan oleh sebab itu mengabaikan semua keinginan dan pilihan anak-anak mereka.
Maka sangat wajar bila tidak ada waktu untuk berleha-leha atau bersenang-senang atau bermain bagi kedua anaknya, setiap saat mereka selalu sibuk,mengerjakan berbagai tugas selain berlatih keras dengan alat musik yang dipilhkan oleh Ibunya, piano untuk Sophia dan biola untuk Lulu.
Mereka dituntut bukan hanya sekedar bisa tapi bisa mecapai prestasi dan melakukan yang terbaik sejak usia dini juga untuk berlaku sesuai kesopanan. Tidak satu hari pun mereka membolos latihan, bahkan pada hari ulang tahun mereka atau di hari mereka sakit, dan pada hari berlibur sekalipun. Bukan hanya memberikan les tambahan atau menghadirkan guru musik yang hebat,bahkan ditengah kesibukan pekerjaannya, Amy meluangkan waktu mengantarkan anaknya dan mengawasi dengan sangat ketat waktu mereka berlatih alat musik tersebut dan tak segan-segan mengecam atau menghina permainan anaknya.Tak segan-segan Amy mengeluarkan dana yang tak sedikit untuk mendukung anaknya mencapai prestasi juga memberikan pesta yang mewah untuk merayakan keberhasilan anaknya tersebut.

Buku ini memberikan jawaban, bagaimana anak-anak China dapat mencapai prestasi yang mencengangkan sejak dini, bagaimana seorang Ibu menempa mental anaknyam enjadi mental juara-yang pantang menyerah dan melipat gandakan usaha dan kerjakeras. Meskipun tampak “sangat tega” terhadap anak, tapi saya yakin orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. –Termasuk Amy Chua yang yakin dengan kerasnya didikan sejak dini, anak-anaknya akan menuai masa depan yang gemilang. Karena didikan orang tuanya mengantarkan dirinya dan juga saudara-saudaranya menjadi sesosok yang berhasil. Dalam buku ini, diceritakan bukan hanya anak saja yang bekerja keras tetapi Ibu juga. Meski harus melewwati “peperangan” dengan anaknya atau bahkan dengan suaminya.

“Tujuan Mommy sebagai orang tua adalah menyiapkan kalian untuk masadepan-bukan untuk membuat kalian suka pada Mommy.”

“Segala sesuatu yang saya lakukan sudahjelas 100% untuk kepentingan kedua putri saya. Bukti yang paling kuat, begitu banyak upaya yang saya lakukan untuk Sophia dan Lulu menyengsarakan, meletihkan dan jauh dari menyenangkan untuk saya sendiri.”

Dari buku ini saya juga belajar bahwa tidak semua pola asuh bisa diterapkan dengan tepat untuk semua anak. Hal ini dicontohkan, dengan suksesnya didikan China untuk anak pertamanya  tapi Amy harus berdamai dengan keduanya. Ketika Lulu menginjak remaja dengan memberikannya sentuhan didikan Barat yang percayaakan pentingnya pilihan pribadi, berkacapada ayahnya Amy yang merasa tidak cocok dengan didikan China dari orang tuanya sehingga memutuskan pergi jauh dari keluarganya dan membenci keluarganya.

Banyaksekali quote di bukuini yang sayasuka, dan nilai plusnya, dibuku ini quote tersebut diberikan tandakhusus

“Hidup ini begitu singkat dan begitu rapuh, tentunya kita masing-masing harus berusaha memberi sebanyak mungkin makna pada setiap tarikan napas kita, setiap detik dari waktu yang berlalu.”

Didikan keras atau lunak bukan merupakan parameter tanda cinta atau sayang orang tua pada anaknya. Jadi jangan pernah menjudge para orang tua yang membesarkan anaknya dengan cara yang berbeda dari lingkungan pada umumnya.
Salut untuk para Ibu di seluruh dunia.

Judul : Battle Hymn of The Tiger Mother : Mendidik Anak agar Sukses ala China
Penulis : Amy Chua
Penterjemah : Maria Sundah
ISBN 9789792270822
Halaman : 248
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit
: Cetakan Kedua, Desember 2011

…Postingan ini, diikutkan dalamn Non-Fiction Reading Challenge 2015

Tagged , , , ,

The Journeys: Kisah Perjalanan Para Pencerita

Judul : The Journeys: Kisah Perjalanan Para Pencerita
Penulis : Aditiya Mulya, Alexander Thian, Farida Susanti, Gama Harjono, Ferdiriva Hamzah, Okke ‘Sepatumerah’, Raditya Dika, Trinity, Valiant Budi, Ve Hanjono, Windy Ariestanty, Winna Efendi.
Penyunting : Resita Wahyu Febiratri
Pewajah Sampul :  Jeffri Fernando
ISBN : 9789797804817
Halaman : 243
Penerbit : Gagas Media
Cetakan : Cetakan kedua, 2011

Hal yang menarik dari melakukan perjalanan adalah menemukan.

