Tag Archives: Review

Minamoto No Yoritomo

Judul : Minamoto no Yoritomo
Penulis : Eiji Yoshikawa
Penterjemah : Yoko Yakebe
Penyunting :  Tim Kansha
Pewajah Sampul : Wenart Gunadi
Pewajah Isi : Callysta Ceria
ISBN : 9786029719635
Halaman : 388
Penerbit : >Kansha Books
Cetakan : February  2012

Sebuah kisah novel sejarah yang menceritakan tentang kehidupan klan Minamoto no Yoritomo yang kalah perang dengan klan Taira. Akibat dari perang tersebut, Pangeran Suke harus menjadi seorang anak yatim piatu pada umur empat belas tahun dan diancam dengan hukuman mati setelah ditemukan oleh Munekiyo, bawahan Taira Yomori.  Sementara itu, ibu tirinya Pangeran Suke, Tokiwa Gozen berjuang untuk bertahan hidup bersama ketiga putranya; Imakawa yang berusia tujuh tahun, Otowaka yang berusia lima tahun dan Ushiwaka yang masih menyusui.

Ibu dan adik tirinya disarankan untuk menyerah kepada Taira Yorimori oleh keluarganya yang memiliki motif lain. Namun, ternyata Taira tidak menghukum mati Ibu dan adik tirinya, hanya mengirim ketiga adik tirinya ke wihara agar menjadi biksu. Sementara Pangeran Suke juga mendapatkan pengampunan dengan hukuman pengasingan ke negeri Izu.

Waktu berjalan dengan cepat,  Ushikawa sudah berumur 14 tahun, meskipun dia tinggal di dalam kuil di Gunung Kurama, Ushikawa tidak menganggap dirinya bagian dari biksu dan seringkali menghilang dan dihukum karena kelakuannya.  Dalam diri Ushikawa, memendam  sebuah  kerinduan untuk bisa bertemu dengan Ibunya juga saudaranya yang lain, juga menyimpan sebuah bara untuk terhadap klan taira yang membuatnya hidup terpisah. Akhirnya pada sebuah kesempatan dia berhasil melarikan diri dari kuil dan berencana untuk menemui Ibunya dan juga saudara tirinya.Sementara itu, Pangeran Suke di pengasingannya, tak hanya berdiam diri tetapi juga merancang berbagai strategi dengan pangeran-pangeran di daerah setempat yang berempati dan berafiliasi terhadap klan Yoritomo. Masako, putri seorang yang  berpengaruh di daerah tersebut rela menjadi bagian dari rencana besar Yoritomo bahkan bersedia mempertaruhkan nyawanya dari awal demi hubungannya dengan Pangeran Suke.  Lalu apakah Ushikawa berhasil menemui Pangeran Suke? Apakah rencana mereka untuk memerangi klan Taira memperoleh kemenangan?  Bagimana nasib Masako dengan Pangeran Suke? Beragam pertanyaan yang berkecamuk di kepala harus sabar menunggu jawabannya di buku ke dua.

Dari buku ini saya bisa belajar tentang keberanian, pengorbanan, kesetiaan, kemampuan untuk bertahan dalam kondisi sesulit apapun. Dari buku ini, tentunya saja belajar tentang sejarah Jepang. Seorang shogun pertama dari Kamkura Shogunate yang memerintah dari tahun 1192 sampai denagn 1199 sebelum masa Restorasi Meiji. Saya suka membaca novel sejarah karena membaca sejarah menjadi menyenangkan dan tidak membosankan. Akan tetapi, sayang sekali untuk buku ini, saya kurang menikmatinya. Saya merasa bahasanya kurang mengalir dan hal ini mungkin disebabkan kompleksitas sebuah kalimat. Sebagai contoh kalimat berikut:

Bagi dia yang memiliki bakat dagang, yang selau memepertaruhkan keberuntungan dengan berspekulasi namun akhirnya berhasil, rencana kali ini memang berjangka panjang tetapi dia percaya bahwa ini bukanlah hal yang terlalu sulit.

Buat saya, perlu berhari-hari menghabiskan buku ini, padahal dengan ketebalan yang sama bisanya saya bisa menghabiskannya dalam waktu sehari saja. Salah satu alasan lain, mengapa saya begitu lama melahap buku ini karena begitu banyak penamaan untuk satu orang karakter misalnya Pangeran Suke yang bernama panjang Uhyeo no Suke Yoritomo terkadang disebut sebagai Yoritomo. Begitupula dengan nama-nama karakter yang lainnya. Sehingga sedikit membingungkan. Memang,  seperti itulah penamaan orang dalam buku aslinya (budaya Jepang) . Akan tetapi, saya pernah membaca buku Sworldless Samurai yang menyederhanakan penyebutan dengan satu nama orang:Tadeyoshi, sehingga memudahkan saya dalam mencerna keseluruhan cerita, tanpa berkurangnya makna historikal yang terkandung. Karena terdapat sebuah catatan yang menjelaskan perubahan nama Tadeyoshi secara terpisah.

Namun, segala kekurangan yang dalam buku ini, tetap membuat buku ini layak untuk dibaca terutama untung orang yang menyukai novel-sejarah atau orang yang ingin menambah wawasan tentang kondisi Jepang di abad 1920an.