Pada perjalanan yang panjang-panjang itu, dan mungkin juga singkat, kita hanya berharap menemukan. Menemukan sesuatu untuk di bawa pulang. Mungkin juga dikenang lalu diceritakan.

Buku ini, merupakan kisah dua belas orang penulis yang berasal dari latar belakang yang berbeda dengan gaya penulisan yang berbeda namun disatukan oleh perjalanan menemukan dalam  kisah perjalannya.  Membaca buku ini, membuat saya bepetualang, menjelajah berbagai tempat yang belum saya singgahi, mengetahui hal-hal baru, mengajak saya untuk menemukan.  Mulai dari menemukan wana Afrika dari kacamata seorang Aditya Mulya sampai dengan menemukan makna kata Sompral dari kisah perjalanan Okke “Sepatumerah’ ketika mengunjungi Pantai Kolbano dan makna keyakinan dari Valiant Budi ketikan menemukan sisi lain kota Mekah.  Saya menemukan berbagai fakta tak terduga: the truth behind free travelling dari Trinity dan beragam budaya setempat yang dikunjung baik itu di Swiss, Tel Aviv, juga  Spanyol, dan Mekah.

Dari berbagai perjalanan seperti perjalanannya  Gama Harjono, Alexander Thian ataupun Ve Handojo  saya menemukan peran dan arti sahabat sampai terwujudnya sebuah kisah perjalanan.  Maka, sungguh tak rugi sama sekali menjaga hubungan pertemanan, mungkin suatu hari nanti kita yang bisa berperan dalam kisah perjalanan teman kita yang lain atau mungkin justru teman atau sahabat kitalah yang memegang peranan yang penting dalam kisah petualangan kita.

Kemudian perjalanan menemukan “most of the time, beauty lies in the simplest of thigs” dari seorang Winna Efendi di Desa Air dan perjalanan Windy Ariestanty yang menemukan momen bahagia  di Luceme membuat saya ingin menemukan kebahagian dalam hal-hal kecil yang dijumpai saat perjalanan dan menerapkan tips Windy untuk ‘sejenak saja, berhenti berjalan. Tak perlu bergegas untuk menikmati secuil bahagia di kota ini’.

Menemukan hal tak terduga dari kepenasaran karena keberanian Farida Susanti dalam menyibak peta gelapnya. Menurutnya, peta dunia ini bekerja seperti game RPG. Kita bisa diam di suatu tempat dan dunia kita terbatas hanya sebesar itu, atau kita berjalan ke tempat-tempat yang belum pernah kita datangi dan melihat sibakan-sibakan kegelapan terbuka, lalu peta dunia kita tiba-tiba membesar.  Farida menemukan bahwa, “setelah mengadakan perjalanan itu, saya sadar bahwa dalam perjalanan, kamu meledakkan dua hal sekaligus, dunia luarmu dan di dunia di dalamu. Kamu melihat hal-hal nyata yang memang baru, sekaligus melihat sesuatu di dalam kepalamu juga. Saya sedang menyikap peta gelap saya dan tidak tahu apa yang akan ditemukan.” Dan saya menemukan bahwa menyikap peta gelap itu mengasyikkan karena  kita akan menemukan kejutan-kejutan, sesuatu hal yang  baru.

Ternyata, saya menemukan bahwa tak hanya sahabat ataupun teman yang bisa menjadi teman seperjalanan yang mengasyikkan. Mertua pun bisa menjadi teman seperjalanan yang menyenangkan, seperti halnya  yang dialami oleh Ferdirina Hamzah. “Travelling  yang asyik itu bukan masalah siapa teman seperjalanan kita, tapi bagaimana cara kita memandang travelling itu sendiri. By thinking positively, in every situation, you can enjoy the travelling itself, not fussing over whom you’re travelling with”. Senada dengan kisah Raditya Dika dalam menemukan kasih Ibu selama di Belanda. “Seharusnya, semakin tua umur kita, kita tidak semakin ingin mandiri dengan orang tua. Seharusnya, semakin tua umur kita, semakin kita dekat dengan orang tua.” Dan “Sesungguhnya, terlalu perhatiannya orangtua kita adalah gangguan terindah yang pernah bisa kita terima.”

Saya juga menemukan bahwa travelling bisa menjadi penyembuh jiwa yang efektif berkaca pada pengalaman Alexander Thian yang menemukan kembali hati yang damai dan plong  ketika menghabiskan liburan ke Karimun Jawa.

Banyak hal yang saya temukan dalam buku ini, namun adakalanya saya merasa kehilangan jejak dari benang merah proses menemukan dalam berbagai cerita di buku ini.

Akan tetapi, pada akhirnya buku ini sukses membuat saya sangat ingin untuk menemukan dalam kisah perjalanan yang saya lakukan sendiri. Seperti pesannya Windy di halaman pertama buku ini: Selamat menemukan!

Konon, bumi ini milik mereka yang berhenti sejenak untuk melihat-lihat lalu meneruskan perjalanannya –Anonymous-

Tagged , ,

Obrolan tentang Jakarta

buku seno gumira aji darma

Judul : Affair: Obrolan Tentang Jakarta
Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Penyunting :
Pewajah Isi :
ISBN : 9793239107
Halaman : 219
Penerbit : Buku Baik
Cetakan : 2004

Obrolan tentang Jakarta takkan pernah ada habisnya, Jakarta yang dipuji sekaligus dicaci. Berbagai tingkah polah manusia Jakarta menjadi sumber obrolan yang menarik. Homo Jakartanesis begitulah Seno Gumira Ajidarma mengistilahkan manusia-manusia Jakarta. Buku ini merupakan kumpulan dari berbagai tulisan SGA yang telah dipubllikasikan di berbagai media massa.

Meskipun dibuat pada tahun 2004, namun apa yang dibicarakan di buku ini masih relevan dengan Jakarta dan manusia Jakarta saat ini. Dalam buku ini, selain memotret kisah Jakarta, SGA juga membincangkan tingkah polah Homo Jakartanesis yang menggelitik. Cukup lucu untuk dijadikah bahan tertawaan, namun di sisi lain menjadi cerminan atau bahkan sindiran.

Homo Jakartanesis adalah penyembah Berhala Jakarta :Semoga Sukses!, yang terlelap dalam impian-impian berbau Luar Negeri , orang Jakarta yang merasa dirinya elit dan kosmopolit yang sering mengucapkan kampungan, dimaksudkan untuk merendahkan sesuatu yang lain, sekaligus juga berarti meninggikan diri sendiri. Manusia Jakarta adalah Konsumen Agung yang mempunyai selera bagus dan pilihan berkelas tapitidak bisa menjadi produsen agung. berkat kemacetan Jakarta Manusia Jakarta adalah Manusia Mobil karena mobil bukan hanya menjadi sarana transportasi namun mobil telah menjadi dunia ketiga setelah rumah dan tempat kerja.
The Art of Nasi Uduk mengembalikan Homo Jakartanesis menjadi manusia dengan Kepribadian Sendal Jepit . Manusia-manusia Jakarta sebenarnya terasing di tengah gemerlapnya kota Jakarta juga memiliki jiwa kosong, yang Paranoia di setiap paginya sehingga membutuhkan hiburan; hiburan bukan lagi selingan, hiburan telah jadi tujuan. Hiburan adalah Panglima .

SGA juga mengangkat obrolan tentang Bayi dalam Gendongan:Sebuah Teater Jalanan dimana mengemis barangkali bukan lagi potret kemiskinan, melainkan kreativitas , juga berbincang tentang Seni dan Air Seni Sopir Taksi , Penyanyi Dangdut di Tepi Jalan , Pembongkat , C(S)eleb atawa Pesohor

SGA mempertanyakan masihkan bisa saling mengenal tanpa ada kepentingan di jakarta? Masih adakah cinta sejati di Jakarta? Bagaimana nasib Jakarta tanpa Indonesia? dan Masihkah Jakarta berati Kemenangan?.

Dalam buku ini, SGA juga menggambarkan bahwa Jakarta tidak Gemerlapan karena kegermelapan Jakarta adalah cermin kepahitan yang gagal karena kegermelapan Jakarta tidak mencerminkan kegermelapan jiwa warga kota.

Yah, dua tahun menumpang hidup di Jakarta cukup bagi saya menilai Jakarta, dan tak juga saya merasa nyaman dan betah dengan kota ini, mungkin tepat dengan apa yang SGA deskripsikan segala keramaian dan gemerlapan kota juga dengan berbagai varian Homo Jakartanesis. Namun setelah membaca buku ini, saya belajar untuk tetap dapat memberi makna bagi hidup saya dengan melihat, mencari dan menemukan Jakarta yang lain dan Tak cukup menemukan, kita bisa mengadakan Jakarta yang lain itu…. Toh, bagaimanapun saya telah menjadi bagian dari Jakarta, yang turut mewarnai wajah Ibukota.