Advertisements
Tagged , ,

The Journeys: Kisah Perjalanan Para Pencerita

Judul : The Journeys: Kisah Perjalanan Para Pencerita
Penulis : Aditiya Mulya, Alexander Thian, Farida Susanti, Gama Harjono, Ferdiriva Hamzah, Okke ‘Sepatumerah’, Raditya Dika, Trinity, Valiant Budi, Ve Hanjono, Windy Ariestanty, Winna Efendi.
Penyunting : Resita Wahyu Febiratri
Pewajah Sampul :  Jeffri Fernando
ISBN : 9789797804817
Halaman : 243
Penerbit : Gagas Media
Cetakan : Cetakan kedua, 2011

Hal yang menarik dari melakukan perjalanan adalah menemukan.

Pada perjalanan yang panjang-panjang itu, dan mungkin juga singkat, kita hanya berharap menemukan. Menemukan sesuatu untuk di bawa pulang. Mungkin juga dikenang lalu diceritakan.

Buku ini, merupakan kisah dua belas orang penulis yang berasal dari latar belakang yang berbeda dengan gaya penulisan yang berbeda namun disatukan oleh perjalanan menemukan dalam  kisah perjalannya.  Membaca buku ini, membuat saya bepetualang, menjelajah berbagai tempat yang belum saya singgahi, mengetahui hal-hal baru, mengajak saya untuk menemukan.  Mulai dari menemukan wana Afrika dari kacamata seorang Aditya Mulya sampai dengan menemukan makna kata Sompral dari kisah perjalanan Okke “Sepatumerah’ ketika mengunjungi Pantai Kolbano dan makna keyakinan dari Valiant Budi ketikan menemukan sisi lain kota Mekah.  Saya menemukan berbagai fakta tak terduga: the truth behind free travelling dari Trinity dan beragam budaya setempat yang dikunjung baik itu di Swiss, Tel Aviv, juga  Spanyol, dan Mekah.

Dari berbagai perjalanan seperti perjalanannya  Gama Harjono, Alexander Thian ataupun Ve Handojo  saya menemukan peran dan arti sahabat sampai terwujudnya sebuah kisah perjalanan.  Maka, sungguh tak rugi sama sekali menjaga hubungan pertemanan, mungkin suatu hari nanti kita yang bisa berperan dalam kisah perjalanan teman kita yang lain atau mungkin justru teman atau sahabat kitalah yang memegang peranan yang penting dalam kisah petualangan kita.

Kemudian perjalanan menemukan “most of the time, beauty lies in the simplest of thigs” dari seorang Winna Efendi di Desa Air dan perjalanan Windy Ariestanty yang menemukan momen bahagia  di Luceme membuat saya ingin menemukan kebahagian dalam hal-hal kecil yang dijumpai saat perjalanan dan menerapkan tips Windy untuk ‘sejenak saja, berhenti berjalan. Tak perlu bergegas untuk menikmati secuil bahagia di kota ini’.

Menemukan hal tak terduga dari kepenasaran karena keberanian Farida Susanti dalam menyibak peta gelapnya. Menurutnya, peta dunia ini bekerja seperti game RPG. Kita bisa diam di suatu tempat dan dunia kita terbatas hanya sebesar itu, atau kita berjalan ke tempat-tempat yang belum pernah kita datangi dan melihat sibakan-sibakan kegelapan terbuka, lalu peta dunia kita tiba-tiba membesar.  Farida menemukan bahwa, “setelah mengadakan perjalanan itu, saya sadar bahwa dalam perjalanan, kamu meledakkan dua hal sekaligus, dunia luarmu dan di dunia di dalamu. Kamu melihat hal-hal nyata yang memang baru, sekaligus melihat sesuatu di dalam kepalamu juga. Saya sedang menyikap peta gelap saya dan tidak tahu apa yang akan ditemukan.” Dan saya menemukan bahwa menyikap peta gelap itu mengasyikkan karena  kita akan menemukan kejutan-kejutan, sesuatu hal yang  baru.

Ternyata, saya menemukan bahwa tak hanya sahabat ataupun teman yang bisa menjadi teman seperjalanan yang mengasyikkan. Mertua pun bisa menjadi teman seperjalanan yang menyenangkan, seperti halnya  yang dialami oleh Ferdirina Hamzah. “Travelling  yang asyik itu bukan masalah siapa teman seperjalanan kita, tapi bagaimana cara kita memandang travelling itu sendiri. By thinking positively, in every situation, you can enjoy the travelling itself, not fussing over whom you’re travelling with”. Senada dengan kisah Raditya Dika dalam menemukan kasih Ibu selama di Belanda. “Seharusnya, semakin tua umur kita, kita tidak semakin ingin mandiri dengan orang tua. Seharusnya, semakin tua umur kita, semakin kita dekat dengan orang tua.” Dan “Sesungguhnya, terlalu perhatiannya orangtua kita adalah gangguan terindah yang pernah bisa kita terima.”

Saya juga menemukan bahwa travelling bisa menjadi penyembuh jiwa yang efektif berkaca pada pengalaman Alexander Thian yang menemukan kembali hati yang damai dan plong  ketika menghabiskan liburan ke Karimun Jawa.

Banyak hal yang saya temukan dalam buku ini, namun adakalanya saya merasa kehilangan jejak dari benang merah proses menemukan dalam berbagai cerita di buku ini.

Akan tetapi, pada akhirnya buku ini sukses membuat saya sangat ingin untuk menemukan dalam kisah perjalanan yang saya lakukan sendiri. Seperti pesannya Windy di halaman pertama buku ini: Selamat menemukan!

Konon, bumi ini milik mereka yang berhenti sejenak untuk melihat-lihat lalu meneruskan perjalanannya –Anonymous-

Tagged , ,