Tagged ,

Kisah Seru Para Ibu

Judul : Jumpalitan Menjadi Ibu
Penulis : Sari Meutia, Tria Ayu Kusumawardhani, Qonita Musa, Retnadi Nur’aini, Sylvia Namira, Nadiah Alwi, Dewi Rieka, Nita Candra, Aan Wulandari, Triani Retno, Fita Chakra, Erlna Ayu, Indah IP, Pangestu Ningsih, Ambhita Dhyaningrum, Estu Sudjono, Indah Juli, Nunik Utami, Haya Aliya Zaki.
Penyunting :  Rini Nurul
Pewajah Isi :
ISBN : 9793239107
Halaman : 219
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House
Cetakan : Febuari 2011

Buku ini mengisahkan 19 cerita dari 19 para Ibu tentang suka dukanya mereka menjadi Ibu. Bagaimana mereka menjadi jumpalitan menghadapi hari-harinya. Cerita yang mamancing tawa namun juga kadanng penuh keharuan.
Buku ini membagi pengalaman dari para Ibu dalam menghadapi tumbuh kembang si kecil, adapula yang berbagi kehawatiran akan anaknya yang remaja.

Dari cerita ini, saya bisa menyimpulkan bahwa dengan menjadi Ibu, perlu kesabaran yang lebih, tenaga yang ekstra, kreatifitas yang tinggi dan wawasan yang luas. Ini bukan merupakan prasyarat untuk menjadi Ibu, tetapi proses pembelajaran seorang Ibu. Sebenarnya bukan hanya anak yang tumbuh dan berkembang, tetapi Ibupun tumbuh dan berkembang seiring dengan anaknya.
Juga,dari cerita dalam buku ini, seberapapun jumpalitannya para Ibu ini, segala rasa yang tidak mengenakkan itu terbayar ketika melihat anaknya tersenyum manis atau tertawa bahagia.

Dengan membaca cerita dari para Ibu ini, saya menjadi lebih menghargai dan menyayangi Ibu saya. Karena meskipun tanpa kata-kata ataupun untaian tulisan betapa jumpalitannya beliau ketika membesarkan saya dulu, sampai sekarang saya masih bisa merasakan beliu tetap jumpalitan demi saya hanya untuk melihat diri saya lebih baik dari dirinya dan melihat saya bahagia…

Tagged

Hal-hal kecil yang menjadi perubahan besar

Judul : Tipping Point
Penulis : Malcolm Gladwell
Penterjemah :
Penyunting
:
ISBN : 9789792201024
Halaman : 350
Penerbit : Gramedia
Cetakan : I, September 2003

Buku ini mengungkapkan kisah-kisah bagaimana sebuah epidemi bisa mewabah di masyarakat. Dalam bukunya, Malcom Gladwell menyebutkan bahwa suatu perubahan terjadi karena satu (atau dua atau tiga) unsur perubahan yaitu Hukum yang sedikit (the Law of the Few), Faktor kelekatan (the Stickness Factor) dan kekuatan konteks (the power of context).

Keberhasilan suatu epidemi sosial dengan usur perubahan hukum yang sedikit sangat bergantung pada keterlibatan orang-orang yang memiliki keterampilan sosial seperti para penghubung (connectors, para bijak bestari (meaven, dan para penjaja (salesement.

Menarik karena dalam buku ini, diberikan contoh-contoh epidemi yang mewadah karena berbagai unsur perubahan yang terjadi. Dari berbagai contoh, yang menarik bagi saya adalah bagaimana mengatasi kajahatan di kereta bawah tanah New York dengan hanya menghapus grafiti dinding. Tampak suatu hal yang kecil, namun kejahatan yang besar justru berawal dari kejahatan yang kecil. Dan peanggulangan terhadap kejahatan yang kecil tersebut tenyata berdampak besar. Mungkin Indonesia juga bisa menerapkan semacam ini, dari segudang permasalahan yang ada, selesaikan permasalahan yang kecil.. bisa jadi dampaknya akan besar.
Kemudian ulasan tentang epidemi merokok di kalang remaja, cukup menginspirasi.. alih-alih memerangi proses coba-coba sebaiknya mengusahakan agar coba-coba tersebut tidak berakibat serius.

Dalam, akhir bab bukunya, Malcom Gladwell kembali menegaskan bahwa tipping point adalah penegasan kembali tentang adanya potensi untuk berubah dan dahsyatnya suatu langkah yang tepat. Coba perhatikan dunia sekitar Anda. Kelihatannya seperti mustahil dirubah, mustahil digoyah. Sesungguhnya tidak demikian Dengan dorongan seringan-ringannya-asal di tempat yang tepat-apa pun dapat kita ungkit.

Saya berfikir seandainya Malcom Gladwell tinggal di Indonesia, mungkin bahasan bukunya akan lebih kaya dan menarik dengan mebedah membedah penyakit akut yang melanda negeri ini,dan memberikan solusi tipping point atas permasalahan sosial yang dihadapi 😀

Tagged